
Dieng terkenal dengan kawah vulkanik, telaga berwarna, dan kompleks candi kuno. Namun, ada satu situs bersejarah yang sering luput dari perhatian wisatawan, yaitu Tuk Bima Lukar, mata air purba yang dipercaya menjadi hulu Sungai Serayu.
Terletak di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Tuk Bima Lukar bukan sekadar sumber air alami. Situs ini menyimpan jejak peradaban Hindu kuno dan legenda Bima yang masih hidup dalam cerita masyarakat setempat. Jika berencana menjelajahi Dieng, tempat ini layak disinggahi sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain.
Tuk Bima Lukar merupakan mata air yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Dalam bahasa Jawa, kata tuk berarti mata air, sedangkan nama Bima Lukar berkaitan dengan kisah Bima, tokoh Pandawa dalam pewayangan.
Situs ini dikenal sebagai salah satu sumber aliran Sungai Serayu, sungai besar di Jawa Tengah yang melintasi sejumlah kabupaten sebelum bermuara di Samudra Hindia. Keberadaan Tuk Bima Lukar juga berkaitan dengan sejarah kawasan Dieng sebagai pusat kegiatan keagamaan pada masa Hindu kuno.
Meski ukurannya relatif kecil dibandingkan destinasi populer di sekitarnya, Tuk Bima Lukar memiliki nilai sejarah dan budaya yang menarik. Tempat ini cocok untuk wisatawan yang ingin mengenal Dieng dari sisi berbeda, bukan hanya melalui panorama alamnya.
Daya tarik Tuk Bima Lukar tidak terlepas dari peninggalan arkeologi dan cerita rakyat yang menyertainya.
Tuk Bima Lukar dikenal sebagai situs petirtaan kuno yang diperkirakan berkaitan dengan tradisi penyucian diri dalam agama Hindu di Jawa. Meski sebagian peninggalannya tidak lagi utuh, pancuran air dari batu yang dikenal sebagai jaladwara masih dapat dikenali.
Keberadaan situs ini menambah nilai sejarah Dieng, yang juga menyimpan kompleks candi peninggalan masa Mataram Kuno. Tuk Bima Lukar menjadi bukti bahwa Dieng tidak hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan spiritual masyarakat pada masa lampau.
Wed, 28 Oct 2026

Super Air Jet
Jakarta (CGK) ke Semarang (SRG)
Mulai dari Rp 688.200
Sun, 1 Nov 2026

Batik Air
Pangkalan Bun (PKN) ke Semarang (SRG)
Mulai dari Rp 1.159.600
Wed, 28 Oct 2026

