
Bayangkan sebuah malam di pesisir Kepulauan Sangihe, di mana deburan ombak Laut Sulawesi berpadu dengan tabuhan genderang bertalu-talu. Di tengah temaram lampu dan aroma harum masakan tradisional, ribuan orang berkumpul dengan khidmat. Inilah atmosfir magis Upacara Tulude, sebuah hajatan spiritual yang melampaui sekadar perayaan tahun baru.
Tulude berasal dari kata Suhude dalam bahasa Sangihe yang berarti melepaskan, menolak, atau mendorong. Secara harfiah, ritual ini merupakan simbol untuk melepaskan segala hal buruk di tahun yang lewat. Masyarakat bersiap menerima lembaran baru dengan hati yang murni dan penuh harapan akan keselamatan.
Secara historis, Tulude telah eksis sejak berabad-abad silam, jauh sebelum pengaruh agama samawi masuk secara masif ke wilayah Nusa Utara. Dahulu, ritual ini merupakan bentuk penyembahan kepada entitas tertinggi yang mereka sebut Ghenne Pandulu. Bagi suku Sangihe, harmoni kehidupan bergantung pada keseimbangan hubungan antara manusia dan penciptanya.
Konteks geografis Sangihe sebagai daerah kepulauan yang rawan bencana laut menjalin keterikatan kuat antara penduduk dengan kekuatan alam. Tulude menjadi benteng spiritual bagi para pelaut dan petani. Dalam peta budaya Indonesia, Tulude berdiri sebagai salah satu identitas paling menonjol dari Sulawesi Utara yang mencerminkan gotong royong.
Kini, Tulude bukan hanya milik masyarakat Sangihe di tanah asal. Diaspora Sangihe di berbagai penjuru dunia tetap melestarikan tradisi ini sebagai pengikat batin terhadap tanah leluhur. Upacara ini telah bertransformasi menjadi festival budaya besar yang menarik perhatian peneliti antropologi dan wisatawan mancanegara.

Tahuna

TAHUNA BEACH HOTEL AND RESORT

9.2/10
Tahuna
Rp 1.050.667
Rp 788.000
Dalam kosmologi kuno Sangihe, alam semesta diatur oleh kekuatan transenden yang memberikan kehidupan melalui hasil laut dan bumi. Tulude merupakan jembatan komunikasi antara dunia profan dan dunia sakral. Setiap doa yang dipanjatkan bukan sekadar kata-kata, melainkan mantra untuk menjaga stabilitas semesta agar terhindar dari marabahaya.
Benda paling ikonik dalam Tulude adalah Kue Tamo, sebuah penganan raksasa berbentuk kerucut yang melambangkan gunung dan kemakmuran. Kue ini terbuat dari beras ketan, santan, dan gula merah. Bentuk kerucutnya merepresentasikan strata kehidupan dan rasa hormat kepada yang di atas, sekaligus simbol persatuan masyarakat yang mengakar kuat.
Peserta upacara mengenakan Laku Tepu, pakaian adat berbahan serat kofaba yang kini sering diganti dengan kain sutra atau katun berwarna cerah. Warna kuning keemasan mendominasi, melambangkan kemuliaan dan kejayaan. Penggunaan ikat kepala atau Paporong menandakan kesiapan mental dan pikiran untuk menghadapi tantangan hidup di masa depan.
Keabsahan ritual Tulude sangat bergantung pada kehadiran para Meghatung, yaitu tokoh adat yang memiliki otoritas spiritual tinggi. Mereka bertugas memimpin doa dan membacakan silsilah leluhur. Peran pemuda juga krusial sebagai penari dan penabuh musik, menunjukkan regenerasi nilai budaya yang terus mengalir tanpa putus di setiap generasi.
Sasambo adalah seni vokal tradisional yang mengandung petuah, pujian, dan sejarah yang dilantunkan secara komunal. Melalui Sasambo, nilai-nilai etis disemai kepada penonton. Liriknya yang puitis dalam bahasa Sangihe kuno menciptakan getaran emosional yang menyatukan seluruh hadirin dalam satu frekuensi spiritual yang mendalam dan sangat menyentuh hati.
Meskipun berakar dari tradisi animisme kuno, Tulude saat ini telah berakulturasi dengan nilai-nilai agama Kristen dan Islam yang dianut masyarakat lokal. Doa-doa adat kini bersanding selaras dengan doa-doa keagamaan. Hal ini menjadikan Tulude sebagai simbol toleransi luar biasa di Sulawesi Utara, di mana perbedaan keyakinan justru memperkaya ritus syukur.
Prosesi diawali dengan tahap persiapan atau Pra-Upacara yang dilakukan berminggu-minggu sebelumnya. Masyarakat bergotong royong menyiapkan bahan-bahan Kue Tamo yang harus murni dan berkualitas terbaik. Para tetua adat melakukan meditasi atau penyucian diri untuk memastikan bahwa mereka layak memimpin jalannya komunikasi dengan kekuatan luhur.
Memasuki puncak upacara pada malam hari, suasana menjadi sangat hening saat prosesi "Menjemput Tamu Adat" dimulai. Para pemimpin daerah dan tokoh masyarakat diarak menuju panggung utama dengan iringan musik bambu dan genderang. Ini adalah simbol penghormatan terhadap struktur sosial yang menjaga keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Ritus utama yang paling dinantikan adalah pemotongan Kue Tamo oleh tokoh adat yang ditunjuk. Sebelum dipotong, dibacakan narasi mengenai makna keberadaan manusia di bumi. Potongan pertama kue tersebut diberikan kepada pemimpin daerah atau orang yang paling dihormati, melambangkan distribusi berkah dari Tuhan kepada seluruh rakyat melalui perantara pemimpin.
Setelah pemotongan kue, suasana berubah menjadi meriah dengan penampilan Tari Gunde dan Tari Salo. Tari Gunde dibawakan oleh perempuan dengan gerakan anggun yang melambangkan kelembutan hati. Sementara Tari Salo dibawakan oleh pria dengan gerakan patriotik yang menunjukkan keberanian laki-laki Sangihe dalam mengarungi lautan dan menjaga kedaulatan tanah mereka.
Pasca-upacara ditandai dengan makan bersama atau Mangan Komunal. Seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang kasta atau jabatan, duduk bersama menikmati hidangan tradisional. Ini adalah momen rekonsiliasi jika terjadi perselisihan selama setahun terakhir. Semua dendam "didorong" pergi bersamaan dengan selesainya ritual Tulude, menyisakan kerukunan yang hangat.
Selama prosesi berlangsung, terdapat pantangan atau taboo yang harus dipatuhi dengan sangat ketat. Peserta dilarang membuat kegaduhan yang tidak perlu atau berkata kotor. Melanggar pantangan ini dipercaya dapat mendatangkan sial atau merusak kesucian ritual. Keheningan selama doa adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada arwah leluhur yang hadir.

