Austria bukan cuma soal Pegunungan Alpen dan musik klasik peninggalan Mozart. Negara kecil di jantung Eropa ini menyimpan istana kekaisaran yang berdiri lebih dari 600 tahun, desa tepi danau yang belakangan viral di media sosial, hingga tambang garam yang masih beroperasi sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Dari kota metropolitan Wina hingga pegunungan Tirol di barat, setiap sudut negara ini punya cerita sejarahnya sendiri.
Ada 13 tempat wisata di Austria yang sedang populer dan wajib dikunjungi, mulai dari istana megah Schönbrunn hingga desa dongeng Hallstatt yang jadi buruan fotografer dunia. Jika Anda sudah memesan Tiket Pesawat ke Wina lewat Traveloka, siapkan setidaknya 6-8 hari untuk menjelajahi seluruh destinasi dalam daftar ini.
Berikut daftar lengkap destinasi Austria, mulai dari istana kekaisaran, kota alpen, hingga desa yang belakangan ramai di media sosial.
Istana musim panas keluarga Habsburg ini berdiri di distrik Hietzing, Wina, dan menjadi pusat kekuasaan kekaisaran Austria selama lebih dari 600 tahun. Di dalamnya terdapat 1.441 ruangan bergaya barok, meski hanya sekitar 40 ruangan yang dibuka untuk publik lewat paket Grand Tour, lengkap dengan taman formal luas dan Schönbrunn Zoo yang diklaim sebagai kebun binatang tertua di dunia.
Tiket masuk bervariasi tergantung paket, mulai sekitar EUR 24 (Rp410.000) untuk Grand Tour. Istana ini tetap jadi atraksi nomor satu di Wina berkat kombinasi sejarah kekaisaran dan taman yang bisa dijelajahi gratis tanpa tiket istana.
Tue, 15 Sep 2026

Air China
Jakarta (CGK) ke Vienna (VIE)
Mulai dari Rp 6.579.900
Wed, 26 Aug 2026

Lion Air
Bali / Denpasar (DPS) ke Vienna (VIE)
Mulai dari Rp 10.837.500
Sat, 12 Sep 2026

Air Arabia
Kuala Lumpur (KUL) ke Vienna (VIE)
Mulai dari Rp 5.739.300
Desa kecil di tepi Danau Hallstatt ini sudah dihuni lebih dari 7.000 tahun, dengan jejak penambangan garam sejak 2000 SM yang menjadikannya rumah tambang garam tertua yang masih beroperasi di dunia. Temuan arkeologi di sini bahkan melahirkan istilah "Kebudayaan Hallstatt" (800-400 SM) yang jadi rujukan sejarah Eropa, dan sejak 1997 kawasan ini masuk Situs Warisan Dunia UNESCO bersama wilayah Dachstein-Salzkammergut.
Belakangan, Hallstatt viral di media sosial berkat pemandangan rumah-rumah kayu yang berjajar rapi di tepi danau yang tampak seperti lukisan. Popularitasnya membuat desa berpenduduk hanya 737 orang ini dikunjungi hampir 1 juta wisatawan per tahun, dengan puncaknya mencapai 10.000 pengunjung per hari di musim ramai.
Didirikan pada 1995 di lahan seluas 7,5 hektare dan dirancang arsitek Norwegia Snøhetta, museum ini sekaligus berfungsi sebagai toko koleksi berlian Swarovski terbesar di dunia. Atraksi utamanya, Chambers of Wonder, menampilkan lebih dari selusin ruangan berbeda yang didekorasi kristal Swarovski, masing-masing dengan tema unik yang memberi pengalaman berbeda di setiap ruang.
Lokasinya di Wattens, sekitar 15 km dari Innsbruck, menjadikannya destinasi tambahan yang mudah disisipkan saat menjelajahi wilayah Tirol.
Biara Benediktin ini telah dihuni dan dikelola para biarawan sejak didirikan pada 1089, meski bangunan megah bergaya barok yang berdiri sekarang baru dibangun awal abad ke-18 oleh arsitek Jakob Prandtauer antara 1702-1736. Menjulang di atas bukit menghadap Sungai Danube di Wachau Valley, biara ini terkenal dengan perpustakaannya yang menyimpan lebih dari 100.000 buku langka, dengan 16.000 volume dipajang di aula utama berlangit-langit lukisan fresko.