Lion Air
Banjarmasin (BDJ) ke Semarang (SRG)
Mulai dari Rp 1.266.700
Nama Tuk Bima Lukar berkaitan dengan legenda Bima, salah satu tokoh Pandawa dalam pewayangan. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Bima pernah melakukan perjalanan dan bersuci di tempat ini sebelum memulai tugasnya.
Kisah lain menghubungkan Bima dengan terbentuknya aliran sungai di kawasan tersebut. Konon, setelah melihat seorang perempuan cantik, Bima mengucapkan kata sira ayu, yang kemudian dikaitkan dengan nama Sungai Serayu.
Tuk Bima Lukar juga dikenal melalui kepercayaan masyarakat bahwa airnya dapat membuat seseorang awet muda. Kepercayaan ini menjadi salah satu cerita yang membuat wisatawan tertarik untuk singgah. Namun, anggapan mengenai khasiat awet muda belum terbukti secara ilmiah.
Bagi pengunjung, daya tarik utamanya tetap terletak pada perpaduan antara mata air alami, peninggalan sejarah, dan cerita rakyat yang melekat pada situs ini.
Tuk Bima Lukar menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi Dieng yang identik dengan panorama pegunungan. Berikut beberapa hal yang membuat situs ini menarik untuk dikunjungi.
Mata air ini dikenal sebagai salah satu titik awal aliran sungai yang berperan penting bagi kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Dari sumber yang relatif kecil, aliran air kemudian menjadi bagian dari sistem sungai yang melintasi berbagai daerah.
Kunjungan ke sini juga bisa menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga sumber mata air sebagai bagian dari ekosistem.
Di area Tuk Bima Lukar, pengunjung dapat melihat pancuran batu yang menjadi bagian dari jejak arkeologi situs tersebut.
Pancuran ini dikenal sebagai jaladwara, elemen yang berkaitan dengan sistem pengaliran air pada bangunan kuno. Meski peninggalan yang tersisa terbatas, keberadaannya memberikan gambaran tentang penggunaan air dalam tradisi masyarakat masa lampau.
Berada di kawasan Dieng, Tuk Bima Lukar dikelilingi udara pegunungan yang bersih dan sejuk. Suasana ini memberikan pengalaman singgah yang berbeda dari keramaian destinasi wisata utama.
Lokasinya juga berada di jalur menuju kawasan wisata Dieng dari arah Wonosobo. Karena itu, wisatawan dapat memasukkannya ke dalam rencana perjalanan tanpa harus menyediakan satu hari khusus.
Tuk Bima Lukar menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin melengkapi perjalanan dengan kunjungan ke situs yang tidak sebesar objek wisata utama. Tempat ini juga bisa menjadi pengantar sebelum menjelajahi peninggalan Hindu kuno di kompleks percandian Dieng.
Tuk Bima Lukar berada di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Situs ini terletak di tepi jalur utama Wonosobo–Dieng sehingga bisa disinggahi dalam perjalanan menuju kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Dari pusat Kota Wonosobo, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Kejajar melalui jalur Wonosobo–Dieng. Ikuti jalan utama hingga memasuki Desa Dieng, lalu gunakan aplikasi navigasi untuk memastikan titik lokasi agar tidak terlewat, terutama jika baru pertama kali berkunjung.
Jika ingin lebih leluasa menjelajahi Tuk Bima Lukar sekaligus destinasi lain di sekitar Dieng, kamu bisa membawa kendaraan pribadi atau menyewa mobil di Traveloka.
Tuk Bima Lukar dapat menjadi persinggahan singkat saat menjelajahi kawasan Dataran Tinggi Dieng. Berikut perkiraan informasi kunjungan yang perlu kamu ketahui.
Biaya dan ketentuan kunjungan dapat berubah sewaktu-waktu, jadi sebaiknya konfirmasikan kembali sebelum berangkat.
Karena Tuk Bima Lukar memiliki nilai sejarah dan budaya, pengunjung juga perlu menjaga kebersihan serta menghormati aturan setempat. Jika ada masyarakat yang sedang melakukan ritual, jaga jarak dan hindari mengganggu jalannya kegiatan.
Agar kunjungan lebih nyaman dan tetap menghormati nilai sejarah situs, perhatikan beberapa tips berikut:
Setelah singgah di Tuk Bima Lukar, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi yang memperlihatkan sisi alam dan sejarah Dieng.
Kompleks Candi Arjuna merupakan salah satu peninggalan Hindu kuno paling dikenal di Dieng. Kawasan ini terdiri atas beberapa bangunan candi yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Arsitekturnya menawarkan gambaran tentang perkembangan peradaban Hindu di Jawa pada masa lampau.
Kawah Sikidang menawarkan pemandangan aktivitas vulkanik berupa uap dan lumpur panas yang muncul dari permukaan tanah. Berbeda dari suasana tenang Tuk Bima Lukar, destinasi ini memperlihatkan karakter geologi aktif Dataran Tinggi Dieng.Pengunjung dapat mengamati kawah dari jalur yang disediakan.
Telaga Warna dikenal karena tampilan airnya yang dapat memperlihatkan beragam warna akibat kandungan mineral dan pantulan cahaya. Kamu bisa mengunjungi tempat ini untuk menikmati suasana Dieng dari sudut yang berbeda setelah menjelajahi situs sejarah.
Museum Kailasa menyimpan koleksi yang berkaitan dengan sejarah, arkeologi, dan kebudayaan kawasan Dieng. Dengan mengunjunginya, kamu bisa belajar konteks sejarah peninggalan Hindu kuno yang tersebar di dataran tinggi tersebut.
Batu Pandang Ratapan Angin menawarkan sudut pandang dari ketinggian untuk melihat kawasan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Dari titik pandang ini, kamu bisa menikmati pemandangan perbukitan dan telaga yang menjadi ikon Dieng. Gunakan alas kaki yang nyaman dan tetap berhati-hati saat berjalan di jalur menuju area pandang.
Agar kamu lebih leluasa menjelajahi banyak tempat menarik di Dataran Tinggi Dieng, pilih penginapan yang lokasinya strategis untuk mengunjungi banyak tempat sekaligus. Berikut beberapa rekomendasi hotel dengan pilihan suasana dan fasilitas yang patut dipertimbangkan.
Harga kamar: mulai Rp714.289 per malam
Berjarak sekitar 4,5 km atau 8 menit berkendara dari Tuk Bima Lukar, LuxCamp Dieng By Horison dikelilingi lanskap pegunungan dan hijaunya alam Dieng. Akomodasi ini menawarkan konsep glamping dengan tenda nyaman yang dilengkapi fasilitas modern, sehingga kamu bisa merasakan suasana berkemah tanpa harus meninggalkan kenyamanan.Tersedia pula area bersantap terbuka untuk menikmati hidangan sambil memandangi pemandangan alam sekitar.
Harga kamar: mulai Rp537.673 per malam
Jika mencari penginapan bernuansa alam dengan harga lebih terjangkau, Sikunir Pondok Cabin By Travelink bisa menjadi pilihan. Akomodasi ini berjarak sekitar 5 km atau 12 menit berkendara dari Tuk Bima Lukar, sehingga masih praktis dijadikan tempat beristirahat selama menjelajahi kawasan Dieng. Penginapan ini menawarkan suasana tenang di dataran tinggi dengan udara sejuk dan pemandangan pegunungan.
Harga kamar: mulai Rp959.017 per malam
Bagi kamu yang mengutamakan kenyamanan hotel dengan fasilitas lebih lengkap, Amerta Giri Hotel Dieng dapat dipertimbangkan. Jaraknya sekitar 15 km atau 27 menit berkendara dari Tuk Bima Lukar. Meski membutuhkan waktu perjalanan lebih lama, hotel ini bisa menjadi pilihan untuk menjelajahi sejumlah objek wisata di kawasan Dieng.
Catatan: Harga kamar merupakan informasi awal dan dapat berubah sesuai tanggal menginap, tipe kamar, serta ketersediaan.
Tuk Bima Lukar bukan destinasi yang membutuhkan waktu kunjungan panjang. Jadi, jangan puas dan berhenti di Tuk Bima Lukar saja. Lanjutkan perjalanan menelusuri sejarah Hindu kuno ke Kompleks Candi Arjuna, melihat aktivitas vulkanik di Kawah Sikidang, atau bersantai di tepi Telaga Warna untuk menikmati panorama alam Dieng.
Agar bisa menjelajahi lebih banyak tempat tanpa terburu-buru, susun rencana perjalanan sejak awal bersama Traveloka. Pesan tiket kereta api menuju kota terdekat, temukan hotel di sekitar Dieng untuk beristirahat, lalu pertimbangkan sewa mobil agar lebih leluasa berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain.







