
Banyuwangi, wilayah yang dijuluki The Sunrise of Java, memiliki kelompok etnis asli yang menjaga tradisi mereka dengan sangat teguh: Suku Osing. Sebagai keturunan dari Kerajaan Blambangan, masyarakat Osing mewariskan identitas arsitektur yang sangat unik dan cerdas, yakni Rumah Adat Osing. Bangunan ini bukan sekadar hunian, melainkan manifestasi dari cara pandang hidup masyarakat Osing yang egaliter, terbuka, namun sangat waspada terhadap kondisi alam sekitarnya.
Lanskap geografis Banyuwangi yang berada di bawah bayang-bayang Gunung Ijen dan Gunung Raung—wilayah yang secara geologis sangat aktif—membuat masyarakat Osing menciptakan konstruksi yang resilien. Rumah Adat Osing dibangun dengan sistem knock-down (bongkar pasang) yang sangat fleksibel. Material utamanya menggunakan kayu kualitas tinggi seperti kayu jati atau kayu serat padat lainnya, dengan atap genteng tanah liat yang berat untuk memberikan stabilitas. Bagi masyarakat Osing, rumah adalah cerminan martabat keluarga; tempat di mana ritual adat Mepe Kasur dilaksanakan dan kehangatan kopi sejati disuguhkan.

Glagah

Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center

8.6/10
•




Glagah
Rp 568.769
Berikut adalah bedah teknis dan filosofis yang menjadikan Rumah Osing sebagai mahakarya vernakular di ujung timur Jawa:
Rumah Osing dibedakan berdasarkan jumlah bidang atap (rabung) yang dimiliki, yang mencerminkan status dan fungsi bangunan:
Salah satu keajaiban teknis Rumah Osing adalah tidak digunakannya paku besi. Seluruh kerangka rumah dihubungkan menggunakan sistem lubang dan pasak kayu yang disebut penitih. Sistem ini memungkinkan rumah untuk "bergoyang" secara elastis saat terjadi gempa bumi tanpa risiko patah atau runtuh. Inilah teknologi mitigasi bencana tradisional yang sangat efektif.
Di tengah bangunan utama terdapat empat tiang besar yang disebut Soko Guru. Keempat tiang ini melambangkan empat arah mata angin dan keseimbangan hidup penghuninya. Kekuatan Rumah Osing bertumpu pada keselarasan antara tiang-tiang ini dengan balok melintang yang disebut suwunan.
Interior Rumah Osing mencerminkan keterbukaan sosial masyarakatnya:
Rumah Osing secara tradisional dibangun menghadap ke arah jalan, namun Pawon atau dapur selalu mendapat perhatian khusus. Dapur orang Osing biasanya luas karena di sanalah interaksi sosial paling intim terjadi, mulai dari memasak hidangan ritual hingga menjamu kerabat dekat di samping tungku api (luweng).
Untuk merasakan langsung suasana otentik kehidupan Suku Osing, berikut rekomendasi lokasi terbaik:
Tue, 8 Sep 2026

Super Air Jet
Jakarta (CGK) ke Banyuwangi (BWX)
Mulai dari Rp 1.732.900
Sat, 26 Sep 2026

Wings Air
Surabaya (SUB) ke Banyuwangi (BWX)
Mulai dari Rp 1.111.400
Wed, 9 Sep 2026

Wings Air
Lombok (LOP) ke Banyuwangi (BWX)
Mulai dari Rp 1.068.600
Menikmati eksotisme ujung timur Jawa kini jauh lebih mudah dengan layanan terintegrasi dari Traveloka.
Tiket Pesawat: Terbanglah menuju Bandara Internasional Banyuwangi (BWW). Desain bandara ini sendiri mengadopsi konsep rumah adat Osing yang sejuk dan tanpa AC! Cek Traveloka untuk promo harian.
Hotel & Akomodasi: Mulai dari resort mewah dengan arsitektur Osing hingga homestay ramah di Desa Kemiren melalui Traveloka. Manfaatkan fitur Easy Reschedule untuk fleksibilitas maksimal.
Traveloka Xperience: Pesan layanan Sewa Mobil di Traveloka untuk perjalanan dari kota Banyuwangi menuju Desa Kemiren atau kaki Gunung Ijen dengan supir lokal yang berpengalaman.
Keunggulan Traveloka: Nikmati kemudahan pembayaran via PayLater, transfer bank, atau kartu kredit. Dapatkan juga Promo Pengguna Baru untuk liburan budaya yang lebih hemat dan tenang!

Licin

Tur Kawah Ijen

9.5/10
Licin
Rp 350.000
Rp 225.000










