Semua hal yang anda perlu ketahui mengenai status penerbangan dan kebijakan maskapai selama kasus penyebaran Corona Virus.

dismiss
Promo
Jadi Partner Traveloka
Simpan
Pesanan Saya
IDR
Pay
Log In
Daftar
0
Selalu Tahu Kabar Terbaru
Dapatkan berbagai rekomendasi travel & gaya hidup serta info promo terkini dengan berlangganan newsletter kami.
Langganan

Traveloka Accomodation

21 Feb 2021 - 4 min read

Tradisi Jawa yang Masih Eksis Hingga Saat Ini

Tradisi Jawa yang Masih Eksis Hingga Saat Ini

Memegang gelar jumlah penduduk terbanyak di seluruh Indonesia, masyarakat suku Jawa mempunyai tradisi dan budaya yang beragam. Selain memiliki budaya yang mendunia seperti tarian dan kebaya, masyarakatnya juga terus melestarikan tradisi seperti upacara adat di era modern ini.

Berikut beberapa tradisi Jawa berupa acara dan upacara adat yang masih eksis hingga kini:

Sekaten

Upacara Sekaten

Upacara Sekaten berasal dari kota Surakarta dan Yogyakarta, diadakan mulai dari tanggal 5 sampai 11 Rabi’ul Awal sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nama ‘Sekaten’ berasal dari kata serapan bahasa Arab ‘Syahadatain’. Upacara Sekaten dilakukan dengan melepas dua perangkat gamelan dari Keraton yaitu gamelan Kyai Guntursari dan gamelan Kyai Gunturmadu yang nantinya akan ditempatkan di Masjid Agung Surakarta.

Hal ini didasari dengan sejarah bahwa penyebaran agama Islam di tanah Jawa dilakukan melalui kesenian gamelan. Upacara sekaten tersebut berakhir pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, ditandai dengan Grebeg Maulud yang diadakan oleh Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Grebeg Maulud

Puncak acara sekaten adalah Grebeg Maulud, yang identik dengan gunungan yang berisi buah-buahan serta hasil bumi terbaik. Susunan makanan yang menyerupai gunung ini dibawa ke keraton dan masjid agung untuk didoakan. Setelah didoakan, maka hasil bumi terbaik ini akan dibagikan kepada masyarakat, yang melambangkan keberkahan dan rezeki bagi seluruh masyarakat.

Tumpeng Sewu

Tumpeng Sewu

Tumpeng Sewu atau tumpeng seribu merupakan tradisi turun-temurun suku asli Banyuwangi yang bernama suku Osing di Desa Kemiren. Upacara tahunan ini diselenggarakan seminggu sebelum Hari Raya Idul Adha sebagai bentuk syukur masyarakat kepada Tuhan. Namun tak hanya masyarakat desa setempat, tak jarang warga dari luar kota bahkan luar negeri datang untuk mengikuti upacara ini.

Sebelum makan tumpeng bersama-sama, biasanya masyarakat setempat melakukan mepe kasur (menjemur kasur) di halaman rumah pada pagi hari secara massal. Setelah itu, dilakukan pembacaan doa dan ritual. Tak hanya menikmati tumpeng dan membaca doa, pada upacara ini juga terdapat pertunjukan seni.

Kebo-keboan

Satu lagi upacara tradisi yang berasal dari Banyuwangi, yaitu Kebo-keboan. Meskipun memiliki nama kebo atau kerbau, dalam upacara tradisi kebo-keboan tidak ada hewan kerbau. Bukan hewan, melainkan kerbau jadi-jadian yaitu masyarakat yang berdandan seperti kerbau lalu berkeliling kampung. Mereka akan berjalan seperti kerbau dengan memikul kayu, dan hal ini dilakukan untuk menghalau penyakit maupun bala.

Karapan Sapi

Tradisi Karapan Sapi tentu sudah tidak asing lagi. Karapan sapi yang berasal dari Madura, Provinsi Jawa Timur ini pernah diabadikan menjadi ukiran di dalam koin logam emas Rp100. Tradisi karapan sapi adalah adu kecepatan dua sapi yang dipasangkan untuk menarik kereta dari kayu, di mana joki berdiri untuk mengendalikan sapi. Awalnya, karapan sapi dilakukan untuk mencari sapi yang kuat untuk membajak sawah. Namun seiring berjalannya waktu, cara ini dijadikan perlombaan bahkan berhadiah piala bergilir pada ajang Piala Presiden (sekarang dikenal dengan nama Piala Gubernur). Acara ini biasanya diselenggarakan pada bulan Agustus-Oktober.

Larung Sesaji

Tradisi larung sesaji dilakukan oleh masyarakat yang hidup di sekitar Telaga Sarangan di Magetan, Jawa Timur. Telaga yang dianggap sacral ini dikelilingi oleh pasar sarangan ini terletak di lereng Gunung Lawu. Tradisi melarung sajian dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan yang telah diberikan dan atas hasil tangkapan ikan. Sajiannya berukuran besar dan berat, bahkan untuk membawa masing-masing sesaji perlu dipikul hingga 4 orang, dan biasanya masyarakat berjalan iring-iringan menuju ke telaga.

Upacara Kasada

Upacara Sukasada atau Kasada adalah hari raya adat suku Tengger yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Upacara ini diadakan sesuai dengan kalender Jawa, setiap hari ke-14 pada bulan Kasada. Tradisi ini dilakukan dengan cara melempar berbagai sajian atau sesajen seperti produk ternak, sayuran, buah-buahan, bahkan uang ke kawah Gunung Bromo. Hal ini adalah bentuk persembahan bagi Sang Hyang Widhi dan leluhur. Selain itu, juga sebagai peringatan pengorbanan legenda Raden Kesuma, anak Jaka Seger-Lara Anteng, yang merelakan dirinya untuk terjun ke Gunung Bromo. Tak hanya dihadiri oleh masyarakat setempat, Upacara Kasada juga dihadiri oleh wisatawan.

Demikian enam upacara tradisi Jawa yang masih eksis hingga saat ini. Sangat unik dan menarik ya! Maka itu, kita perlu terus melestarikan budaya yang kita miliki agar tradisi bisa berlanjut hingga ke generasi selanjutnya.

Dari upacara di atas, manakah yang paling membuatmu penasaran? Kalau kamu ingin mengikuti langsung proses upacara tradisi Jawa, buat rencana perjalananmu dari jauh hari agar tidak salah perhitungan.

Tentunya, rencanakan perjalananmu bersama Traveloka yang punya berbagai promo menarik dan layanan yang bisa memudahkan liburanmu. Mulai dari tiket pesawat, tiket kereta, hotel dan penginapan. Di masa new normal, Traveloka tetap memberikan pengalaman menginap terbaik dan aman untuk kamu. Cari saja badgeTraveloka CleanAccomodation yang menandakan bahwa suatu akomodasi yang sudah memiliki sertifikat standar kebersihan dan telah melakukan

rekomendasi kebersihan sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

Mumpung kamu berada di Jawa, jangan sampai lewatkan kulineran dengan promo di Traveloka Eats dan eksplor kegiatan seru lainnya dengan harga terbaik di Traveloka Xperience!

Jadi, tunggu apalagi? Download aplikasi Traveloka sekarang!