Sario

Timezone Manado Town Square Lantai 1

9.4/10
Sario
Rp 100.000
Rp 80.000
Bagi Anda yang ingin menyaksikan kemegahan Upacara Tulude, perjalanan biasanya dimulai dari Kota Manado. Anda bisa menggunakan kapal feri cepat atau pesawat perintis menuju Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe. Perjalanan laut menawarkan pemandangan pulau-pulau eksotis dan gunung api bawah laut yang jarang ditemukan di belahan bumi lain.
Landmark terbaik untuk menyaksikan perayaan utama adalah di lapangan pusat kota Tahuna atau di desa-desa adat yang masih memegang teguh tradisi orisinal. Pastikan Anda mengenakan pakaian yang sopan dan tertutup sebagai bentuk penghormatan. Sangat disarankan untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambil foto jarak dekat saat ritual sakral berlangsung.
Jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kuliner khas seperti Sagu Bakar dan Ikan Bakar segar yang disajikan selama festival. Karena hotel di Tahuna cukup terbatas saat musim festival, sangat penting bagi Anda untuk melakukan pemesanan jauh-hari agar mendapatkan akomodasi yang nyaman dan strategis di dekat lokasi acara.
Merencanakan perjalanan budaya ke pelosok Sulawesi Utara kini jauh lebih mudah melalui satu platform terintegrasi. Anda dapat memesan tiket pesawat menuju Bandara Sam Ratulangi Manado dan melanjutkan penerbangan ke Tahuna melalui aplikasi Traveloka. Kemudahan akses informasi dan transaksi menjamin pengalaman perjalanan Anda menjadi lebih berkesan.
Traveloka menyediakan berbagai pilihan hotel, mulai dari penginapan lokal yang autentik hingga hotel berbahan modern di pusat kota. Jika Anda berencana mengeksplorasi keindahan alam Sangihe di luar jadwal upacara, manfaatkan layanan sewa mobil atau pencarian aktivitas lokal untuk menemukan spot diving terbaik di sekitar pulau.
Sun, 26 Apr 2026

AirAsia Indonesia
Jakarta (CGK) ke Manado (MDC)
Mulai dari Rp 1.675.100
Wed, 22 Apr 2026

Sriwijaya Air
Ternate (TTE) ke Manado (MDC)
Mulai dari Rp 780.300
Fri, 3 Apr 2026

Lion Air
Makassar (UPG) ke Manado (MDC)
Mulai dari Rp 1.395.900
1. Kapan waktu terbaik untuk berkunjung guna melihat Upacara Tulude? Upacara ini secara tradisional dilaksanakan pada tanggal 31 Januari setiap tahunnya. Namun, rangkaian festival budaya biasanya sudah dimulai beberapa hari sebelumnya dengan berbagai perlombaan seni tradisional dan pameran kerajinan tangan lokal.
2. Apakah wisatawan mancanegara atau luar daerah boleh ikut makan bersama? Sangat boleh. Masyarakat Sangihe dikenal sangat ramah dan menjunjung tinggi nilai keramah-tamahan (hospitality). Ikut serta dalam makan bersama justru dianggap sebagai bentuk penghormatan pengunjung terhadap tuan rumah dan merupakan bagian dari pengalaman budaya yang inklusif.
3. Apa perbedaan utama Tulude di Sangihe dengan perayaan di Manado? Di Sangihe, atmosfir ritual terasa lebih sakral dan tradisional karena dilaksanakan di tanah leluhur. Di Manado, Tulude seringkali dikemas sebagai festival budaya kota yang lebih modern, namun tetap mempertahankan esensi pemotongan Kue Tamo dan doa adat.
4. Apakah ada biaya masuk untuk menyaksikan upacara ini? Umumnya, menyaksikan Upacara Tulude di area publik atau lapangan terbuka tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, jika upacara diadakan sebagai bagian dari acara resmi di dalam gedung, mungkin diperlukan undangan atau izin khusus dari dinas pariwisata setempat.
5. Bahasa apa yang digunakan selama prosesi berlangsung? Bahasa yang dominan digunakan dalam doa dan nyanyian adalah bahasa Sangihe kuno atau Sasambo. Namun, jangan khawatir, biasanya terdapat narator atau pembawa acara yang menjelaskan makna setiap prosesi dalam bahasa Indonesia agar pengunjung dapat memahami alur ritual dengan baik.
Ingin merasakan langsung getaran spiritual Upacara Tulude di tanah Sangihe? Mulai petualangan budaya Anda hari ini dengan memesan tiket pesawat dan hotel hanya di aplikasi Traveloka!








