peringatan

5 Tips Untuk Sukses Dalam Mendesain Menu Restoran

Tahukah kamu bahwa menu memiliki peranan penting saat pelanggan memulai pengalamannya makan di restoran. Kita pasti pernah berada pada situasi canggung ketika sedang bingung membolak-balikan buku menu untuk menemukan menu yang pas untuk dipesan. Tidak hanya itu, terlalu banyaknya pilihan yang tersedia, nama makanan yang kurang informatif serta gambar yang kurang jelas membuat kita ragu untuk menentukan pesanan. Hal ini meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan bagi pelanggan sehingga memperkecil kemungkinan untuk mereka kembali lagi ke restoranmu. Menu yang didesain dengan baik akan membantu pelanggan untuk memilih hidangan yang tepat.


Artikel ini akan membahas terkait 5 trik yang dapat membantumu memaksimalkan menu restoranmu.


1. Buat halaman terpisah untuk menu andalan

Kita dapat mempermudah pelanggan dalam memilih hidangan dengan membuat halaman depan yang berisikan kumpulan menu andalan. Anggapan bahwa menu andalan adalah menu yang paling enak dan paling laris akan memberikan rasa aman dari kesalahan dalam menentukan hidangan yang dipesan (menu yang kurang enak). Di Traveloka Eats, kamu bisa menampilkan menu andalan dari restoranmu untuk dipasarkan kepada pengguna Traveloka.


2. Gunakan foto berukuran besar untuk menu andalan

Berdasarkan riset dari menu engineer Gregg Rapp, makanan dengan foto yang menarik dapat meningkatkan penjualan hingga 30% karena foto makanan yang terlihat lezat dapat menggugah selera makan. Kita dapat menampilkan makanan khas (signature) restoran kita dengan foto yang berukuran lebih besar untuk untuk meningkatkan peluang terpilihnya menu tersebut.

Uniknya dengan adanya kemajuan teknologi, terdapat beberapa restoran yang justru tidak mencantumkan foto makanan mereka di dalam buku menunya, namun menggantinya dengan menuliskan akun Instagram untuk diakses oleh pengunjung jika ingin melihat foto-foto hidangan yang dijual di restoran tersebut.

Selain buku menu, kita juga harus memastikan bahwa menu digital yang kita unggah pada marketing platform seperti Traveloka Eats memiliki resolusi yang tinggi dengan pencahayaan yang tepat, sehingga pengguna dapat dengan mudah untuk mengetahui hidangan yang dijual.


3. Jangan terlalu banyak pilihan pada menu

Pilihan yang terlalu banyak tentunya akan merepotkan pelanggan, mereka harus menghabiskan waktu yang cukup lama dalam membaca dan memahami begitu banyak pilihan yang disediakan. Selain itu, hal ini juga berdampak pada sulitnya karyawan dalam mengelola menu yang dimiliki, seperti memahami perbedaan tiap pilihan pada menu, ketersediaannya hingga mengingat resep untuk membuat menu tersebut Idealnya dalam 1 kategori menu (misalnya pasta, nasi, sushi), hanya terdapat 10 pilihan di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi performa penjualan masing-masing hidangan untuk mengoptimalkan susunan pilihan hidangan pada buku menu seperti mengeliminasi menu/hidangan yang tidak laku ataupun menggantinya dengan menu/hidangan yang baru.


4. Tulis hidangan yang lebih mahal pada bagian atas menu

Dalam memilih menu, biasanya orang akan membacanya dari atas ke bawah. Sehingga proses membandingkan harga juga dilakukan dari atas ke bawah. Dengan meletakkan pilihan hidangan yang lebih mahal diatas akan menimbulkan kesan bahwa hidangan dibawahnya terlihat murah. Contohnya jika pada pilihan hidangan teratas terdapat truffle pasta seharga Rp 500.000 dan pada pilihan dibawahnya terdapat clam pasta dengan harga Rp 200.000, maka clam pasta akan terkesan cukup murah meskipun sebetulnya Rp 200.000 adalah nominal yang tidak murah untuk seporsi clam pasta.


5. Penggunaan kata-kata yang menarik

Jika kita bandingkan antara dua nama hidangan berikut, "Nasi Goreng" dan "Nasi Goreng with Crispy Prawn and Locally-Sourced Cabbage", tentunya nama hidangan kedua lebih menarik perhatian kita meskipun keduanya adalah menu Nasi Goreng. Hal ini disebabkan karena kita cenderung ingin tahu terhadap sesuatu yang menarik. Berikut adalah berapa kata yang bisa dimanfaatkan dalam menamai suatu hidangan: “crispy”, “braised”, “pan-fried”, “locally-sourced”, dan “aromatic”.


Perlu Bantuan?