
Kalau benteng-benteng di Indonesia bagian Timur lahir dari perebutan rempah antarbangsa Eropa, Benteng Van der Capellen di Batusangkar punya asal-usul yang berbeda: ia lahir dari konflik internal masyarakat Minangkabau sendiri, antara Kaum Adat dan Kaum Agama, yang justru membuka pintu masuk bagi kolonial Belanda ke jantung Sumatera Barat.
Berdiri kokoh di pusat Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, benteng ini kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling mudah diakses di kawasan Luhak Nan Tuo, sekaligus pengingat betapa rumitnya jalan yang mengantarkan Belanda menguasai wilayah pedalaman Minangkabau.
Baca Juga: Desa Wisata Tabek Patah dan Keunikannya
Cikal bakal benteng ini bermula dari konflik yang memuncak sekitar 1821 antara Kaum Adat dan Kaum Agama (Padri) di Tanah Datar. Semua dipicu perdebatan sengit soal praktik-praktik seperti judi, minuman keras, dan sabung ayam yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam oleh kaum Padri. Ketegangan ini berkembang menjadi konflik terbuka, hingga Kaum Adat meminta bantuan Belanda yang saat itu sudah berada di Padang.
Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Raff kemudian memasuki Tanah Datar dan memilih lokasi tertinggi di pusat kota Batusangkar untuk membangun benteng pertahanan permanen. Pembangunan dimulai pada 1824 dan rampung sekitar empat tahun kemudian. Nama benteng ini diambil dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen. Keberadaan benteng ini pada akhirnya justru mempermudah Belanda secara politis dan militer untuk menguasai kawasan Tanah Datar dan sekitarnya, jauh melampaui tujuan awal meredam konflik Kaum Adat dan Kaum Agama.
Baca juga: 8 Rekomendasi Wisata Batusangkar Terpopuler
Benteng Van der Capellen berada tepat di jantung Kota Batusangkar, hanya sekitar 350 meter dari Lapangan Cindua Mato dan sekitar 1,1 kilometer dari pusat kota. Lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau kendaraan pribadi maupun umum.
Dari Kota Padang, jarak tempuhnya sekitar 107 kilometer atau kurang lebih 2,5 jam berkendara melalui jalur Padang-Bukittinggi-Batusangkar. Bandara terdekat adalah Bandara Internasional Minangkabau (BIM), dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2,5 jam ke Batusangkar tergantung kondisi lalu lintas.
Benteng Van der Capellen buka setiap hari mulai pukul 09.30 hingga 17.30 WIB, kecuali hari Jumat. Ada pula agenda khusus setiap Minggu pagi, yakni Pasar Van der Capellen, pasar kuliner yang digelar di dalam kawasan benteng dari pukul 07.00 hingga 12.00 WIB.
Harga tiket masuk ke benteng ini cukup terjangkau, sekitar Rp10.000 per orang. Khusus untuk berbelanja di Pasar Van der Capellen setiap Minggu, transaksi tidak menggunakan uang tunai biasa, melainkan koin khusus seharga Rp2.500 per keping yang bisa ditukarkan di meja penukaran dekat pintu masuk.
Sebagai destinasi wisata sejarah yang sudah direnovasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar pada 2008-2009, kawasan ini cukup nyaman dijelajahi, lengkap dengan area terbuka mirip taman di dalam kompleks benteng, cocok untuk bersantai sambil menikmati suasana kota tua.
Bangunan utama benteng berukuran sekitar 14 x 12 meter dengan dinding tebal sekitar 42 sentimeter dan gerbang masuk besar berbentuk lengkung, menampilkan gaya arsitektur pertahanan kolonial khas awal abad ke-19.
Dua meriam sepanjang dua meter berdiri di sisi pintu masuk benteng, menambah kesan historis dan militeristik yang jadi favorit spot foto pengunjung.
Berbeda dari kebanyakan benteng yang terasa kaku, kompleks Benteng Van der Capellen justru menawarkan suasana lebih santai, mirip taman kota, sehingga cocok dikunjungi bersama keluarga sambil bersantai.
Setiap Minggu, kawasan benteng berubah menjadi pusat kuliner khas Minang dengan sistem pembayaran koin unik, menjadikan kunjunganmu lebih dari sekadar wisata sejarah semata.
Benteng ini jadi titik awal yang pas untuk memahami bagaimana konflik internal Minangkabau justru membuka jalan bagi kekuasaan Belanda di Sumatera Barat.
Kombinasi dinding tebal, gerbang lengkung, dan meriam tua menjadikan benteng ini lokasi foto yang instagramable, apalagi dengan suasana taman yang asri di sekitarnya.
Jika waktu kunjunganmu bertepatan dengan hari Minggu pagi, jangan lewatkan kesempatan berburu jajanan khas Minang menggunakan koin unik pasar ini.
Karena letaknya masih satu kawasan wisata Tanah Datar, banyak wisatawan menggabungkan kunjungan ke benteng ini dengan Istano Basa Pagaruyung, istana adat Minangkabau yang megah dan tak kalah populer.
Emersia Hotel And Resort Batusangkar menawarkan pengalaman menginap yang lebih mewah dengan kolam renang outdoor dan spa lengkap, cocok untuk kamu yang ingin healing sekaligus menjelajahi wisata sejarah Batusangkar.
Emer One Moslem Friendly Hotel Batusangkar menjadi pilihan tepat bagi kamu yang mencari kenyamanan menginap dengan konsep ramah muslim di tengah kota Batusangkar.
Hotel Satria Syariah Batusangkar adalah pilihan praktis dan terjangkau bagi wisatawan yang ingin menghemat anggaran tanpa mengorbankan kenyamanan selama menjelajahi Tanah Datar.
*Perlu diketahui bahwa seluruh harga yang tertera dapat berubah sewaktu-waktu tergantung musim, ketersediaan kamar, dan kebijakan masing-masing hotel.
Benteng Van der Capellen membuktikan bahwa jejak kolonial di Indonesia tak selalu lahir dari perebutan rempah di kepulauan timur, tapi juga bisa berakar dari dinamika konflik internal masyarakat lokal sendiri di pedalaman Sumatera. Kombinasi nilai sejarah, arsitektur kokoh, dan suasana taman yang santai menjadikan benteng ini destinasi yang layak masuk itinerary liburanmu ke Tanah Datar.
Jadi tunggu apalagi? Yuk, rencanakan semua perjalananmu ke Sumatera Barat dengan satu aplikasi mudah, Traveloka. Kamu bisa mulai riset dan membandingkan beragam hotel dan reservasi hotel, membeli tiket pesawat atau tiket bus & shuttle. Jangan lupa, selalu cek promo yang selalu hadir dan tersedia agar liburan kamu semakin hemat, mulai dari Promo BCA, Kode Kupon Traveloka, dan Promo Bank Traveloka.







