
Bayangkan Anda berada di sebuah pelataran asri di dataran tinggi Parahyangan saat matahari mulai terbenam. Udara sejuk pegunungan seketika berubah hangat saat bunyi hentakan Kendang yang dinamis mulai beradu dengan lengkingan suara Rebab yang menyayat hati namun memikat. Di tengah panggung, seorang penari muncul dengan gerakan bahu yang lincah (goyor), kerlingan mata yang tajam namun ramah, serta langkah kaki yang mantap. Inilah visualisasi nyata dari tarian tradisional Suku Sunda, sebuah perpaduan antara kehalusan budi pekerti dan energi kehidupan yang meluap-luap.
Bagi masyarakat Suku Sunda, tarian bukan sekadar urutan gerak fisik di atas panggung. Ia adalah sebuah filosofi hidup yang terpancar melalui medium tubuh. Dalam setiap gestur, terkandung nilai Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh. Tarian Sunda memiliki spektrum yang sangat luas, mulai dari tarian klasik yang halus dan terikat aturan ketat istana (menak), hingga tarian rakyat yang ekspresif, spontan, dan penuh kegembiraan. Seni pertunjukan ini adalah wajah dari identitas masyarakat Jawa Barat yang dikenal terbuka, humoris, namun tetap memegang teguh tata krama.
Di tengah gempuran tren budaya global, tarian tradisional Suku Sunda menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Ia terus bertransformasi tanpa kehilangan ruhnya. Para maestro seni di Bandung, Sumedang, hingga Cirebon terus melahirkan inovasi yang membuat tarian ini tetap relevan di mata generasi muda. Melihat tarian Sunda adalah melihat sejarah panjang adaptasi manusia terhadap alamnya—sebuah penghormatan abadi terhadap bumi yang dipijak dan langit yang dijunjung.

Sentul

The Alana Hotel & Conference Center, Sentul City by ASTON

8.7/10
•




Sentul
Rp 2.670.701
Rp 2.003.026
Sejarah & Asal-usul:
Lahir di era 1970-an melalui tangan dingin maestro Gugum Gumbira, Jaipong adalah fenomena budaya. Tarian ini merupakan hasil rekonstruksi kreatif dari kesenian rakyat yang lebih tua seperti Ketuk Tilu, Kliningan, dan pencak silat. Jaipong meledak menjadi identitas baru Jawa Barat karena gerakannya yang mendobrak kekakuan tari klasik.
Makna Gerakan:
Gerakan Jaipong sangat dinamis dan erotis dalam arti estetis. Gerakan geol (pinggul), gitek (hentakan pinggul), dan goyor (ayunan bahu) mencerminkan perempuan Sunda yang mandiri, lincah, dan penuh percaya diri. Gerakan tangan yang luwes melambangkan keramahan, sementara gerakan kaki yang terinspirasi silat menunjukkan ketangguhan batin.
Simbolisme Busana & Properti:
Penari Jaipong mengenakan kebaya yang lebih modern dan ramping agar leluasa bergerak, dipadukan dengan Sampur (selendang) yang melilit pinggang. Sampur adalah properti vital; saat selendang dikibaskan, ia melambangkan pelepasan energi dan pesona.
Iringan Musik:
Instrumen paling dominan adalah Kendang, yang berfungsi sebagai pengatur tempo dan pemberi aksen pada setiap hentakan gerak penari. Diiringi pula oleh gong, kecrek, dan rebab.
Sejarah & Asal-usul:
Diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri pada tahun 1950-an, Tari Merak adalah tarian kreasi baru yang terinspirasi dari keindahan burung Merak jantan saat mengembangkan ekornya untuk menarik perhatian betina. Tarian ini merupakan representasi keindahan alam tanah Sunda.
Makna Gerakan:
Setiap gerak meniru tingkah laku burung Merak. Gerakan kepala yang menoleh ke kanan dan kiri (nyeledet) serta gerakan tangan yang membentangkan selendang seolah-olah sedang memamerkan helai bulu ekor yang indah. Secara filosofis, tarian ini melambangkan kemegahan, kecantikan, dan rasa syukur atas karunia estetika dari Tuhan.
Simbolisme Busana & Properti:
Busana Tari Merak adalah salah satu yang paling rumit. Sayap yang menempel pada lengan penari didesain dengan payet warna-warni (hijau, biru, emas). Mahkota penari sering disebut Siger yang diberi hiasan menyerupai kepala burung Merak, melambangkan kedaulatan dan kecantikan.
Iringan Musik:
Menggunakan Lagu Macan Ucul yang dimainkan dengan gamelan degung, memberikan suasana yang tenang namun agung.
Sejarah & Asal-usul:
Inilah cikal bakal banyak tarian Sunda modern. Nama "Ketuk Tilu" diambil dari bunyi tiga buah ketuk (bonang) yang menjadi pengiring utama. Dahulu, tarian ini adalah ritual sakral untuk menyambut dewi kesuburan, Dewi Sri, saat musim panen tiba.
Makna Gerakan:
Gerakannya jauh lebih sederhana dan membumi dibandingkan tarian istana. Fokusnya adalah pada kebersamaan. Gerakan kaki yang menghentak tanah secara ritmis bermakna sebagai upaya membangunkan semangat bumi agar terus memberikan kesuburan bagi petani.
Simbolisme Busana & Properti:
Menggunakan busana rakyat jelata yang sederhana namun sopan, seperti kebaya kutubaru dan kain samping. Penari seringkali menari secara berpasangan, melambangkan keharmonisan antara pria dan wanita dalam mengelola kehidupan agraris.
Sejarah & Asal-usul:
Sesuai namanya, tarian ini meniru gerak-gerik wayang golek (boneka kayu). Penari berperan sebagai tokoh-tokoh dalam epos Ramayana atau Mahabharata, seperti Gatotkaca atau Gatotkaca.
Makna Gerakan:
Keunikannya terletak pada kaku dan patah-patahnya gerakan leher dan tangan, menyerupai sendi-sendi boneka kayu yang digerakkan oleh Dalang. Gerakan ini membutuhkan kontrol otot yang luar biasa, melambangkan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh kehendak Sang Pencipta.
Sejarah & Asal-usul:
Bagian dari rumpun tari topeng Cirebon, tarian ini menggambarkan tokoh Jayengrana yang gagah berani namun tetap santun. Ini adalah representasi kepemimpinan di tanah Sunda-Cirebon.
Tarian tradisional Suku Sunda memiliki akar sosial yang sangat kuat. Dahulu, seni pertunjukan ini adalah bagian tak terpisahkan dari ritual Seren Taun (upacara panen). Kepercayaan lokal terhadap Nyi Pohaci (Dewi Sri) membuat tarian menjadi medium komunikasi sakral untuk memohon keberkahan pangan. Tanpa tarian, sebuah upacara adat dianggap kehilangan ruhnya.
Dalam konteks sosial, tarian juga berfungsi sebagai alat pemersatu. Dalam pertunjukan Jaipongan di desa-desa, batas antara penari dan penonton sering kali melebur. Penonton dapat berinteraksi (nyawer), yang menunjukkan sifat egaliter masyarakat Sunda. Di era modern, tarian ini bertransformasi menjadi sarana diplomasi budaya. Saat seorang penari Merak tampil di kancah internasional, ia sedang membawa pesan perdamaian dan keindahan dari nusantara.

