Tolak

Bocah itu menangis. Menjerit keras sambil merobek permainan ular tangganya. Kamu mencoba menenangkan. Percaya diri karena hampir setiap hari kamu bermain dengan adik sepupumu yang seusia bocah itu. Namun, bukannya berhenti menangis, anak itu malah memanggil ayahnya.

Terdengar suara pintu di ruangan terbuka. Seorang pria botak, tinggi, besar, dan berperawakan kasar keluar.

“Kakak ini curang!” rengek bocah itu.

Kamu mencoba menjelaskan pada ayah, kakak, kakek, atau apa pun hubungan pria besar itu dengan si bocah, tapi dia tak mau mendengar.

Ia mengangkatmu dengan mudah, menendang pintu, lalu membantingmu ke jalan. Kamu pun basah kuyup karena hujan.

PERGI DARI SINI!

Hardik pria besar itu sebelum menutup pintu.

Kamu mengaduh di aspal. Tanganmu lecet, dan pakaianmu basah. Saat hendak bangkit, barulah kamu sadar kalau sedang dikepung empat orang. Mereka berjubah putih, berpayung putih, bahkan kulitnya juga putih. Hanya lingkaran matanya saja yang merah.

Kamu bertanya-tanya, siapa mereka, tapi mereka lebih suka menjawab dengan tangan. Salah seorang dari mereka memukulmu hingga pingsan. Selanjutnya, tak ada yang tahu ke mana mereka membawamu pergi.