Tiket masuk mulai EUR 10 (tanpa pemandu) hingga EUR 12 (dengan pemandu), setara Rp171.000-205.000, dengan tiket keluarga sekitar EUR 20-24. Popularitasnya kembali naik seiring makin banyak wisatawan yang menjadikan Wachau Valley sebagai day trip dari Wina.
Ibu kota wilayah Tirol ini terletak di Lembah Inn, dikelilingi Pegunungan Alpen yang membuatnya jadi destinasi empat musim, hijau di musim panas, bersalju di musim dingin. Landmark paling ikonik kotanya adalah Goldenes Dachl (Atap Emas), dibangun 1500 oleh Kaisar Maximilian I sebagai balkon kerajaan untuk menyaksikan turnamen di alun-alun bawahnya, dengan 2.657 lempeng tembaga berlapis emas yang berkilau, meski bukan emas asli.
Selain atap emas ini, Innsbruck juga punya cable car Nordkette yang langsung mengangkut pengunjung dari pusat kota menuju jalur pendakian pegunungan, serta Maria Theresien Strasse, jalan pejalan kaki berusia 700 tahun yang dipenuhi istana kecil dan kafe bergaya barok.
Tambang batu kapur di Burgenland ini telah beroperasi lebih dari 2.000 tahun, dengan batunya dulu dipakai membangun benteng Romawi Carnuntum hingga Katedral St. Stephen di Wina. Kawasan ini masuk Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2001, menjadikannya destinasi yang tepat bagi yang ingin memahami sejarah panjang di balik bangunan-bangunan ikonik Austria lainnya.
Tambang ini juga rutin menjadi lokasi festival opera outdoor musim panas, memanfaatkan akustik alami dinding batu kapurnya yang unik.
Pembangunan katedral ini dimulai 1137 dan rampung 1160, menjadikannya salah satu bangunan tertua di pusat kota Wina yang berfungsi ganda sebagai situs keagamaan sekaligus simbol nasional Austria — gambarnya bahkan muncul di mata uang negara ini. Pengunjung bisa naik lift menuju puncak menara untuk menikmati panorama kota Wina dari ketinggian.
Atap katedral yang terbuat dari 230.000 keping ubin berwarna-warni membentuk pola lambang kekaisaran Austria-Hongaria, detail yang sering terlewat wisatawan yang hanya melihat dari kejauhan.
Bekas istana kekaisaran yang berasal dari abad ke-13 ini kini berfungsi sebagai kediaman resmi Presiden Austria, terletak di jantung kota Wina. Di dalamnya, dinding berlapis emas dan lampu chandelier elegan berpadu dengan lukisan langit-langit yang rumit, menampilkan kemewahan era kekaisaran Habsburg yang masih terjaga hingga sekarang.
Kompleks ini juga menaungi Museum Sisi yang mengisahkan Permaisuri Elisabeth dari Austria, serta Spanish Riding School yang terkenal dengan pertunjukan kuda Lipizzaner.
Benteng abad pertengahan di puncak Bukit Festungsberg, Salzburg, ini membentang 250 meter panjang dan 150 meter lebar, menjadikannya salah satu benteng abad pertengahan terbesar yang masih utuh di Eropa. Dari puncaknya, pengunjung bisa menikmati panorama kota Salzburg dan pegunungan sekitarnya yang jadi latar terkenal film "The Sound of Music".
Funicular membawa pengunjung naik ke benteng dalam hitungan menit, alternatif bagi yang tidak ingin mendaki jalur curam menuju puncak bukit.
Wilayah yang membentang dari Salzburg hingga puncak Pegunungan Dachstein ini diakui UNESCO sebagai bagian dari lanskap budaya bersama Hallstatt, menawarkan danau berkilau, pegunungan megah, dan desa-desa kecil yang menawan. Selain Hallstatt, kawasan ini juga mencakup formasi batu Five Fingers yang menjorok di tebing curam untuk panorama lembah dari ketinggian ekstrem.
