
Sekitar 1824, di kawasan Ryogoku yang riuh oleh pertandingan sumo dan teater, seorang koki bernama Hanaya Yohei punya ide sederhana, memotong sushi menjadi satu gigitan agar orang bisa langsung menyantapnya sambil berjalan. Dari situlah lahir Edomae sushi, salah satu dari empat hidangan legendaris yang membentuk fondasi kuliner Tokyo hingga hari ini.
Sebagai bekas ibu kota Edo, kuliner khas Tokyo menyimpan jejak sejarah panjang yang berpadu dengan gaya hidup modern Jepang masa kini. Jika Anda memesan Tiket Pesawat ke Tokyo, jangan lewatkan mencicipi kedelapan hidangan khasnya berikut ini langsung dari kawasan asalnya.
Berikut delapan makanan khas Tokyo yang paling dikenal, dari empat pilar kuliner era Edo hingga jajanan kuil yang melegenda.
Edomae sushi adalah nigiri yang dibuat dengan menekan nasi cuka dan topping ikan segar dengan tangan, diciptakan Hanaya Yohei sekitar 1824 di Ryogoku. Konsep aslinya adalah makanan cepat saji, dijual dari gerobak kaki lima untuk pekerja Edo yang butuh makan cepat.
Kini penanda lokasi kelahiran Edomae sushi masih bisa ditemukan di dekat Stasiun Ryogoku, dan beberapa toko sushi seperti Kizushi di Ningyocho mengklaim garis keturunan langsung dari resep Yohei.
Tempura adalah sayuran dan makanan laut yang digoreng dengan adonan tepung ringan hingga renyah, termasuk salah satu dari Empat Makanan Asal Edo yang disempurnakan sebagai makanan jalanan sekaligus hidangan kelas atas di Tokyo.
Tekstur tempura yang ringan dan tidak berminyak berlebih menjadikannya berbeda dari gorengan tepung ala Barat, hasil dari teknik menggoreng cepat pada suhu tinggi yang khas Jepang.
Soba adalah mi dari tepung gandum kuda yang populer di seluruh Jepang, namun mencapai puncak kepopulerannya di Tokyo pada era Edo sebagai salah satu dari empat hidangan andalan kota ini. Mi ini bisa disantap dingin dengan saus celup atau panas dalam kuah kaldu.
Kawasan Kanda dikenal sebagai pusat soba otentik Tokyo, dengan beberapa restoran keluarga yang sudah beroperasi ratusan tahun dan mempertahankan resep tradisional turun-temurun.
Unagi kabayaki adalah belut yang dibelah, dibuang tulangnya, dikukus agar teksturnya lembut, lalu dipanggang di atas arang sambil dicelup saus shoyu manis. Sejak era Edo yang dimulai 1603, hidangan ini dijual pedagang kaki lima sebelum naik kelas jadi hidangan restoran.
Gaya Edo yang membelah unagi dari punggung, bukan perut, jadi ciri khas yang membedakan unagi Tokyo dari daerah lain di Jepang, dengan beberapa restoran legendaris masih menjaga resep dan teknik panggang warisan generasi sebelumnya.
Wed, 16 Sep 2026

T’way Air
Jakarta (CGK) ke Tokyo (NRT)
Mulai dari Rp 3.010.300
Thu, 10 Sep 2026

China Eastern Airlines
Bali / Denpasar (DPS) ke Tokyo (NRT)
Mulai dari Rp 4.483.400
Sat, 19 Sep 2026

