IDR
Pay
Log In
Daftar
traveloka
Explore
0
Selalu Tahu Kabar Terbaru
Dapatkan berbagai rekomendasi travel & gaya hidup serta info promo terkini dengan berlangganan newsletter kami.
Langganan

Nida Amalia

10 Feb 2020 - 4 min read

Review Film Little Women: Adaptasi Klasik yang Spektakuler

Oleh Candra Aditya (Kocan)

Greta Gerwig sekarang menjadi nama yang diperbincangkan, terutama setelah kemarin namanya tidak masuk ke daftar nominasi Sutradara Terbaik untuk Oscar tahun ini. Setelah apa yang dilakukannya melalui adaptasi terbaru Little Women dari Louisa May Alcott yang terkenal, tidak heran banyak orang heran kenapa nama Greta Gerwig tidak masuk nominasi.

Little Women versi terbaru ini masih sama dengan adaptasi film-film sebelumnya. Tentu saja jika Anda mengadaptasi sebuah novel terkenal yang sudah digandrungi oleh banyak orang, Anda tidak bisa merubah inti dari ceritanya. Karena itulah apa yang dilakukan Greta Gerwig sebagai sutradara dan penulis film ini lumayan dianggap radikal: dia membuat Little Women tetap menjadi sangat relevan di jaman sekarang.

Greta Gerwig membuat kisah ini menjadi tidak hanya tentang hubungan persaudaraan dan dinamika keluarga, tapi juga tentang perempuan, arti hidup bagi perempuan, arti kesuksesan bagi perempuan, arti materi bagi perempuan. Singkatnya, Little Women versi baru ini lumayan feminis.

Dalam film ini Jo March diperankan oleh Saoirse Ronan, kembali berkolaborasi dengan Gerwig setelah Lady Bird. Jo March adalah karakter sentral dalam film ini. Karakternya digambarkan sebagai seorang penulis dalam keluarga March. Kemudian ada Meg March (Emma Watson), seorang gadis yang ingin menjadi bintang panggung. Ada Beth (Eliza Scanlen, diculik dari miniseri HBO, Sharp Objects) yang tidak bisa diam ketika melihat piano. Dan yang terakhir ada Amy (Florence Pugh, mendapatkan nominasi Oscar pertamanya melalui film ini) yang dengan beraninya berteriak lantang, “Aku mau menjadi hebat atau tidak sama sekali”.

Film ini terlihat sangat sederhana melalui kisah empat bersaudara dengan ibu mereka. Tapi kenyataannya, yang ditawarkan Greta Gerwig dalam versi terbaru ini jauh lebih kompleks dan menggebu-gebu. Karena Gerwig tahu, sudah ada begitu banyak versi Little Women di luar sana, banyak yang perlu ia lakukan di Little Women versinya sendiri.

Little Women sebelum-sebelumnya mempunyai cara bertutur yang sangat konvensional. Semuanya linear. Semuanya berjalan dengan lurus sesuai dengan apa yang ditulis oleh Louisa May Alcott di bukunya. Dalam Little Women versi Gerwig ini, dia merubah cara bertutur para pemainnya.

Dia menggunakan cara bertutur tidak linear untuk membuat cerita yang sudah familiar ini menjadi lebih fresh. Usahanya berhasil karena kini cerita tentang March Bersaudara ketika mereka masih muda menjadi sebuah nostalgia yang tidak terelakkan. Sementara, kisah mereka ketika sudah menjadi dewasa dan menghadapi pahit manisnya kehidupan menjadi sebuah potret realita.

Dua hal kontras ini kemudian dijahit manis oleh editor Nick Houy menjadi satu kesatuan yang sangat koheren. Houy berhasil membuat film berdurasi 135 menit terasa seperti satu jam. Semuanya berjalan dengan sangat cepat tapi tanpa meninggalkan esensi momen atau emosi yang dibutuhkan untuk membuat penonton merasakan sedih, senang, bahagia, kecewa atau bahkan marah.

Secara presentasi pun visual Little Women Greta Gerwig jauh lebih mengalir dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Karena Gerwig tersadar bahwa kisah ini dibintangi oleh empat bersaudara yang mempunyai mimpi masing-masing dengan semangat liar membara, dia membuat blocking adegan seperti sebuah tarian balet. Tak kurang, kamera Yorick Le Saux mengikuti gerakan karakternya dengan lincah.

Bahkan ketika ada tujuh karakter utama dalam satu layar, dan mereka semuanya berbicara dengan semangat, penonton tetap fokus dengan adegan yang ada di layar. Tidak ada satu pun yang tertinggal, tidak ada satu pun yang tidak penting.

