Check-in tertulis pukul 14.00, tapi saya baru bisa masuk kamar pukul 15.47—artinya menunggu lebih dari satu jam. Saat itu saya sudah sangat lelah, kepanasan, dan sedang berpuasa. Saya diminta menunggu, tetapi tidak dipanggil. Ketika saya tanyakan kembali, ternyata kamar sudah siap dari tadi. Di waktu yang sama, ada tamu lain yang baru check-in kembali ke resepsionis untuk komplain karena memesan kamar non-smoking, tetapi kamarnya berbau rokok sangat menyengat. Setelah tamu tersebut pergi, resepsionis perempuan terlihat memberikan tatapan sinis dari belakang, yang menurut saya kurang sopan. Saat saya masuk kamar, juga tercium bau lembap. Mungkin di hari biasa harga hotel ini memang murah sehingga kualitasnya sesuai, tetapi saat saya menginap sedang high season dengan harga lebih tinggi, ekspektasi tentu berbeda. Kedua, saat saya meminta air mineral (karena kamar belum dibersihkan pagi harinya, jadi saya yang request), pelayanannya sangat lambat. Saya sampai harus menelepon dua kali dan menunggu sekitar 40 menit hanya untuk dua botol air. Padahal jika harus mengambil sendiri, sebenarnya saya tidak keberatan. Ketiga, saat sarapan, saya sudah konfirmasi ke resepsionis laki-laki (yang juga kurang ramah) dan diberi izin untuk langsung masuk. Namun ketika saya sudah mengambil minum, staf restoran menatap saya dari jauh dengan tidak nyaman, lalu menghampiri dan menanyakan nomor kamar. Kenapa tidak langsung ditanyakan sejak awal saat saya masuk, melainkan setelah saya sudah mengambil minuman? Hal ini membuat saya merasa tidak nyaman, seolah-olah saya mengambil sesuatu yang bukan hak saya. Kesimpulannya, resepsionis perempuan kurang sigap, dan resepsionis laki-laki kurang ramah. Mungkin saya sedang sensitif, tetapi membuat tamu merasa tidak nyaman seharusnya bukanlah hal yang wajar dalam pelayanan.