
Sore hari di pinggiran Danau Toba biasanya diramaikan bukan oleh suara gawai, melainkan oleh teriakan anak-anak yang berlarian di halaman rumah bolon atau di tepi jalan kampung. Di Samosir, Balige, hingga Tapanuli Utara, permainan yang diwariskan turun-temurun ini masih jadi cara anak-anak Batak Toba menghabiskan waktu bersama.
Permainan tradisional Batak Toba mencakup Marsiada, Margala, Jembatan Tapanuli, Marsitekka, Marsitukkel, Marsipatu Hoda, Marultop, dan Pecah-Pecah Piring, masing-masing punya cara main, alat, dan nilai budaya tersendiri. Jika Anda memesan Tiket Pesawat ke Silangit untuk berkunjung ke kawasan Danau Toba, menyaksikan atau bahkan ikut mencoba permainan-permainan ini bisa jadi pengalaman budaya yang berkesan.
Berikut delapan permainan tradisional yang paling melekat dengan kehidupan masyarakat Batak Toba, lengkap dengan cara main dan makna di baliknya.
Marsiada adalah permainan lempar-tangkap batu kecil yang jadi favorit anak-anak Batak Toba di berbagai kampung, termasuk di Sibarani Nasampulu. Permainan ini juga dikenal dengan sebutan lain seperti Baru Serak, Marengka, Marbatu, atau Marpingke tergantung daerahnya.
Pemain menyiapkan lima batu kecil, satu di antaranya dijadikan "gacoan" untuk dilempar ke udara sambil mengambil batu-batu lain di tanah. Permainan ini punya lima tingkat kesulitan, mulai dari mengambil batu satu per satu hingga menangkap seluruh batu di telapak tangan tanpa terjatuh. Kesalahan menyentuh batu yang tidak sedang diambil membuat giliran berpindah ke pemain lain.
Margala adalah permainan strategi beregu yang mengandalkan kecepatan kaki dan kekompakan tim, dimainkan oleh dua kelompok yang masing-masing beranggotakan sekitar enam orang. Di beberapa daerah Toba, permainan ini disebut Marcabor.
Satu tim bertugas menjaga garis-garis lapangan agar tidak dilewati, sementara tim lawan berusaha menerobos tanpa tersentuh penjaga. Konsepnya mirip galah asin atau gobak sodor, namun Margala punya aturan lapangan dan formasi jaga khas Batak Toba. Permainan ini bahkan resmi dipertandingkan setiap tahun dalam Pesta Danau Toba di Parapat sebagai bagian dari pelestarian olahraga rakyat.
Jembatan Tapanuli adalah permainan lingkaran yang dimainkan sambil menyanyi, berasal dari Desa Pearung, Humbang Hasundutan. Permainan ini bisa diikuti anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dengan minimal lima pemain.
Dua pemain berdiri berhadapan sambil mengangkat tangan membentuk "jembatan", sementara pemain lain berbaris memutar melewati jembatan tersebut sambil bernyanyi. Saat lagu mendekati akhir, jembatan diturunkan untuk menangkap satu pemain, yang kemudian bergabung menjadi penjaga baru. Permainan ini melatih kekompakan, kejujuran, dan kepekaan terhadap sesama pemain.
Marsitekka adalah versi Batak Toba dari permainan engklek, umumnya dimainkan anak perempuan secara berpasangan. Pola kotak digambar di tanah menggunakan kayu, atau dengan kapur bila dimainkan di lantai semen.
Pemain melempar "gacok" berupa batu pipih atau pecahan keramik ke setiap kotak secara berurutan, lalu melompati pola sesuai aturan pijakan yang disepakati di awal. Setelah semua kotak terselesaikan, tantangan berlanjut dengan membawa gacok di punggung kaki, dijepit jari kaki, hingga diletakkan di atas kepala.
Tue, 13 Oct 2026

AirAsia Indonesia
Jakarta (CGK) ke Silangit (DTB)
Mulai dari Rp 1.156.300
Thu, 29 Oct 2026

Super Air Jet
Batam (BTH) ke Silangit (DTB)
Mulai dari Rp 1.369.700
Thu, 8 Oct 2026

