
Bima, atau yang secara etnik dikenal sebagai Tanah Mbojo, merupakan wilayah di ujung timur Pulau Sumbawa dengan karakteristik iklim semi-arid yang kering dan terik. Kondisi geografis ini sangat memengaruhi pakaian adat Bima yang mengutamakan material katun sejuk namun memiliki kerapatan tenun tinggi untuk melindungi kulit dari radiasi surya.
Evolusi baju tradisional Bima merekam jejak sejarah perdagangan maritim yang dinamis, di mana benang sutra dari Tiongkok dan pengaruh modesty dari jazirah Arab bersentuhan dengan teknik lokal. Sejak Kesultanan Bima memeluk Islam pada abad ke-17, estetika busana mengalami pergeseran signifikan menuju bentuk yang lebih tertutup namun tetap megah.
Persentuhan budaya Bugis-Makassar juga memberikan warna pada teknik pola potong dan penggunaan warna-warna cerah yang melambangkan keberanian. Di sini, busana bukan sekadar tekstil, melainkan sebuah identitas visual yang membedakan masyarakat pegunungan dengan pesisir, serta bangsawan dengan rakyat jelata dalam harmoni religiusitas.

Mpunda

Marina Inn Bima

8.6/10
Mpunda
Rp 474.819
Tekstilogi & Material: Terbuat dari dua lembar kain Tembe Nggoli (sarung tenun Mbojo) berbahan kapas. Proses pembuatannya menggunakan alat tenun tradisional dengan teknik ikat pakan untuk menciptakan kilau alami tanpa serat sintetis.
Anatomi & Potongan: Uniknya, Rimpu adalah busana tanpa jahitan sama sekali. Teknik penggunannya murni menggunakan draperi manual; satu kain melilit pinggang sebagai bawahan, dan kain lainnya melilit kepala hingga hanya menyisakan celah mata (Rimpu Mpida) atau terbuka wajah (Rimpu Colo).
Filosofi & Strata: Rimpu Mpida diperuntukkan bagi wanita lajang sebagai simbol kesucian, sedangkan Rimpu Colo bagi wanita yang sudah menikah. Secara filosofis, Rimpu adalah manifestasi ketaatan pada syariat Islam sekaligus perlindungan terhadap kehormatan diri.
Tekstilogi & Material: Menggunakan kain tenun bermotif garis atau kotak-kotak kecil dengan teknik tenun pakan tambahan. Serat katunnya diproses agar memiliki tekstur kaku guna mempertahankan bentuk saat dililitkan di kepala.
Anatomi & Potongan: Berupa kain persegi yang dililitkan secara asimetris dengan teknik simpul tertentu di bagian depan atau samping. Lipatan ini tidak permanen, memungkinkan penyesuaian fungsional sesuai kebutuhan perlindungan dari panas bumi Bima.
Filosofi & Strata: Cara melilitkan Sambolo dan arah ujung kainnya menunjukkan status sosial pemakainya. Para tetua adat atau bangsawan biasanya memiliki teknik lilitan yang lebih kompleks dan rapi dibandingkan masyarakat umum.
Tekstilogi & Material: Menggunakan Tembe Nggoli dengan kerapatan benang tinggi yang memberikan efek sejuk. Teknik pewarnaannya seringkali menggunakan bahan organik seperti tarum atau kulit kayu untuk mendapatkan warna bumi yang pekat.
Anatomi & Potongan: Sarung dililitkan di pinggang dengan teknik lilitan kuat di bagian perut, biasanya panjangnya hingga sedikit di bawah lutut atau mata kaki. Potongannya longgar untuk memberikan mobilitas maksimal bagi pria Bima dalam berkuda atau bertani.
Filosofi & Strata: Penggunaan warna gelap melambangkan keteguhan batin, sedangkan motif Nggoli yang berkilau emas mencerminkan kemakmuran. Fungsi pakaian adat Bima di sini adalah sebagai simbol kesiapan seorang pria untuk melindungi klan dan keluarganya.
Thu, 6 Aug 2026

Lion Air
Jakarta (CGK) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 931.100
Wed, 5 Aug 2026

Lion Air
Bali / Denpasar (DPS) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 727.300
Wed, 5 Aug 2026

Batik Air
Jakarta (HLP) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 1.118.000
Keunikan pakaian adat Bima terletak pada penggunaan Sambari, sejenis selendang tenun yang disampirkan di bahu untuk acara formal. Selain itu, pria Bima sering menyertakan Pasa (keris) yang ditempa dari baja pilihan dengan gagang kayu berukir motif flora.
Perhiasan logam mulia seperti kalung bersusun dan gelang besar biasanya hanya muncul dalam busana pengantin atau upacara kebesaran Kesultanan. Logam ini dibuat dengan teknik sepuh dan tempa tradisional yang menunjukkan kemakmuran peradaban maritim Mbojo masa silam.
Kini, kain Tembe Nggoli bertransformasi menjadi pilar Sustainable Fashion melalui penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan. Serat sintetis mulai dikurangi untuk mengembalikan kualitas tenun organik yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional.
Revitalisasi modern terlihat dalam festival budaya tahunan "Rimpu Mbojo", di mana ribuan wanita berparade mengenakan Rimpu. Inovasi juga dilakukan dengan mengubah sarung tenun menjadi gaun kontemporer atau kemeja kantor, memastikan filosofi pakaian adat Bima tetap hidup di kalangan generasi milenial.
Sat, 8 Aug 2026

Wings Air
Lombok (LOP) ke Bima (BMU)
Mulai dari Rp 1.199.200
Sun, 9 Aug 2026

TransNusa
Bali / Denpasar (DPS) ke Bima (BMU)
Mulai dari Rp 900.000
Mon, 17 Aug 2026

Lion Air
Jakarta (CGK) ke Bima (BMU)
Mulai dari Rp 2.318.600
Untuk mendalami proses pembuatan kain dan etnografer Bima, Anda direkomendasikan mengunjungi:
Tertarik menyaksikan langsung pesona Rimpu di bawah bayang-bayang Gunung Tambora? Rencanakan perjalanan budaya Anda ke Bima melalui Traveloka. Pesan Tiket Pesawat menuju Bandara Sultan Muhammad Salahuddin dan pilih Hotel terbaik di pusat kota Bima.
Nikmati pengalaman tanpa cemas dengan fitur Easy Reschedule dan berbagai pilihan pembayaran aman, termasuk PayLater. Dapatkan juga promo pengguna baru untuk pemesanan Traveloka Xperience di berbagai situs sejarah dan alam Bima.
Fri, 7 Aug 2026

Lion Air
Medan (KNO) ke Jakarta (CGK)
Mulai dari Rp 1.563.200
Thu, 6 Aug 2026

NAM Air
Bali / Denpasar (DPS) ke Jakarta (CGK)
Mulai dari Rp 1.202.565
Mon, 17 Aug 2026

Lion Air
Surabaya (SUB) ke Jakarta (CGK)
Mulai dari Rp 950.000







