8 Permainan Tradisional Yogyakarta yang Ikonik dan Masih Diajarkan di Sekolah

Mas Bellboy
Waktu baca 4 menit

Di sudut-sudut kampung Yogyakarta, dari halaman rumah joglo hingga lapangan sekolah dekat alun-alun, suara nyanyian dolanan anak masih sesekali terdengar berbaur dengan suara kendaraan kota. Warisan permainan ini tumbuh bersama sejarah panjang Kasultanan Ngayogyakarta, diajarkan turun-temurun tanpa pernah tercatat siapa penciptanya.

Permainan tradisional Yogyakarta yang paling dikenal antara lain Gobag Sodor, Jamuran, Genukan, Sobyang, Gatheng, Dhakon, Lintang Alihan, dan Ancak-ancak Alis, masing-masing punya cara main dan nilai edukasi tersendiri. Setelah memesan Tiket Pesawat ke Yogyakarta, Anda bisa menyempatkan diri melihat langsung dolanan ini di kampung wisata atau festival budaya yang masih rutin digelar di berbagai sudut kota.

8 Permainan Tradisional Yogyakarta yang Wajib Kamu Kenal

Berikut delapan dolanan anak khas Yogyakarta yang masih didokumentasikan resmi oleh Dinas Kebudayaan DIY, lengkap dengan cara main dan maknanya.

1. Gobag Sodor

Gobag Sodor adalah permainan beregu di lapangan berpetak yang sudah dikenal luas sejak awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada akhir abad ke-18. Lapangan berbentuk persegi panjang dibagi menjadi delapan petak dengan garis vertikal dan horizontal setiap 2,5 meter.

Dua tim beranggotakan 4-7 orang saling bergantian jadi penjaga garis (dadi) dan pelari (mentas) yang harus menembus semua garis lalu kembali ke titik awal tanpa tersentuh. Jika dua pemain berdiri di petak yang sama, keduanya dianggap "gosong" dan harus keluar. Permainan ini menanamkan nilai tolong-menolong dan sikap sportif menerima kekalahan.

Indonesia

Tiket Ramayana Ballet Purawisata Jogja

9.2/10

Gondomanan

Rp 147.000

2. Jamuran

Jamuran adalah permainan lingkaran yang dimainkan tujuh hingga sembilan anak sambil menyanyikan lagu tentang jenis-jenis jamur. Satu anak berperan sebagai pancer yang berdiri di tengah lingkaran pemain lain yang saling bergandengan tangan.

Sambil berjalan memutar, para pemain menyanyi dan menunggu pancer menyebut nama jamur tertentu. Jika pancer menyebut "jamur payung", semua pemain harus berdiri tegak dengan tangan terbuka sementara pancer menggelitiki mereka, siapa yang tidak tahan menjadi pancer berikutnya. Untuk jenis jamur lain, pemain harus berlari mencari pohon untuk dipanjat sebelum tersentuh pancer.

3. Genukan

Genukan adalah permainan tebak nama yang dimainkan dua kelompok anak perempuan, masing-masing beranggotakan lima orang atau lebih. Satu pemain berdiri di tengah sebagai "genuk" (lumbung), berjarak sekitar sepuluh langkah dari kedua kelompok.

Setelah diundi, satu pemain dari kelompok yang menang maju ke genuk dan menyebut nama pemain lawan secara diam-diam sebelum kembali ke barisan. Jika nama yang dipanggil oleh genuk cocok dengan pemain yang benar-benar dipanggil, kelompok lawan kalah dan harus menggendong bergantian anggota kelompok pemenang sebagai hukuman.

4. Sobyang

Sobyang adalah dolanan tebak jari yang diiringi nyanyian, dimainkan oleh lima anak sambil duduk melingkar sehingga tidak butuh banyak ruang. Setiap pemain mengambil nama dari urutan hitungan seperti jan, nak, udeng, urang, atau keeper.

