
Apa itu SAF menjadi pertanyaan yang semakin sering muncul seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap energi hijau dan penurunan emisi karbon. SAF adalah singkatan dari Sustainable Aviation Fuel, yaitu bahan bakar pesawat yang diproduksi dari sumber terbarukan seperti minyak nabati, limbah pertanian, biomassa, sampah organik, hingga teknologi sintetis berbasis CO₂. SAF dirancang untuk menjadi pengganti sebagian atau keseluruhan bahan bakar fosil dalam industri penerbangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, SAF menjadi topik penting karena industri penerbangan merupakan salah satu sektor dengan emisi karbon terbesar di dunia. Penerbangan komersial membutuhkan energi tinggi, dan SAF hadir sebagai solusi realistis untuk mengurangi dampak lingkungan tanpa harus mengubah struktur pesawat secara besar-besaran. Itulah sebabnya banyak maskapai global, bandara internasional, hingga regulator seperti ICAO dan IATA mulai mendorong penggunaan SAF secara bertahap.
SAF merupakan bahan bakar penerbangan yang memiliki karakteristik mirip dengan Jet A-1 (bahan bakar fosil yang digunakan pesawat komersial) namun diproduksi dari sumber terbarukan. Tujuannya adalah menghasilkan bahan bakar yang dapat digunakan langsung pada pesawat tanpa mengubah mesin atau infrastruktur bandara, konsep ini disebut drop-in fuel.
Yang membuat SAF berbeda adalah siklus karbonnya. Jika bahan bakar fosil mengambil karbon dari dalam bumi, SAF berasal dari karbon yang sudah berada di atmosfer melalui proses fotosintesis, limbah, atau proses penangkapan karbon. Secara teori, penggunaan SAF dapat mengurangi emisi hingga 60% hingga 80% dibanding bahan bakar konvensional, tergantung bahan baku dan proses produksinya.
SAF diakui secara global sebagai salah satu solusi transisi untuk mencapai target Net Zero Carbon Emission pada tahun 2050.
Pengembangan SAF dimulai sekitar tahun 2000-an ketika industri penerbangan mulai menyadari bahwa emisi karbon mereka meningkat drastis seiring bertambahnya jumlah penerbangan. Krisis iklim global memaksa industri mencari alternatif bahan bakar yang tidak hanya efisien tetapi juga ramah lingkungan.
Pada 2008, maskapai Virgin Atlantic melakukan penerbangan komersial pertama menggunakan campuran biofuel. Beberapa tahun setelahnya, FAA dan ICAO mulai mengeluarkan standar produksi dan sertifikasi untuk berbagai metode pembuatan SAF. Kini, lebih dari 40 maskapai dunia telah melakukan penerbangan komersial menggunakan SAF secara terbatas.
Perkembangan pesat teknologi produksi membuat SAF menjadi lebih mudah diakses. Namun, volume produksinya masih rendah sehingga harganya relatif tinggi dibanding bahan bakar fosil.
Menjawab pertanyaan apa itu SAF juga berarti memahami apa saja sumber bahan baku yang dapat digunakan untuk membuatnya. Berikut beberapa jenis bahan baku yang dapat diproduksi menjadi SAF.
Minyak nabati dan lemak hewani jadi salah satu bahan baku yang bisa diolah menjadi SAF. Termasuk di antaranya minyak jelantah, minyak kelapa sawit bersertifikasi ramah lingkungan, minyak kedelai, tallow, dan lemak dari industri makanan. Namun penggunaannya harus memperhatikan aspek keberlanjutan agar tidak menyebabkan deforestasi.
Jerami padi, limbah jagung, serbuk kayu, hingga residu tebu dapat diolah menjadi biofuel melalui proses kimia dan fermentasi.
Tak hanya nabati dan limbah pertanian, sampah kota juga bisa diolah menjadi SAF. Teknologi modern memungkinkan sampah organik dan plastik tertentu diubah menjadi SAF menggunakan proses gasification.
Teknik sintetis menggunakan CO₂ dari udara dan hidrogen dari energi terbarukan (green hydrogen). SAF jenis ini disebut e-fuel atau synthetic fuel dan dianggap paling potensial untuk masa depan.
Salah satu poin penting dalam menjelaskan apa itu SAF adalah bagaimana bahan bakar ini dapat digunakan tanpa memodifikasi mesin pesawat.
SAF yang telah mendapatkan sertifikasi internasional, seperti ASTM D7566, memiliki spesifikasi yang kompatibel dengan Jet A-1. Dengan kata lain, pesawat dapat menggunakan SAF campuran (blended) tanpa harus mengubah mesin, sistem bahan bakar, atau infrastruktur bandara. Inilah alasan SAF disebut drop-in replacement.
Biasanya, SAF digunakan dalam campuran 10%–50% dengan Jet A-1, tetapi pengembang teknologi menargetkan produk SAF 100% yang dapat digunakan tanpa campuran bahan bakar fosil.
Dari sisi performa, SAF memiliki kualitas pembakaran yang bahkan lebih bersih, sehingga mampu mengurangi emisi partikulat dan sulfur.
Baca juga: Tiket Pesawat Murah Hari Apa?
Banyak regulator dunia mendorong SAF karena manfaatnya sangat signifikan bagi lingkungan dan industri. Di bawah ini beberapa manfaat penggunaan SAF yang perlu kamu ketahui.
1. Mengurangi Emisi Karbon
Dengan menggunakan SAF pada industri penerbangan, emisi CO₂ dapat berkurang hingga 80% sepanjang siklus hidupnya, membuatnya menjadi solusi paling efektif saat ini untuk penerbangan jarak jauh.
2. Mengurangi Polusi Udara
Dengan berkurangnya emisi karbon, polusi udara juga dapat berkurang. Pembakaran SAF menghasilkan lebih sedikit sulfur, nitrogen oksida, dan partikulat.
3. Mendukung Target Net-Zero 2050
Industri penerbangan global telah berkomitmen mengurangi emisi, dan SAF menjadi komponen paling utama dalam strategi ini, bersama efisiensi pesawat dan teknologi green airport.
4. Mendukung Ekonomi Sirkular
Bahan baku berupa sampah, limbah minyak, atau residu pertanian dapat diolah menjadi energi bernilai tinggi.
Memahami apa itu SAF berarti memahami peran besar bahan bakar berkelanjutan dalam masa depan industri penerbangan. SAF bukan hanya alternatif, tetapi solusi nyata untuk mengurangi emisi karbon tanpa mengubah struktur pesawat atau mengganggu operasional maskapai. Dengan kemampuan mengurangi emisi hingga 80%, SAF menjadi langkah penting dalam mencapai target penerbangan hijau global.
Jangan lupa untuk selalu pakai Traveloka saat perjalanan ke luar kota hingga luar negeri. Kamu bisa pesan tiket pesawat, tiket kereta api, shuttle bus, hingga booking hotel dengan satu aplikasi saja! Kamu juga bisa memesan tiket atraksi wisata di destinasi tujuan dengan mudah. Dapatkan harga terbaik dan buat perjalananmu lebih praktis!









