Promo
Jadi Partner Traveloka
Simpan
Pesanan Saya
IDR
Pay
Log In
Daftar
0
Review Habibie & Ainun 3: Cinta Masa Lalu Ainun

Sebuah review film oleh @ulasinema

Source: IMDB

Pengujung tahun ini MD Entertainment kembali merilis film yang diangkat dari kisah perjalanan hidup Presiden ke-3 Indonesia, B.J. Habibie dan Ibu Negara, Hasri Ainun Habibie. Berbeda dengan dua karya sebelumnya, film terbaru garapan Hanung Bramantyo ini mengangkat kehidupan Ainun muda dalam merengkuh cita-citanya menjadi dokter dan juga memuat kisah romansa Ainun muda. Kisah ini diwujudkan secara menarik dan dramatik.

Film ini dibuka dengan adegan yang sangat emosional ketika Habibie berkunjung ke makam Ainun selepas setahun kepergian belahan jiwanya. Kunjungan tersebut membuatnya kembali bernostalgia. Di depan anak-anak dan cucu-cucunya, Habibie bercerita tentang masa lalu ibu dan eyang mereka. Tuturan Habibie yang diperankan Reza Rahadian tersebut membawa kita pada perjalanan masa muda Ainun. 

Kisah tersebut menuntun kita untuk melihat momen Ainun dan Habibie pertama kali bertemu di Bandung saat mereka masih duduk di sekolah menengah atas. Habibie meledek Ainun. Ia bilang Ainun mirip gula jawa. Hal tersebut mengingatkan kita pada film pertama, Habibie & Ainun (2012). Singkat kisah, keduanya berbincang dan mengutarakan keinginan untuk melanjutkan studi perguruan tinggi. Habibie memilih jurusan teknik; Ainun memilih jurusan kedokteran.

Ainun muda yang diperankan oleh Maudy Ayunda digambarkan sebagai perempuan yang gigih, cerdas, dan pantang menyerah. Ia mengerahkan segala kemampuannya untuk menjadi dokter yang andal. Digambarkan pada tahun tersebut perempuan dianggap tidak mampu menjadi dokter. Ainun coba melalui semua rumitan yang silih berganti datang, terutama anggapan bahwa perempuan selalu berada di bawah laki-laki dan perempuan takmampu menjadi dokter. 

Pemilihan isu dalam film ini sangat relevan. Ainun manjadi wakil suara perempuan pada zamannya, hingga kini. Ainun menggugat habis anggapan bahwa perempuan tidak bisa meraih capain pria pada bidang-bidang keilmuan. Penulis skenario mampu menangkap fenomena ini dan mewujudkannya dalam sinema. Ia tidak menggambarkannya dengan njelimet ataupun memaksa. Isu yang kompleks dapat digambarkan dalam hal-hal yang sederhana.

Beralih pada kisah romansa saat Ainun muda, saat masih berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ainun bertemu dengan pria bernama Ahmad (Jefri Nichol). Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia tersebut jatuh hati dengan Ainun. Dalam beberapa kesempatan Ahmad berusaha keras untuk menarik hati Ainun. Kisah romansa ini secara menarik digambarkan oleh Hanung.

Kisah romansa antara Ainun dan Ahmad digambarkan dengan romantis. Obrolan yang intens soal remeh-temeh hingga serius, menyatu dengan riuh malam, dan duduk santai sambil mendengar desir ombak jadi gambaran yang manarik. Selain itu, keduanya keduanya pun saling mendukung akan minat masing-masing dalam keilmuan. Ahmad tekun menemani Ainun saat blusukan ke perkampungan kumuh untuk memberi bantuan medis.

Hanung selaku sutradara dapat menggambarkan latar kehidupan mahasiswa pada tahun 1950-an. Jargon buku, pesta, dan cinta yang dikenal mahasiswa tempo duludiwujudkan dengan memikat. Seperti diketahui, selain giat menuntut ilmu, mahasiswa pada masa itu digambarkan juga suka berjoget di lantai dansa. Momen itu divisualisasikan dengan meriah. Untuk menebalkan nuansa era itu, Ainun dan kawan-kawannya tampak mengenakan mode pakaian dengan warna mencolok dan tatanan rambut yang khas.

Secara keseluruhan, film yang didedikasikan untuk B.J. Habibie yang telah berpulang beberapa bulan lalu mampu membawa kita untuk menyelami rajut romansa antara Habibie dan Ainun secara lebih dalam. Film ini sebagai penggenap dua film sebelumnya: berhasil membuat kita memahami usaha sunguh-sungguh Ainun untuk memberikan kontribusi untuk sekitar dan negara dalam lingkup yang lebih besar. Kita diajak mengenali Ainun secara dekat dan dalam, terutama dalam mengerahkan keahlian yang dimiliki untuk sesama. 

Selain tawaran isu yang menarik, Hanung mewujudkan kisah ini dengan emosional, ada unsur kelucuan, kekesalan, kebahagian, dan kesedihan sebagaimana kehidupan adanya. Seni visual dalam film ini juga memanjakan mata penonton. Lalu, satu hal yang tak boleh dilupakan, Reza Rahadian memerankan Habibie dengan apik. Begitu juga dengan akting Maudy Ayunda dan Jefri Nichol.

Jangan sampai lewatkan kisah Ainun muda ini di bioskop mulai 19 Desember 2019. Menonton bersama orang tersayang akan lebih bermakna. Agar tidak terlewat momennya, beli tiket nonton Habibie & Ainun di Traveloka Xperience. Saat ini sedang ada diskon 50% hingga Rp30.000 untuk pembelian 2 tiket mulai dari 14 – 20 Desember 2019 di Cinepolis. Tak lupa, untuk menambah kesan, fitur add-on bisa kamu gunakan untuk pembelian camilan dan minuman selama menonton.

Tags:
Habibie Ainun 3
Review Habibie Ainun 3
Ulasinema