
Cita Rasa Sekilas: Makanan Khas Sintang
Bayangkan Anda berdiri di titik pertemuan dua sungai perkasa, Kapuas dan Melawi, di mana kabut tipis pagi hari menyelimuti dermaga kayu tua di Sintang. Udara tropis yang lembap membawa aroma yang sangat spesifik dan menggoda: wangi menyengat dari durian yang difermentasi, beradu dengan aroma asap dari ikan sungai yang dipanggang di atas bara kayu bakau. Di atas meja kayu sederhana, tersaji sebuah mahakarya kuliner dengan warna kuning keemasan yang berkilau, memancarkan uap panas yang sarat akan wangi kunyit dan serai. Inilah gerbang menuju makanan khas Sintang, sebuah perjalanan sensorik yang akan mengubah cara Anda memandang kekayaan rasa dari pedalaman Kalimantan Barat.
Secara geografis, Kabupaten Sintang merupakan wilayah yang dikaruniai oleh ekosistem perairan darat yang luar biasa. Berada di persimpangan sungai besar, Sintang tidak memiliki akses laut, namun ia memiliki "harta karun" berupa Ikan Sungai yang melimpah. Kelimpahan ikan seperti Lais, Baung, dan Jelawat memengaruhi hampir seluruh lini makanan tradisional Sintang. Tak hanya itu, hutan tropis yang mengepung wilayah ini menyediakan Durian hutan yang melimpah, yang oleh masyarakat setempat diolah menjadi bahan fermentasi untuk menjaga ketersediaannya sepanjang tahun. Geografi pedalaman ini menciptakan profil masakan yang "berani"—perpaduan antara hasil sungai yang gurih dan hasil hutan yang asam-pedas.
Sejarah gastronomi Sintang adalah narasi tentang harmoni antara etnis Dayak yang agraris-hutan dan etnis Melayu pesisir sungai yang dinamis. Identitas daerah ini terpahat kuat dalam teknik pengawetan alami. Mengapa fermentasi begitu dominan? Sejarah mencatat bahwa masyarakat Sintang menggunakan garam dan teknik fermentasi sebagai cara bertahan hidup untuk menyimpan stok pangan saat musim kemarau atau saat panen durian meluap. Menjelajahi kuliner Sintang bukan sekadar urusan perut, melainkan upaya memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan alam Kalimantan yang liar namun murah hati.

Sintang City Center

Bless Hotels

8.4/10
Sintang City Center
Rp 435.947
Rp 326.960
Filosofi & Sejarah:
Tempoyak adalah bukti nyata kecerdasan masyarakat Sintang dalam mengolah durian. Alih-alih dibuang saat musim panen raya, durian diolah menjadi bumbu masak yang prestisius. Bagi masyarakat lokal, tempoyak adalah penyambung rasa yang menyatukan setiap elemen hidangan.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Bahan utamanya adalah Durian yang difermentasi minimal tiga hari dengan sedikit garam. Rahasia kelezatannya terletak pada penggunaan Ikan Patin Sungai (bukan tambak) yang memiliki lapisan lemak lebih tipis namun daging yang lebih padat. Bumbunya melibatkan kunyit, cabai rawit yang melimpah, dan serai yang digeprek.
Profil Rasa:
Ledakan rasa pertama adalah asam yang tajam namun segar, diikuti oleh rasa manis samar dari durian dan diakhiri dengan rasa pedas yang membakar. Daging ikan patin yang lembut seolah lumer, menyerap kuah kental tempoyak yang aromatik.
Cara Penyajian:
Wajib dinikmati dengan nasi putih hangat dan lalapan pucuk ubi rebus untuk menetralkan rasa asam yang kuat.
Filosofi & Sejarah:
Meskipun populer di Kapuas Hulu, Kerupuk Basah di Sintang memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Namanya unik karena bentuknya yang silinder panjang menyerupai kerupuk namun dikonsumsi tanpa digoreng kering, melainkan dikukus.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Menggunakan Ikan Belida atau Ikan Lais yang digiling halus. Bahan rahasianya adalah rasio antara daging ikan dan tepung tapioka yang harus seimbang (dominan ikan). Bumbu halusnya terdiri dari bawang putih dan merica.
Profil Rasa:
Sangat gurih dengan tekstur yang kenyal (chewy) dan elastis. Setiap gigitan melepaskan sari pati ikan yang segar, tanpa aroma amis sedikit pun.
Cara Penyajian:
Disajikan dengan sambal kacang yang pedas-manis atau sambal cabai cair.
Filosofi & Sejarah:
Masakan ini adalah identitas masyarakat Dayak di Sintang. Umbut Rotan (ujung batang rotan yang masih muda) melambangkan hubungan erat antara manusia dan hutan. Proses pengambilannya yang sulit menjadikan hidangan ini spesial.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Batang Rotan muda yang dikupas kulit berduri hingga tersisa bagian dalamnya yang lunak. Dimasak dengan bumbu kuning yang kaya akan lengkuas dan kunyit. Seringkali dicampur dengan potongan ikan salai (ikan asap).
Profil Rasa:
Memiliki rasa pahit-gurih yang sangat khas dan menyegarkan. Pahitnya umbut rotan justru menjadi "pembersih lidah" yang menyeimbangkan rasa lemak dari ikan sungai.
Cara Penyajian:
Disajikan dalam mangkuk besar dengan kuah bening kekuningan yang aromatik.
Filosofi & Sejarah:
Pengasapan adalah teknik preservasi paling kuno di Sintang. Ikan Lais dengan bentuknya yang tipis dan panjang adalah kandidat terbaik untuk diasap karena kemampuannya menyerap aroma kayu bakar dengan sempurna.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Ikan Lais segar dijepit dengan bilah bambu lalu diletakkan di atas para-para bara api selama lebih dari 12 jam. Rahasianya adalah jenis kayu yang digunakan; biasanya kayu hutan tertentu yang tidak mengeluarkan getah pahit.
Profil Rasa:
Dagingnya menjadi kering dan renyah di bagian luar, namun tetap gurih di dalam. Aroma asapnya sangat kuat, memberikan dimensi rasa earthy dan smoky yang tidak bisa didapatkan dari teknik memasak modern.
Cara Penyajian:
Bisa dimakan langsung dengan sambal korek atau dimasak kembali menjadi gulai santan yang kaya bumbu.
Filosofi & Sejarah:
Jangan terkecoh namanya; bubur ini tidak selalu pedas cabai, melainkan "pedas" dari keragaman rempah. Hidangan ini dulunya adalah makanan penghemat saat masa sulit, di mana sedikit beras dicampur dengan banyak sayuran hutan.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Beras yang disangrai hingga kecokelatan lalu ditumbuk halus. Rahasianya adalah campuran puluhan jenis sayuran mulai dari Kangkung, Pakis, hingga Daun Kesum (yang memberikan aroma khas).
Profil Rasa:
Sangat kaya tekstur dengan aroma daun kesum yang tajam dan segar. Ada sensasi gurih dari campuran udang kering atau tetelan daging di dalamnya.
Cara Penyajian:
Disajikan panas dengan taburan kacang tanah goreng dan teri goreng di atasnya.
Filosofi & Sejarah:
Ini adalah kuliner paling unik secara visual di Sintang. Menggunakan kantong dari tanaman pemakan serangga (Nepenthes), hidangan ini menunjukkan betapa kreatifnya masyarakat dalam memanfaatkan wadah alami dari hutan.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Beras Ketan putih atau hitam yang dicampur dengan santan dan garam. Dimasukkan ke dalam wadah Kantong Semar yang sudah dibersihkan, lalu dikukus hingga matang.
Profil Rasa:
Gurih santan yang meresap sempurna ke dalam ketan. Uniknya, bagian dalam kantong semar memberikan lapisan tipis seperti kulit yang memberikan aroma "hutan" yang halus pada ketannya.
Cara Penyajian:
Sering disajikan saat hari raya atau acara adat sebagai pengganti nasi.
Filosofi & Sejarah:
Dipengaruhi oleh budaya Melayu, Kue Bingka adalah hidangan penutup wajib dalam setiap acara hajatan di Sintang. Ia melambangkan kemanisan hidup dan keramah-tamahan tuan rumah.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Campuran tepung terigu, telur, dan Santan kental. Rahasianya adalah teknik pemanggangan di atas cetakan berbentuk bunga dengan api atas-bawah yang membuat permukaannya berwarna cokelat karamel namun dalamnya tetap lembut.
Profil Rasa:
Sangat manis dan legit dengan tekstur yang creamy. Ada aroma wangi telur dan pandan yang semerbak saat kue ini dibelah.
Cara Penyajian:
Dipandankan dengan secangkir kopi hitam pahit khas Kalimantan.