Cihampelas

Joy N Fun Cihampelas Walk

9.1/10
Cihampelas
Rp 35.000
Rp 31.500
Untuk mendapatkan pengalaman menonton tarian Sunda yang paling atmosferik, ada beberapa tempat dan momen yang tidak boleh dilewatkan:
Etika Menonton:
Segera wujudkan perjalanan budaya Anda ke Tanah Pasundan bersama Traveloka. Pesan tiket pesawat ke Bandara Internasional Jawa Barat (Kertajati) atau tiket kereta api ke Bandung dengan penawaran terbaik. Lengkapi pengalaman Anda dengan memesan Hotel bernuansa etnik melalui aplikasi Traveloka, dan jangan lewatkan aktivitas menarik di Traveloka Xperience untuk kunjungan ke Saung Angklung Udjo. Rencanakan sekarang dan biarkan diri Anda larut dalam irama magis tarian Sunda!
Wed, 8 Apr 2026

Susi Air
Surabaya (SUB) ke Bandung (BDO)
Mulai dari Rp 2.413.400
Sun, 26 Apr 2026

Citilink
Surabaya (SUB) ke Bandung (BDO)
Mulai dari Rp 2.635.600
Sun, 26 Apr 2026

Susi Air
Bali / Denpasar (DPS) ke Bandung (BDO)
Mulai dari Rp 2.691.700
| Pertanyaan | Jawaban Informatif |
| Apa tarian Suku Sunda yang paling terkenal? | Tari Jaipong |
| Apa perbedaan Tari Jaipong dan Tari Merak? | Jaipong lebih bersifat rakyat, dinamis, dan bertumpu pada kendang, sedangkan Tari Merak adalah tari kreasi yang meniru gerakan burung Merak dengan kostum yang sangat berwarna. |
| Kapan Tari Jaipong biasanya dipentaskan? | Jaipong sering dipentaskan dalam acara pernikahan, khitanan, penyambutan tamu besar, hingga festival seni budaya mancanegara. |
| Apa makna selendang (sampur) dalam tari Sunda? | Sampur melambangkan keluwesan dan pesona wanita Sunda. Gerakan mengibaskan sampur berfungsi sebagai transisi antar gerak dan estetika pemanis. |
| Apakah Tari Jaipong masih dianggap kontroversial? | Dahulu sempat dianggap terlalu erotis di awal kemunculannya, namun kini telah diterima sepenuhnya sebagai warisan budaya nasional yang bernilai seni tinggi. |










