Kenapa China disebut Tiongkok sering menjadi pertanyaan banyak orang di Indonesia. Terutama karena dalam bahasa Indonesia kita mengenal dua istilah berbeda: China dan Tiongkok. Padahal, keduanya merujuk pada negara yang sama. Perbedaan penyebutan ini bukan tanpa alasan, melainkan berkaitan erat dengan sejarah, bahasa, budaya, hingga dinamika politik yang terjadi selama ratusan tahun.
Di Indonesia, istilah Tiongkok dan Tionghoa digunakan secara resmi untuk menyebut negara dan etnis asal China. Namun, penggunaan kata China juga masih sangat umum, baik dalam percakapan sehari-hari maupun media internasional. Lalu, sebenarnya dari mana asal kata Tiongkok? Mengapa Indonesia memilih menggunakan istilah ini? Dan, apa bedanya dengan China?
Artikel ini akan membahas secara lengkap kenapa China disebut Tiongkok, mulai dari asal-usul katanya, sejarah penggunaannya di Indonesia, hingga alasan perubahan istilah secara resmi. Yuk, kita bahas satu per satu secara runtut dan mudah dipahami.
Untuk memahami kenapa China disebut Tiongkok, kita perlu melihat asal katanya terlebih dahulu. Kata Tiongkok berasal dari dialek Hokkien, salah satu dialek bahasa Tionghoa yang banyak digunakan oleh perantau asal China Selatan.
Dalam bahasa Mandarin, China disebut sebagai Zhōngguó (中国). Kata Zhōng (中) sendiri berarti tengah, sedangkan kata Guó (国) berarti negara
Secara harfiah, Zhōngguó berarti “Negara Tengah” atau “Negeri Tengah”. Konsep ini muncul dari pandangan masyarakat China kuno yang menganggap wilayah mereka sebagai pusat peradaban dunia.
Dalam dialek Hokkien, Zhōngguó diucapkan sebagai Tiongkok, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tiongkok. Dari sinilah istilah Tiongkok berasal.
Tue, 28 Apr 2026