Satu lagi, keputusan untuk membuat adegan-adegan kanak-kanak berwarna kuning keemasan dan adegan-adegan ketika mereka sudah dewasa agak kebiruan, membuat Little Women terasa seperti nostalgia tapi juga sesuatu yang sangat modern pada saat yang bersamaan.

Gerakan para aktor dalam Little Women terasa begitu liar dan enak dilihat karena setiap departemen dalam film ini menjalankan tugasnya dengan baik. Desain produksinya benar-benar terbaik untuk menampilkan kesan retro yang alami.

Kemudian, kostum dari Jacqueline Durran juga membuat karakter-karakter dalam film ini meletup-letup. Selain setiap wardrobe dari karakternya mempunyai kepribadian yang sesuai dengan karakter mereka, Durran juga membuat kostum tersebut seluwes gerakan karakter-karakternya. Sehingga ketika mereka bergerak, mereka berlari, mereka menari, semuanya terlihat sangat indah.

Hal radikal kedua yang dibuat oleh Greta Gerwig dan sering dilupakan oleh film-film sebelumnya adalah memanusiakan karakter Amy. Dalam Little Women, semua orang tahu bahwa ada cinta segitiga antara Jo, Amy, dan Laurie (Timothee Chalamet). Di sini, Gerwig menunjukkan magicnya. Dia tahu bagaimana cara membuat Amy menjadi stand out.

Dia tahu bagaimana membuat apa yang keluar dari mulut Amy terdengar pintar dan bukannya sengak. Dia juga tahu bagaimana cara membuat karakter yang sering dibenci oleh banyak orang menjadi bisa dipahami. Keputusan ini akhirnya membuat Little Women menjadi lebih nyaman untuk dinikmati.

Hal radikal terakhir yang disuntikkan Greta Gerwig ke dalam Little Women baru ini untuk menjadikannya salah satu film terbaik adalah dia memberikan film ini statement. Banyak orang yang tahu bahwa ada banyak kesamaan antara Louisa May Alcott dan karakter Jo March yang ia tulis. Gerwig menyambungkan keduanya. Fiksi dan realita menyatu jadi satu. Akibatnya adalah sebuah tokoh sentral yang sangat bisa dipahami.

Karena Gerwig sendiri adalah penulis perempuan yang juga berkecimpung di sebuah industri yang kebanyakan adalah pria, dia tahu bagaimana rasanya berjuang, berkorban, dan berkompromi. Itulah sebabnya Little Women versi Gerwig menjadi penuh dengan kobaran api.

Penonton diberikan informasi tentang pentingnya mencari suami yang kaya, karena perempuan tidak diperbolehkan bekerja. Penonton juga diberikan informasi tentang betapa banyaknya aturan menjadi perempuan di zaman itu serta bagaimana berkompromi dalam konteks kesenian.

Tambahan hal-hal ini membuat Little Women terasa lebih dari sekedar film adaptasi. Gerwig membuat kisah yang sudah berumur ratusan tahun ini tetap terasa relevan di jaman sekarang. Tak dipungkiri, itu adalah sebuah hasil yang luar biasa.

Little Women tidak akan menjadi sebuah tontonan keluarga spektakuler penuh dengan tawa dan tangisan kalau bukan karena pemainnya yang luar biasa. Film ini diisi barisan pemain yang semuanya benar-benar mengisi satu sama lain.

Laura Dern memberikan sosok ibu yang lebih kuat dan lebih hangat. Timothee Chalamet akan membuat Anda merasakan cinta. Tak hanya itu, kolaborasi Saoirse Ronan, Florence Pugh, Eliza Scanlen dan Emma Watson akan membuat Anda percaya bahwa mereka adalah saudara. Keakraban mereka terasa tulus. Hubungan mereka seperti sebuah kenyataan.

Menyaksikan Little Women terasa seperti sebuah pelukan hangat dari orang yang terkasih. Ini adalah hadiah bagi pecinta film mana saja. Keahlian Greta Gerwig merangkum semua ke dalam satu film bisa saja tidak diapresiasi oleh Oscar, tapi waktu akan menjadi saksi dia akan menjadi bahasan karena sukses mengemas Little Women.

Little Women sangat cocok ditonton tak hanya bagi wanita, tapi bagi semua orang untuk tahu arti emansipasi. Tonton film ini di bioskop terdekat kesayangan Anda dan pesan tiketnya di bawah ini:

Little Women

Movie Traveloka Xperience