Kawasan ini cocok dijelajahi 2-3 hari tersendiri karena luasnya wilayah dan banyaknya desa kecil yang tersebar di sekitar danau-danaunya.
Baca Juga: 7 Makanan Khas Austria Ikonik & Paling Enak
Tur khusus ini membawa penggemar film "The Sound of Music" menyusuri lokasi syuting asli di Salzburg, termasuk Mirabell Gardens tempat adegan Maria dan anak-anak bernyanyi "Do-Re-Mi" difilmkan. Tur ini jadi cara populer memahami sisi budaya pop Austria yang mendunia lewat film klasik 1965 tersebut.
Harga tur mulai sekitar Rp1.292.253, biasanya berdurasi setengah hari dengan bus ber-AC berkeliling titik-titik syuting utama.
Layanan bus wisata fleksibel ini memungkinkan penumpang naik-turun di berbagai halte penting Wina sesuai keinginan, dengan tiket berlaku 24, 48, atau 72 jam. Cocok bagi wisatawan yang ingin menyusun itinerary sendiri tanpa terikat jadwal tur berpemandu, terutama untuk mencakup landmark yang tersebar jauh seperti Schönbrunn dan Prater.
Rute bus umumnya mencakup titik-titik utama seperti Hofburg, Katedral St. Stephen, dan Museum Quarter dalam satu tiket.
Taman hiburan keluarga di dekat Danau Neusiedl, Burgenland, ini menawarkan berbagai wahana, atraksi, dan pertunjukan yang cocok untuk anak-anak segala usia. Fasilitasnya mencakup zona pengalaman interaktif, area bermain, pertunjukan teater musikal, hingga wahana air yang jadi favorit di musim panas.
Taman ini jadi opsi tepat bagi keluarga yang ingin variasi setelah beberapa hari menjelajahi situs sejarah dan istana di Wina maupun Salzburg.
Idealnya 6-8 hari untuk mencakup Wina, Salzburg, dan Hallstatt secara nyaman tanpa terburu-buru, mengingat jarak antar kota yang butuh waktu tempuh 2-4 jam. Bila waktu terbatas, minimal 4-5 hari sudah cukup untuk fokus ke Wina dan sekitarnya, termasuk day trip ke Melk Abbey dan Wachau Valley yang hanya berjarak sekitar 1-1,5 jam dari ibu kota.
Menambahkan Innsbruck dan wilayah Tirol ke itinerary sebaiknya dialokasikan 2-3 hari tersendiri, mengingat jaraknya yang cukup jauh dari Wina di ujung barat negara ini.
Dari istana kekaisaran yang berdiri berabad-abad hingga desa tepi danau yang baru viral beberapa tahun terakhir, 13 destinasi di atas menunjukkan bahwa Austria terus punya alasan baru untuk dikunjungi kembali. Kombinasi sejarah panjang di Wina dan Salzburg, alam pegunungan di Tirol, serta desa-desa kecil yang menyimpan cerita ribuan tahun membuat negara ini cocok untuk berbagai gaya liburan.
Menyusun itinerary berdasarkan wilayah, Wina dan sekitarnya, Salzburg-Salzkammergut, lalu Tirol akan membantu meminimalkan waktu perjalanan antar kota sekaligus memaksimalkan waktu menikmati tiap destinasi.
Merencanakan perjalanan ke Eropa jadi lebih praktis lewat satu aplikasi. Sebagai platform travel terkemuka di Asia Tenggara yang dipercaya lebih dari 100 juta pengguna, Traveloka memungkinkan Anda memesan Tiket Pesawat ke Wina, Hotel di Wina, hingga Aktivitas di Austria tanpa harus berpindah-pindah situs atau aplikasi.
Untuk menjangkau destinasi yang tersebar antar kota seperti Hallstatt, Melk Abbey, atau Innsbruck, opsi sewa mobil dari Traveloka membantu Anda mengatur rute sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada jadwal kereta antar-kota. Pembayaran pun mudah lewat Traveloka PayLater, transfer bank, GoPay, OVO, atau dompet digital lainnya, unduh aplikasi Traveloka sekarang dan mulai rencanakan liburan Anda ke Austria.
Tags:
austria






