
Jauh di pedalaman Riau, ada satu suku yang selama berabad-abad hidup berpindah-pindah mengikuti hutan, sungai, dan musim madu. Suku Sakai namanya, salah satu suku tertua di Sumatra yang jarang muncul di buku pelajaran, meski jejak budayanya masih hidup sampai sekarang di Kabupaten Bengkalis.
Rumah adat suku Sakai berbentuk rumah panggung yang berlokasi di Sobanga, Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Mandau, sekitar 180 km dari Pekanbaru. Menariknya, bangunan ini baru diresmikan tahun 2016, jauh lebih muda dibanding rumah adat suku lain di Indonesia, dan ceritanya berkaitan erat dengan gaya hidup nomaden suku Sakai itu sendiri.
Suku Sakai dipercaya sebagai keturunan Melayu Tua (Proto Melayu) yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat. Berbeda dari suku Melayu pesisir yang menetap di kota-kota dagang, leluhur suku Sakai memilih hidup semi-nomaden jauh di dalam hutan Riau, berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain mengikuti ketersediaan hasil hutan.
Karena pola hidup itulah, suku Sakai secara tradisional tidak membangun rumah permanen seperti rumah panggung besar yang biasa dijumpai pada suku Melayu Riau lainnya. Kebutuhan sehari-hari mereka penuhi lewat perkakas dari bahan alam, seperti timo (wadah kulit kerbau kering berlapis rotan untuk menyimpan madu), gegalung galo (alat bambu dan kayu untuk memeras pati dari ubi), dan tangguk (wadah menyimpan ubi yang sudah dikupas).
Baru pada 19 Januari 2016, rumah adat suku Sakai yang sekarang berdiri resmi diresmikan, menggantikan bangunan lamanya. Pembangunannya didukung oleh PT Indah Kiat Pulp & Paper dan PT Arara Abadi, dua perusahaan di bawah grup Sinar Mas yang beroperasi di kawasan hutan Riau. Kehadirannya menjadi simbol pengakuan sekaligus upaya pelestarian budaya suku yang selama ini hidup jauh dari sorotan.
Meski usianya masih terbilang muda, rumah adat ini tetap dirancang mengikuti bentuk dasar rumah panggung khas Melayu Riau, hanya saja dengan sentuhan material yang lebih modern dan tahan lama.
Bangunan ini berdiri di atas pondasi panggung yang memadukan kayu dan rangka besi, kombinasi yang dipilih agar rumah lebih kokoh dan tahan lama dibanding rumah panggung tradisional yang hanya mengandalkan kayu dan bambu. Bentuk panggung sendiri berfungsi praktis, menjaga rumah dari kelembapan tanah hutan dan potensi banjir musiman.
Kompleks rumah adat ini menempati lahan seluas kurang lebih 1,3 hektare, cukup luas untuk menampung bangunan utama sekaligus area sekitarnya yang digunakan untuk kegiatan budaya, seperti latihan kesenian dan pertemuan warga adat.
Bagian dalam rumah difungsikan sebagai ruang pamer atau museum mini, tempat berbagai benda peninggalan suku Sakai disimpan dan dipajang untuk umum. Fungsi ganda inilah yang membedakan rumah adat suku Sakai dari rumah adat suku lain yang biasanya lebih berfokus sebagai tempat tinggal atau balai pertemuan adat.
Thu, 24 Sep 2026

Lion Air
Jakarta (CGK) ke Pekanbaru (PKU)
Mulai dari Rp 1.010.300
Mon, 21 Sep 2026

