Unduh Aplikasi
IDR
Pay
Log In
Daftar
Transportasi
Tempat Menginap
Aktivitas dan Hiburan
Tagihan & Isi Ulang
Produk Tambahan
traveloka
Explore
0

Anna Cendana

21 Sep 2022 - 3 min read

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Cacar Monyet dan Cacar Air

Cacar monyet sedang menjadi topik hangat dalam beberapa bulan terakhir. Virus yang awalnya terjadi dan menjadi endemik di Afrika ini ternyata sudah pernah mampir di Indonesia, meskipun penderitanya sudah dinyatakan sembuh.

Lalu bagaimana dengan cacar air? Apakah kedua infeksi virus cacar ini serupa? Jika tidak, apa perbedaannya? Kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di bawah ini.

Apa Itu Cacar Monyet?

Sumber: Gerd Altmann/Pixabay

Cacar monyet atau monkeypox merupakan penyakit yang cukup langka. Penyebab cacar monyet adalah virus monkeypox, yang menyebabkan penderitanya mengalami ruam-ruam. Bahkan beberapa gejala awal mirip dengan flu.

Awalnya penyakit ini ditemukan di sekelompok monyet yang digunakan untuk riset kesehatan. Pada umumnya, penularan bisa terjadi jika manusia memiliki kontak langsung dengan hewan yang membawa virus.

Namun saat ini penularannya juga bisa lewat kontak erat dengan penderitanya. Penyakit monkeypox terbilang langka, namun angka kasusnya meningkat pesat di Afrika. Bahkan beberapa negara, termasuk Indonesia, sudah mencatatkan kasus monkeypox.

Monkeypox dapat menyerang siapa saja. Namun di Afrika sendiri penyakit ini lebih umum menjangkiti anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Lalu di negara lain, monkeypox lebih banyak menyerang laki-laki – berbagai faktor eksternal memengaruhi kondisi tersebut.

Gejala Cacar Monyet

Apabila seseorang terpapar virus monkeypox, biasanya gejala dan tanda-tandanya baru akan muncul berhari-hari setelahnya. Bahkan pada beberapa kasus tanda-tanda cacar baru muncul setelah dua minggu. Seperti penjelasan sebelumnya, beberapa gejala awal dari virus yang satu ini mirip dengan flu, seperti:

Demam.
Meriang.
Sakit kepala yang tidak kunjung sembuh.
Nyeri otot dan sendi-sendi terasa lemas.
Kelelahan tanpa sebab.
Pembengkakan kelenjar getah bening.

Setelah beberapa hari berlalu, ruam-ruam biasanya akan muncul dan berkembang. Ruam akan muncul dengan bentuk pipih dan nantinya akan berubah menjadi benjolan.

Terlihat seperti herpes namun memberikan sensasi nyeri. Benjolan tersebut lama-lama akan berisi cairan yang nantinya akan pecah dengan sendirinya. Serangkaian proses di atas biasanya berlangsung hingga empat minggu lamanya.

Selama itu, penderita yang terpapar monkeypox juga merasakan nyeri telan dan tidak nyaman ketika buang air. Namun perlu kamu ingat bahwa tidak semua orang yang terpapar mengalami gejala di atas.

Bahkan outbreak yang terjadi baru-baru ini di Afrika Barat menunjukkan bahwa banyak kasus monkeypox tidak menunjukkan tanda-tanda di atas.

Bagaimana Cara Pencegahan Cacar Monyet?

Mencegah penularan dari virus yang satu ini sangat memungkinkan. Salah satunya adalah melindungi diri dengan vaksin cacar – meskipun saat ini belum tersedia secara umum. Untuk mencegah penularan monkeypox, kamu bisa mengikuti beberapa tips berikut.

Hindari kontak dengan hewan yang sakit.
Masak bahan makanan hewani hingga benar-benar matang.
Selalu cuci tangan dengan sabun.
Lindungi diri dengan masker dan alat kesehatan lainnya jika merawat pasien monkeypox.
Gunakan pelindung ketika berhubungan seks.

Namun jangan khawatir, infeksi cacar yang satu ini bisa sembuh. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pasien bisa sembuh tanpa pengobatan khusus. Tapi akan lebih baik jika kamu segera periksa atau konsultasi ke dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas, apalagi setelah ada kontak dengan pasien monkeypox

Apa Itu Cacar Air?

Sumber: Canva

Cacar air atau chickenpox merupakan infeksi virus varicella-zoster. Infeksinya menyebabkan penderita penyakit ini mengalami rasa gatal dan seringkali diiringi dengan benjolan kecil berisi air.

Penyakit ini sangat menular dan penularannya cukup cepat, apalagi terhadap orang-orang yang belum pernah terserang cacar jenis ini sebelumnya. Untuk menghindari infeksi dari virus ini, pemerintah mewajibkan vaksin cacar untuk posyandu.

Seperti penjelasan di atas, cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster. Penularannya bisa terjadi akibat kontak langsung dengan ruam yang muncul di kulit. Bahkan segala bentuk cairan, seperti bersin maupun batuk bisa menjadi media penularan penyakit yang satu ini.

Gejala Cacar Air

Setelah penderita terpapar virus chickenpox, ruam dan benjolan akan muncul setidaknya 10 hari kemudian. Namun beberapa gejala muncul sebelum ruam-ruam muncul di kulit. Beberapa gejalanya meliputi:

Demam.
Kehilangan selera makan.
Sakit kepala.
Kelelahan.

Nantinya setelah ruam muncul, setidaknya penderita akan mengalami tiga tahapan, seperti:

Muncul benjolan kecil yang menyebar dalam beberapa hari.
Benjolan akan terisi cairan dan akan pecah sendiri.
Luka mengering, meninggalkan bekas dan perlu beberapa hari untuk sembuh.

Benjolan-benjolan baru akan bermunculan selama beberapa hari hingga masa infeksi berhenti. Namun perlu kamu ingat, proses penularan bahkan bisa terjadi sebelum kamu melihat ruam kemerahan muncul di kulit.

Chickenpox tergolong penyakit yang ringan dan sering menyerang anak-anak. Namun jika kondisinya cukup parah, cacar bisa muncul di seluruh tubuh, dari tenggorokan, mata, bahkan anus.

Sebaiknya kamu tidak memencet, memegang, atau menggaruk benjolan tersebut meskipun gatal. Apabila benjolan tersebut pecah sebelum waktunya maka akan meninggalkan bekas luka yang perlu waktu cukup lama untuk hilang.

Bagaimana Mencegah Cacar Air?

Beberapa orang percaya bahwa sistem imun manusia memiliki pertahanan yang lebih baik jika pernah terserah chickenpox setidaknya sekali dalam hidupnya. Oleh karena itu, orang dewasa yang belum pernah terserang cacar memiliki waktu sembuh yang lebih lama.

Salah satu cara yang paling efektif adalah memberikan vaksin cacar secara berkala. Meskipun vaksin tidak memberikan perlindungan 100%, setidaknya hal tersebut meringankan gejala secara signifikan apabila suatu saat kamu terpapar varicella-zoster.

Lalu, apabila kamu tertular dan gejalanya cukup parah, maka sebaiknya kamu segera menghubungi dokter. Nikmati layanan konsultasi online dengan dokter berpengalaman di Traveloka Health.

Selalu Tahu Kabar Terbaru
Dapatkan berbagai rekomendasi travel & gaya hidup serta info promo terkini dengan berlangganan newsletter kami.
Langganan