Permainan berjalan dalam tiga babak: babak hitung untuk menyaring pemain hingga tersisa satu, babak arenan berupa adu tebak jari sambil bernyanyi, dan jika masih seri berlanjut ke babak wayangan berupa gerakan tangan menyentuh anggota tubuh sambil menyanyi "gung gung dang gentak gendang".

Discover Flights With Traveloka

Tue, 22 Sep 2026

Super Air Jet

Jakarta (CGK) ke Yogyakarta (YIA)

Mulai dari Rp 679.500

Sun, 20 Sep 2026

Citilink

Balikpapan (BPN) ke Yogyakarta (YIA)

Mulai dari Rp 1.101.100

Sat, 17 Oct 2026

Super Air Jet

Bali / Denpasar (DPS) ke Yogyakarta (YIA)

Mulai dari Rp 1.019.000

5. Gatheng (Watu Gatheng)

Gatheng adalah permainan lempar-tangkap kerikil yang identik dengan anak perempuan di Yogyakarta. Namanya dipercaya berasal dari batu mainan Raden Rangga, putra Kerajaan Mataram abad ke-17 yang batunya masih bisa dilihat di kawasan Kotagede.

Dua pemain atau lebih duduk berhadapan dan menyebarkan lima kerikil di lantai, lalu melempar satu batu ke atas sambil mengambil batu lain di tanah. Tingkatannya makin sulit mulai dari saku goro (ambil dua batu sekaligus) hingga saku dulit (menggores tanah dengan jari sambil tetap menangkap batu yang melayang).

6. Dhakon

Dhakon (dikenal juga sebagai congklak) adalah permainan papan lonjong berlubang yang dimainkan dua orang, umumnya anak perempuan. Papan memiliki 7, 9, atau 11 lubang kecil di tiap sisi, ditambah lumbung besar di ujung kanan-kirinya.

Setiap lubang kecil diisi lima hingga delapan biji sesuai kesepakatan, lalu biji digeser searah berlawanan jarum jam termasuk mengisi lumbung milik sendiri. Jika biji terakhir jatuh di lubang kosong milik lawan yang berhadapan langsung dengan lubang sendiri, pemain berhak "mikul" alias mengambil semua biji di lubang tersebut.

7. Lintang Alihan

Lintang Alihan adalah permainan kejar-berpasangan yang namanya berarti bintang yang berpindah tempat. Setelah hom pim pah menentukan siapa yang jadi "kucing", pemain lain harus cepat berpasangan agar tidak dikejar.

Keseruan muncul saat pemain lain bisa "menclok" atau menyusup di antara pasangan yang sudah terbentuk, memaksa salah satu anggota mencari pasangan baru atau berganti jadi pengejar. Permainan ini butuh lapangan luas dan idealnya diikuti minimal 15 anak agar makin ramai.

8. Ancak-ancak Alis

Ancak-ancak Alis adalah permainan barisan bertema pertanian yang dimainkan tanpa batas jumlah pemain di lapangan terbuka. Dua anak dipilih sebagai "petani" yang diam-diam memilih nama tanaman, lalu berdiri berhadapan sambil mengangkat tangan membentuk terowongan.

Pemain lain berbaris memegang baju teman di depannya sambil berjalan memutar mengikuti lagu ancak-ancak alis. Saat lagu berhenti di kata "panen", anak paling belakang berlari mengumpulkan daun sebelum dikejar petani, dan siapa yang tertangkap harus memilih bergabung ke kelompok petani sesuai nama tanaman pilihannya.

Indonesia

YATS Colony

8.8/10

Wirobrajan

Rp 526.372

Fungsi Edukatif di Balik Dolanan Anak Yogyakarta

Dinas Kebudayaan DIY mencatat bahwa dolanan tradisional dapat merangsang sembilan jenis kecerdasan anak, mulai dari logika matematis, kemampuan berbahasa, hingga kecerdasan kinestetik. Permainan seperti Dhakon melatih hitungan dan strategi, sementara Gobag Sodor dan Ancak-ancak Alis menanamkan kerja sama tim.

Sisi musikal dari dolanan berlirik seperti Jamuran dan Ancak-ancak Alis juga memperkenalkan anak pada bahasa dan tembang Jawa sejak dini. 