Lion Air
Batam (BTH) ke Pekanbaru (PKU)
Mulai dari Rp 763.200
Wed, 23 Sep 2026

Super Air Jet
Yogyakarta (YIA) ke Pekanbaru (PKU)
Mulai dari Rp 1.674.500
Bagi suku Sakai, rumah adat ini lebih dari sekadar bangunan, ia menjadi tempat menjaga ingatan kolektif tentang cara hidup leluhur mereka yang dulu menyatu dengan hutan. Ketua Adat (Bathin) Sakai menyebut rumah ini sebagai kekayaan budaya sekaligus ruang untuk berbagi ilmu, melatih kesenian adat, dan mempererat hubungan antarwarga.
Di dalamnya tersimpan pakaian adat dari kulit kayu, bahan yang dulu benar-benar dipakai sehari-hari sebelum suku Sakai mengenal tekstil modern. Dalam upacara adat, pakaian ini biasanya dilengkapi ornamen seperti kalung dari biji-bijian, gelang dari serat rotan, hingga bulu burung, yang masing-masing menandai status sosial atau peran seseorang dalam upacara. Sebagian warga Sakai bahkan memiliki tato tubuh dengan makna spiritual, simbol pengalaman hidup dan hubungan mereka dengan alam serta roh leluhur.
Suku Sakai juga rutin menggelar upacara adat untuk kelahiran, kematian, dan pernikahan, serta perayaan musim panen yang melimpah, lengkap dengan nyanyian, tarian, dan pesta makan bersama. Dari sisi kepercayaan, mayoritas suku Sakai kini memeluk Islam, tetapi sebagian masih menjalankan animisme, meyakini keberadaan makhluk halus yang mereka sebut Antu, yang dipercaya menjalani kehidupan layaknya manusia.
Karena berfungsi sebagai museum, pengunjung bisa melihat langsung koleksi benda-benda bersejarah milik suku Sakai di dalam rumah adat ini.
Deretan foto lawas memperlihatkan bagaimana suku Sakai menjalani hidup nomaden di hutan, mulai dari cara berburu, meramu, hingga aktivitas sehari-hari sebelum mereka menetap di Kesumbo Ampai.
Berbagai alat musik yang biasa dimainkan dalam upacara adat turut dipamerkan, memberi gambaran tentang kesenian yang masih diwariskan turun-temurun.
Rumah ini juga menyimpan peta wilayah tanah adat suku Sakai, dokumen penting yang menjadi bukti sejarah penguasaan lahan leluhur di kawasan Riau.
Selain keris kuno, pengunjung juga bisa melihat perkakas seperti timo, gegalung galo, dan tangguk, alat-alat yang dulu jadi andalan suku Sakai untuk bertahan hidup dari hasil hutan.

Indonesia

Citraland Waterpark Pekanbaru Tickets

8.7/10
Marpoyan Damai
Rp 25.000
Karena lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Pekanbaru dan bukan destinasi wisata massal, ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum berkunjung.
Dari Pekanbaru, perjalanan darat menuju Kesumbo Ampai memakan waktu sekitar 3-4 jam tergantung kondisi lalu lintas. Sebaiknya berangkat pagi hari agar punya waktu cukup untuk menjelajahi rumah adat sekaligus kawasan sekitarnya.
Karena bukan objek wisata dengan jam operasional tetap seperti museum kota besar, ada baiknya mencari informasi terlebih dahulu ke pemerintah Desa Kesumbo Ampai atau komunitas adat setempat sebelum berkunjung, agar kunjungan Anda bisa didampingi dan dijelaskan langsung oleh warga Sakai.

Indonesia

FOX Hotel Pekanbaru

8.5/10
•




Senapelan
Rp 555.876
Kota Duri yang lebih dekat ke Kesumbo Ampai dibanding Pekanbaru bisa jadi pilihan menginap yang praktis. Pesan Hotel di Duri lebih dulu agar perjalanan ke rumah adat suku Sakai keesokan harinya lebih singkat dan tidak terburu-buru.
Sebagai tamu di kawasan adat, penting untuk menjaga sikap sopan, meminta izin sebelum memotret warga atau benda pusaka, dan mengikuti arahan dari pengurus adat selama berada di lokasi.
Rumah adat suku Sakai membuktikan bahwa warisan budaya tidak selalu berupa bangunan tua berusia ratusan tahun. Kadang, ia lahir dari upaya menjaga cerita suku yang nyaris terlupakan, dan rumah panggung di Kesumbo Ampai ini adalah bukti nyata bahwa identitas suku Sakai masih terus dirawat hingga hari ini.
Bagi Anda yang penasaran dengan sisi lain Riau di luar Pekanbaru, menyempatkan diri singgah ke rumah adat suku Sakai bisa jadi pengalaman budaya yang jarang ditemukan wisatawan kebanyakan. Lengkapi perjalanan Anda dengan menjelajahi tempat wisata populer lain di Riau agar liburan makin lengkap.
Baca Juga: Rekomendasi 10 Tempat Wisata Populer di Riau
Traveloka adalah aplikasi travel #1 di Asia Tenggara yang dipercaya jutaan pengguna untuk merencanakan perjalanan ke berbagai destinasi, termasuk Riau. Pesan Tiket Pesawat ke Pekanbaru, lalu cari Hotel di Duri yang lebih dekat dengan lokasi rumah adat suku Sakai, sehingga perjalanan Anda menjelajahi pedalaman Riau jadi lebih efisien.
Lengkapi liburan dengan menjajal berbagai Aktivitas di Pekanbaru, mulai dari wisata sejarah di Museum Sang Nila Utama hingga taman hiburan keluarga. Nikmati kemudahan pembayaran lewat Traveloka PayLater atau metode lokal seperti transfer bank, GoPay, dan dompet digital lain, kapan saja lewat aplikasi yang tersedia di Google Play Store dan App Store.






