Promo
Jadi Partner Traveloka
Simpan
Pesanan Saya
IDR
Pay
Log In
Daftar
0
Review Film Milea: Suara dari Dilan yang Yah... Gitu Deh

Oleh Stephany Josephine (Teppy)

Tahun 2018 lalu Indonesia sempet dihebohkan sama kehadiran satu icon pemuda SMA yang jago banget ngegombal. Milea yang dideketin, kita yang pengen pacaran. Walau untuk sebagian orang gombalan-gombalannya mungkin cringey, tapi waktu itu tuh Dilan kayak “angin segar” buat perfilman kita.

Film soal percintaan masa SMA sih banyak, yang kisahnya lebih njelimet mungkin ada, dan kalo nyari yang lebih ganteng? Pasti bertebaran juga, nggak di bioskop, nggak di TV.

Tapi Dilan tuh unik. Gombalannya out of the box. Tengil tapi bikin gemes. Siapa lagi coba yang PDKT pake TTS yang udah diisi, atau kerupuk kampung yang dibagi dua untuk bekal Milea pulang? Mileanya juga muka malu-malunya pure banget. Bener-bener kisah cinta pertama yang ngegemesin abis.

Makanya, buat gue tuh film ini sakral. Tingkat kegemasannya harusnya dijaga dan berhenti sampe situ aja, karena kalo kita disodorin hal yang sama terus menerus, udah pasti akan ada bibit-bibit bosen.

Sama ketika gue tau AADC (Ada Apa Dengan Cinta?) bakal dibikin AADC 2, yang walaupun membangkitkan nostalgia, tapi kesakralan AADC yang udah selegendaris itu jadi hilang. Yah, menurut gue aja, sih… soalnya di gue, AADC 2 jatuhya nggak se-”greget” itu. Malah lebih greget versi iklannya lima tahun lalu.

Balik lagi ke Dilan. Gue kan nggak baca bukunya ya, tapi gue tau Dilan itu emang ada tiga seri buku. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea: Suara dari Dilan. Gue tetep berpegang ke prinsip bahwa Dilan harusnya berhenti di 1990 aja.

Bukan masalah kita nggak mau nerima kenyataan yah. Emang sih di Dilan 1991 hubungan mereka lebih banyak cobaan, yang mana wajar banget. Realistis. Bukan karena gue nggak mau kisah manis Dilan-Milea di tahun 1990 jadi sepet, tapi karena gombalan Dilan di 1991 makin cringey dan repetitif. Pesonanya udah menurun.

Kalo di Dilan 1991 versi film, gue sih tim Milea, karena di situ gue nangkepnya Dilannya yang lebih rese. Ya pantes Milea jadi males.

Naaah… di Milea: Suara dari Dilan ini, semua cerita dari sudut pandang Dilan dijelasin. Bahkan diulang dari awal. Jadi separuh lebih film ini ya kayak ngulang Dilan 1990 dan Dilan 1991 aja gitu. Hahaha… Tau gitu gue nggak usah bela-belain nonton ulang filmnya dulu kalo emang bakal direcap juga di film ini.

Di Milea: Suara dari Dilan, kita jadi tau persis apa yang dipikirin dan dirasain Dilan. Di sini gue malah jadi tim dia ketimbang Milea yang baru ngelotok rese’nya. Hey manusiaaa, jadi orang jangan terlalu ngatur! Entar pacarnya kabur!

Iqbaal bermain dengan baik dan lebih matang di sini (Dilan 1991 dan Milea: Suara dari Dilan ini syutingnya barengan). Vanesha juga, tapi Iqbaal, mungkin karena porsinya banyak, jadi jauh lebih mencolok aktingnya. Dari semua castnya, gue cuma paling suka dia.

Terus dari alur cerita gimana? Nah, untuk sebuah penutup trilogi, film ini buat gue datar dan cukup dragging. Sayang banget, padahal buat penutup harusnya bisa lebih ”nendang.” Iya sih, ceritanya disadur dari buku, bukan ceritanya yang harus diubah, tapi cara menyajikannya.

Sebenernya komen gue lebih banyak dari ini, tapi gue mau fokus ke chemistry Milea dan Mas Herdi yang anyep dan nggak kayak pasangan (yang udah tunangan pula!), dan bentukan Milea dan Dilan ketika tujuh tahun lebih tua yang nggak ada bedanya sama pas masih SMA, cuma beda di make up sama baju aja. Potongan rambut aja sama. WHY.

Milea dan Dilan waktu memasuki usia kerja. Sama aja kan kayak SMA?

Menurut gue film ini masih layak ditonton untuk melihat akting Iqbaal semata dan dua adegan telepon, terutama adegan telepon terakhir yang lumayan memberi closure untuk semua, sembari neriakin dua bocah ini, “Makanya jangan keburu emosi!”

Tapi kita semua dulu pasti sama begonya juga dalam percintaan, bisa jadi lebih bego lagi. Kalau kita pinter, bisa-bisa Indonesia nggak akan punya Dilan sama Milea dan nggak bisa ngetawain kepolosan dan kebodohan mereka.

After all, film ini masih layak kok buat ditonton apalagi buat kamu fans keras Dilan atau Iqbaal. Film ini selain buat nostalgia bisa buat kamu belajar juga dari polosnya remaja-remaja tahun 90-an. After taste-nya gimana? Mending nilai sendiri setelah nonton ya!

Milea: Suara dari Dilan

Movie Traveloka Xperience

Tags:
review film milea: suara dari dilan
Review film