Di Mana Bisa Melihat Permainan Tradisional Yogyakarta Dilestarikan?

Beberapa tempat di Yogyakarta masih aktif menghidupkan dolanan tradisional lewat festival, kegiatan komunitas, maupun jejak sejarahnya.

1. Festival Dolanan Tradisional di Kampung-Kampung Kota

Acara seperti lomba permainan tradisional di Suryodiningratan pernah diikuti ratusan anak, sementara Festival Dolanan Tradisional tahunan melibatkan ratusan peserta lain sebagai upaya memperkuat Sumbu Filosofi Jogja lewat generasi muda.

2. Kotagede

Kawasan bekas ibu kota Mataram ini menyimpan jejak legenda batu Raden Rangga yang jadi asal-usul nama permainan Gatheng, sekaligus punya banyak bangunan bersejarah yang sarat cerita rakyat Jawa. 

3. Sekolah dan Sanggar Budaya di DIY

Sejumlah sekolah memasukkan dolanan tradisional ke muatan kearifan lokal, sementara sanggar budaya kerap memadukan dolanan dengan pertunjukan seni lain seperti wayang untuk menarik minat generasi muda. 

Permainan tradisional Yogyakarta membuktikan bahwa kesederhanaan alat seperti kerikil, papan berlubang, nyanyian, hingga garis di tanah, bisa melahirkan permainan yang mengasah logika, kerja sama, dan kreativitas anak. Dari Gobag Sodor yang telah ada sejak zaman Kasultanan hingga Gatheng yang terikat legenda Kotagede, setiap dolanan menyimpan lapisan sejarah kota ini.

Bagi wisatawan, menyaksikan dolanan ini langsung di kampung wisata atau festival budaya menambah sisi lain dari kunjungan ke Jogja yang biasanya identik dengan candi dan kuliner. Pengalaman semacam ini membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga setempat.

Nikmati Warisan Budaya Jogja Bersama Aplikasi Travel #1 di Asia Tenggara

Sebagai aplikasi travel #1 di Asia Tenggara yang dipercaya jutaan pengguna, Traveloka memudahkan perjalanan budaya ke Yogyakarta dari satu aplikasi saja. Pesan Tiket Pesawat ke Yogyakarta atau Tiket Kereta Jakarta-Yogyakarta sesuai preferensi, lalu cari Hotel di Yogyakarta mulai dari penginapan sederhana dekat Malioboro hingga resor bernuansa joglo.

Lengkapi perjalanan dengan Aktivitas di Yogyakarta atau Sewa Mobil di Yogyakarta untuk menjelajah Kotagede dan kampung wisata dengan lebih leluasa. Semua transaksi bisa dibayar dengan Traveloka PayLater atau metode lokal seperti transfer bank, GoPay, dan dompet digital lain, langsung lewat aplikasi yang tersedia di Google Play Store dan App Store.

Dalam Artikel Ini

• 8 Permainan Tradisional Yogyakarta yang Wajib Kamu Kenal
• 1. Gobag Sodor
• 2. Jamuran
• 3. Genukan
• 4. Sobyang
• 5. Gatheng (Watu Gatheng)
• 6. Dhakon
• 7. Lintang Alihan
• 8. Ancak-ancak Alis
• Fungsi Edukatif di Balik Dolanan Anak Yogyakarta
• Di Mana Bisa Melihat Permainan Tradisional Yogyakarta Dilestarikan?
• 1. Festival Dolanan Tradisional di Kampung-Kampung Kota
• 2. Kotagede
• 3. Sekolah dan Sanggar Budaya di DIY
• Nikmati Warisan Budaya Jogja Bersama Aplikasi Travel #1 di Asia Tenggara
Hotel
Tiket Pesawat
Atraksi dan Aktivitas
Selalu Tahu Kabar Terbaru
Dapatkan berbagai rekomendasi travel & gaya hidup serta info promo terkini dengan berlangganan newsletter kami.
Langganan