AirAsia Indonesia
Surabaya (SUB) ke Silangit (DTB)
Mulai dari Rp 2.235.900
Marsitukkel adalah egrang khas Batak Toba, terbuat dari sepasang batang kayu atau bambu setinggi satu hingga satu setengah meter. Di bagian bawah dipasang pijakan kaki setinggi lutut agar pemain bisa berjalan sambil berdiri di atasnya.
Selain melatih keseimbangan, Marsitukkel juga jadi ajang unjuk keberanian anak-anak kampung karena harus berjalan atau bahkan berlomba tanpa terjatuh. Permainan ini biasa dimainkan di halaman terbuka atau jalan kampung yang cukup lapang.
Marsipatu Hoda adalah permainan balap menggunakan tempurung kelapa yang dilubangi dan diberi tali sebagai pegangan, menyerupai "sepatu kuda”, sesuai arti namanya. Permainan ini biasanya diikuti tiga hingga lima pemain sekaligus.
Pemain menjepit tempurung kelapa di kedua kaki lalu berlomba menuju garis akhir sambil menjaga keseimbangan agar tempurung tidak lepas. Suara khas tempurung yang beradu dengan tanah atau batu menjadi salah satu keseruan tersendiri saat permainan berlangsung.
Marultop adalah senapan mainan dari bambu yang populer di kalangan anak-anak di Samosir, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara. Namanya juga dikenal sebagai Pultop-pultop di beberapa kampung.
Bambu tua yang kuat dipotong sekitar 30 cm dan dibelah dua: satu bagian dijadikan penyodok, satu lagi diraut bulat sesuai laras. Peluru dibuat dari biji-bijian atau gulungan kertas basah yang dipadatkan. Permainan perang-perangan ini tergolong aman, meski kini semakin jarang ditemukan seiring masuknya mainan pabrikan dan permainan digital ke pedesaan.

Indonesia

Tur Danau Toba

9.1/10
Parapat
Rp 650.000
Pecah-Pecah Piring adalah permainan beregu yang menguji kelincahan, kerja sama, dan akurasi lempar. Susunan batu atau benda pipih ditata bertumpuk di tengah lapangan sebagai "target" yang harus dijatuhkan.
Satu tim bertugas melempar bola dari kertas atau kain untuk merobohkan susunan tersebut, sementara tim lain berusaha menyusunnya kembali secepat mungkin sebelum tertangkap oleh tim penyerang. Permainan ini menuntut kekompakan sekaligus refleks cepat dari seluruh anggota tim.
Hampir semua permainan di atas dimainkan berkelompok, bukan sendirian. Marsiada dan Marsitekka melatih konsentrasi serta koordinasi gerak, sementara Margala, Jembatan Tapanuli, dan Pecah-Pecah Piring lebih menekankan kerja sama tim dan kejujuran dalam mengikuti aturan.
Nilai-nilai ini juga dekat dengan legenda dan cerita rakyat yang diwariskan masyarakat Batak Toba secara turun-temurun.
Sayangnya, sebagian permainan seperti Marultop mulai jarang dimainkan karena pergeseran ke gawai dan mainan pabrikan, sehingga upaya pelestarian lewat sekolah dan festival budaya jadi makin penting.

Indonesia

Niagara Hotel Lake Toba & Resorts

8.2/10
•




Parapat
Rp 689.994
Beberapa lokasi di kawasan Danau Toba masih aktif menampilkan atau melestarikan permainan-permainan ini, baik lewat festival tahunan maupun kegiatan komunitas.
Festival budaya dan pariwisata tahunan ini rutin menghadirkan pertandingan Margala antar-kampung sebagai bagian dari upaya pelestarian olahraga rakyat Batak Toba, di samping lomba perahu naga dan tarian tradisional.
Perkampungan adat di Pulau Samosir ini kerap jadi tempat anak-anak setempat bermain Marsitekka atau Marsiada di sela kunjungan wisatawan, memberi gambaran langsung kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Toba.
Sebagai daerah asal Jembatan Tapanuli dan Marultop, wilayah pedesaan di sini masih mempraktikkan permainan tradisional lewat kegiatan sekolah bertema kearifan lokal, meski hanya sesekali digelar untuk acara khusus.
Permainan tradisional Batak Toba menunjukkan bagaimana kesederhanaan alat batu, bambu, tempurung kelapa, bisa melahirkan permainan yang mengajarkan kerja sama, kejujuran, dan keberanian sejak usia dini. Dari Marsiada yang melatih ketelitian hingga Margala yang masih dipertandingkan resmi di Pesta Danau Toba, warisan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat sekitar danau.
Bagi wisatawan, menyaksikan langsung permainan-permainan ini di Samosir atau saat festival budaya menambah lapisan pengalaman yang jarang didapat dari sekadar menikmati pemandangan Danau Toba. Kunjungan yang dipadukan dengan interaksi budaya semacam ini juga membuat perjalanan terasa lebih bermakna dan personal.
Traveloka merupakan aplikasi travel #1 di Asia Tenggara yang dipercaya jutaan pengguna untuk merencanakan perjalanan, termasuk ke kawasan Danau Toba. Anda bisa memesan Tiket Pesawat ke Silangit, mencari Hotel di Danau Toba dengan pilihan mulai dari penginapan sederhana hingga resor tepi danau, lalu melengkapi perjalanan dengan Aktivitas di Danau Toba seperti trekking bukit atau menjelajah Pulau Samosir, semua dalam satu aplikasi yang sama.
Untuk mobilitas yang lebih fleksibel selama menjelajahi kampung-kampung adat, Anda juga bisa Sewa Mobil di Medan sebagai titik awal perjalanan darat menuju Toba. Semua transaksi bisa dibayar dengan Traveloka PayLater atau metode pembayaran lokal seperti transfer bank, GoPay, maupun dompet digital lain, langsung lewat aplikasi Traveloka yang tersedia di Google Play Store dan App Store.