Air China
Jakarta (CGK) ke Beijing (PEK)
Mulai dari Rp 4.033.800
Sat, 2 May 2026

Air China
Jakarta (CGK) ke Beijing (PEK)
Mulai dari Rp 4.033.800
Tue, 5 May 2026

Shandong Airlines
Jakarta (CGK) ke Beijing (PEK)
Mulai dari Rp 9.203.275
Kenapa China disebut Tiongkok di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah migrasi dan interaksi budaya. Sejak berabad-abad lalu, banyak pendatang dari China Selatan datang ke Nusantara untuk berdagang dan menetap. Mereka membawa bahasa, budaya, dan sistem penamaan sendiri.
Mayoritas perantau Tionghoa awal di Indonesia menggunakan dialek Hokkien. Karena itu, penyebutan negara asal mereka sebagai Tiongkok menjadi lebih umum di kalangan masyarakat lokal. Istilah ini kemudian digunakan dalam literatur, surat kabar, dan dokumen resmi pada masa kolonial Belanda.
Pada masa Hindia Belanda, istilah Tiongkok dan Tionghoa digunakan secara luas dan dianggap netral serta sopan. Bahkan, organisasi-organisasi peranakan Tionghoa juga menggunakan istilah tersebut dalam nama resminya.
Di sisi lain, istilah China berasal dari penyebutan Barat. Kata China diyakini berasal dari Dinasti Qin (dibaca: Chin) yang pernah berkuasa pada abad ke-3 SM. Nama Qin kemudian menyebar melalui Jalur Sutra dan digunakan oleh bangsa Barat untuk menyebut wilayah tersebut.
Karena pengaruh kolonialisme dan globalisasi, istilah China menjadi standar internasional dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa lain. Inilah sebabnya, dalam konteks global, kata China lebih sering digunakan dibanding Tiongkok.
Namun, di Indonesia, penggunaan istilah China memiliki sejarah yang lebih sensitif, terutama karena pernah dikaitkan dengan stigma dan diskriminasi.
Untuk memahami kenapa China disebut Tiongkok, kita juga perlu melihat perjalanan istilah ini dalam sejarah Indonesia. Pada awal abad ke-20, istilah Tiongkok (untuk negara) dan Tionghoa (untuk etnis) digunakan secara resmi dan luas.
Namun, pada masa Orde Baru, terjadi perubahan kebijakan bahasa. Pemerintah saat itu mengganti istilah Tiongkok dan Tionghoa menjadi Cina. Sayangnya, dalam praktik sosial, istilah Cina sering digunakan secara peyoratif dan bernuansa negatif.
Akibatnya, kata tersebut menimbulkan luka historis bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Setelah era reformasi, pemerintah mulai mengoreksi kebijakan ini.
Pada tahun 2014, pemerintah Indonesia secara resmi mengembalikan penggunaan istilah Tiongkok dan Tionghoa melalui Keputusan Presiden. Sejak saat itu, Tiongkok digunakan untuk menyebut negara (People’s Republic of China), dan Tionghoa digunakan untuk menyebut etnis atau keturunan China
Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, identitas budaya, serta untuk menghilangkan konotasi negatif yang melekat pada istilah sebelumnya. Inilah salah satu alasan penting kenapa China disebut Tiongkok dalam konteks resmi di Indonesia saat ini.
Masih banyak orang yang tertukar antara Tiongkok dan Tionghoa. Padahal, keduanya memiliki arti yang berbeda. Tiongkok merujuk nama negara, sedangkan Tionghoa merupakan sebutan untuk etnis atau orang keturunan China.
Perbedaan ini penting agar penggunaan istilah menjadi lebih tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Meski istilah China umum digunakan secara internasional, Indonesia memilih menggunakan Tiongkok dalam konteks resmi karena alasan historis dan budaya. Penggunaan istilah lokal yang berasal dari dialek Hokkien dianggap lebih sesuai dengan sejarah interaksi Indonesia dan komunitas Tionghoa.
Selain itu, penggunaan kata Tiongkok juga menjadi simbol penghormatan terhadap identitas dan keberagaman budaya di Indonesia. Meski begitu, penggunaan kata China dalam percakapan informal atau konteks internasional tetap dianggap wajar.
Saat ini, media nasional, buku pelajaran, dan dokumen pemerintahan di Indonesia dianjurkan menggunakan istilah Tiongkok dan Tionghoa. Hal ini bertujuan untuk membiasakan penggunaan istilah yang lebih tepat dan beretika.
Di dunia pendidikan, pemahaman tentang kenapa China disebut Tiongkok juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran sejarah dan budaya, agar generasi muda memahami konteksnya secara utuh, bukan sekadar hafalan istilah.
Menariknya, istilah Tiongkok memang lebih khas digunakan di Indonesia dan beberapa wilayah Asia Tenggara. Negara lain umumnya menggunakan versi Mandarin (Zhongguo) atau versi Barat (China).
Hal ini menunjukkan bagaimana bahasa berkembang sesuai dengan konteks budaya dan sejarah masing-masing negara. Indonesia memiliki jalur sejarah yang unik dengan komunitas Tionghoa, sehingga istilah yang digunakan pun berbeda.
Memahami kenapa China disebut Tiongkok bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga soal sejarah, identitas, dan rasa saling menghormati. Bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap kelompok tertentu.
Dengan memahami latar belakang istilah Tiongkok, kita bisa menggunakan bahasa secara lebih bijak dan sensitif terhadap konteks sosial dan sejarah.
Kenapa China disebut Tiongkok di Indonesia berakar dari sejarah panjang interaksi budaya, bahasa, dan politik. Saat ini, Tiongkok menjadi istilah resmi yang digunakan pemerintah Indonesia untuk menyebut negara China, sementara Tionghoa digunakan untuk menyebut etnisnya. Dengan memahami asal-usul dan maknanya, kita tidak hanya belajar soal bahasa, tetapi juga tentang sejarah dan keberagaman yang membentuk Indonesia hingga hari ini.
Rencanakan perjalanan liburanmu ke China dengan baik agar pengalaman menjadi lebih seru dan menyenangkan. Pastikan semua kebutuhan perjalanan terpenuhi dengan mudah melalui aplikasi Traveloka. Mulai dari pesan tiket pesawat untuk keberangkatan yang nyaman, booking hotel sesuai budget dan preferensimu, hingga membeli tiket wahana rekreasi dan atraksi.