Royal Brunei Airlines
Surabaya (SUB) ke Tokyo (NRT)
Mulai dari Rp 3.874.331
Ramen gaya Tokyo lahir dari tangan Kanichi Ozaki, mantan pejabat bea cukai yang membuka Rairaiken di Asakusa pada 1910, restoran ramen berdiri sendiri pertama di Jepang. Ia mengganti garam ala Tiongkok dengan kecap kedelai Jepang, melahirkan kuah shoyu yang jadi identitas ramen Tokyo.
Pada masa jayanya, Rairaiken bahkan mampu melayani 3.000 pelanggan sehari, dan setelah tutup 50 tahun sejak 1976, restoran ini dibuka kembali di lokasi aslinya di Asakusa untuk generasi baru pencinta ramen.
Monjayaki adalah adonan cair dari tepung dan air yang dicampur kubis, makanan laut, atau daging, dimasak langsung di meja menggunakan panggangan panas. Pengunjung biasanya memasak sendiri hidangan ini di atas meja yang sudah dilengkapi wajan datar.
Hidangan ini paling identik dengan kawasan Tsukishima, yang bahkan punya julukan "Monja Street" karena dipadati puluhan restoran yang menyajikan variasi Monjayaki.
Chanko Nabe adalah hot pot berisi daging, tahu, dan sayuran dengan kuah berbumbu garam, miso, atau kecap asin, menjadi menu utama para pesumo untuk menambah massa tubuh mereka. Porsinya besar dan kaya protein.
Banyak restoran chanko otentik berlokasi di kawasan Ryogoku, pusat budaya sumo Tokyo, sehingga pengunjung bisa menikmati hidangan ini sambil merasakan atmosfer khas dunia sumo.
Ningyo-yaki adalah kue panggang lembut berisi pasta kacang merah manis, dibentuk menyerupai lentera, pagoda, atau Tujuh Dewa Keberuntungan. Namanya berarti "boneka panggang" dan pertama kali muncul di kawasan Nihonbashi-Ningyocho pada akhir 1800-an.
Sejak era Taisho, bentuk kue ini berkembang mengikuti ikon Asakusa seperti lentera besar Gerbang Kaminarimon, dan toko seperti Kimuraya masih memproduksinya sejak 1868 hingga kini.
Empat Makanan Asal Edo yang jadi fondasi kuliner Tokyo adalah sushi (khususnya Edomae sushi), tempura, soba, dan unagi kabayaki. Keempatnya lahir sebagai makanan cepat saji pedagang kaki lima pada era Edo, ketika penduduk kota butuh makanan praktis di tengah kesibukan hidup perkotaan yang mulai padat sejak abad ke-17.
Uniknya, keempat hidangan ini tetap bertahan hingga kini bukan sebagai makanan jalanan semata, melainkan naik kelas menjadi hidangan restoran spesialis yang dihargai tinggi, sekaligus jadi bukti bagaimana selera kuliner Edo terus membentuk identitas Tokyo modern.
Untuk merasakan cita rasa paling asli, berikut kawasan yang paling direkomendasikan di Tokyo.
Kawasan ini dijuluki "Monja Street" karena dipadati puluhan restoran Monjayaki, cocok dikunjungi untuk pengalaman memasak sendiri hidangan khas Tokyo ini di meja makan.
Sebagai pusat budaya sumo, kawasan ini punya banyak restoran Chanko Nabe otentik sekaligus jadi tempat lahirnya Edomae sushi, lengkap dengan penanda sejarahnya di dekat stasiun.
Kawasan ini adalah rumah bagi Nakamise-dori yang menjual Ningyo-yaki hangat sejak 1868, sekaligus lokasi kelahiran ramen gaya Tokyo di Rairaiken dan beberapa restoran unagi kabayaki bergaya Edo yang masih bertahan.

Japan

Tokyo Dome Hotel

9.3/10
•




Bunkyo
Rp 3.129.600
Rp 2.965.585
Dari sushi yang lahir sebagai makanan cepat saji hingga Ningyo-yaki yang jadi jajanan kuil selama ratusan tahun, kedelapan makanan khas Tokyo ini menunjukkan bagaimana warisan era Edo tetap hidup di tengah modernitas kota ini. Setiap hidangan membawa cerita yang jauh lebih kaya dari sekadar rasanya.
Menjelajahi langsung Tsukishima, Ryogoku, atau Asakusa akan memberi pengalaman kuliner yang jauh lebih berkesan dibanding hanya mencicipinya di restoran Jepang di luar negeri.
Traveloka adalah aplikasi travel terdepan di Asia Tenggara yang memudahkan perjalanan kuliner Anda ke Tokyo dari satu aplikasi saja. Pesan Tiket Pesawat ke Tokyo, cari Hotel di Tokyo, lalu lengkapi liburan dengan Aktivitas di Tokyo seperti menonton pertandingan sumo atau menjelajahi Kuil Senso-ji.
Selain flight dan hotel, Traveloka juga menyediakan eSIM Jepang, sewa mobil, dan asuransi perjalanan dalam satu aplikasi yang sama, sehingga seluruh persiapan trip kuliner ke Tokyo bisa diurus tanpa ribet. Nikmati kemudahan membayar dengan Traveloka PayLater, transfer bank, atau dompet digital seperti GoPay dan OVO, lewat aplikasi yang konsisten meraih rating tinggi di Google Play Store dan App Store.