Kumai

Private Local Heritage Tour to Pangkalan Bun - 1-Day Tour

9.0/10
Kumai
Rp 1.196.000
Rp 1.016.600
Masyarakat Sintang memiliki tradisi makan bersama yang sangat kental dengan nilai kekeluargaan, yang dikenal dengan istilah Saprahan. Tradisi ini berasal dari budaya Melayu Sintang, di mana makanan disajikan di atas lantai menggunakan kain alas. Sekelompok orang yang terdiri dari 5-6 orang akan duduk melingkar dan menyantap hidangan dari piring-piring kecil yang disusun rapi. Saprahan mengajarkan filosofi duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi; tidak ada perbedaan status sosial saat semua orang menyuap nasi dari wadah yang sama.
Selain itu, bagi masyarakat Dayak Sintang, kuliner adalah bagian tak terpisahkan dari upacara Gawai Dayak (pesta panen). Pada momen ini, makanan tradisional seperti Lemang dan Juhu Singkah muncul dalam jumlah besar sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Makan di Sintang bukan sekadar urusan harian, melainkan sebuah perayaan atas kelimpahan sungai dan hutan. Identitas kuliner ini dijaga secara turun-temurun melalui dapur keluarga, menjadikannya warisan gastronomi yang tetap otoritatif dan tak lekang oleh zaman.
Menjelajahi destinasi kuliner di Sintang membutuhkan sedikit keberanian untuk mencoba rasa-rasa baru yang eksotis:
Tertarik merasakan sendiri sensasi Tempoyak yang melegenda atau kenyalnya Kerupuk Basah langsung di tepian Sungai Kapuas? Rencanakan petualangan Anda ke Sintang sekarang! Melalui Traveloka, Anda dapat memesan tiket pesawat menuju Bandara Tebelian Sintang dengan harga terbaik.
Jangan lupa untuk memilih hotel di pusat kota Sintang yang memudahkan Anda menjangkau sentra kuliner malam melalui aplikasi Traveloka. Gunakan fitur Traveloka Xperience untuk memesan tur lokal menyusuri Sungai Kapuas dan melihat langsung proses pengasapan ikan tradisional. Yuk, pesan sekarang dan rasakan keajaiban rasa dari pedalaman Kalimantan!
Sun, 29 Mar 2026

Wings Air
Pontianak (PNK) ke Sintang (SQG)
Mulai dari Rp 1.183.200
Sun, 29 Mar 2026

Super Air Jet
Jakarta (CGK) ke Sintang (SQG)
Mulai dari Rp 2.276.900
Sun, 29 Mar 2026

Batik Air
Jakarta (CGK) ke Sintang (SQG)
Mulai dari Rp 2.511.200












