
Jawa Timur punya kekayaan budaya yang tidak kalah menarik dari wisata alam dan kulinernya. Salah satu warisan budaya yang masih bisa dikenali hingga sekarang adalah rumah adat. Gaya arsitektur rumah adat Jawa Timur cukup khas karena dibangun dengan bambu dan kayu.
Selain itu, daya tarik dari bangunan rumah adat Jawa Timur juga berhubungan dengan nilai filosofi dalam setiap bagiannya. Lantas, ada berapa banyak jenis rumah adat Jawa Timur? Seperti apa rumah adat Jawa Timur? Yuk kita telusuri jejak budaya Jawa Timur berikut ini.
Shutterstock.com
Jawa Timur menjadi tempat tinggal berbagai kelompok masyarakat, seperti suku Jawa, Madura, Bawean, Osing, dan Tengger. Keberagaman tersebut turut memengaruhi bentuk rumah tradisional yang berkembang di berbagai daerah.
Rumah adat Jawa Timur memang memiliki kemiripan dengan rumah tradisional Jawa Tengah, terutama pada penggunaan konsep Joglo. Namun, setiap daerah memiliki bentuk, tata ruang, material, dan fungsi yang dapat berbeda. Arsitekturnya juga tidak lepas dari nilai budaya serta kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat.
Mon, 23 Nov 2026

Pelita Air
Banjarmasin (BDJ) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 2.435.000
Wed, 11 Nov 2026

Pelita Air
Balikpapan (BPN) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 1.200.200
Mon, 9 Nov 2026

Lion Air
Banjarmasin (BDJ) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 802.800
Shutterstock.com
Sebagian besar rumah adat Jawa Timur digunakan sebagai tempat tinggal. Di dalamnya terdapat beberapa ruang dengan fungsi yang berbeda, mulai dari ruang keluarga hingga area untuk menerima tamu.
Namun, tidak semua bangunan tradisional digunakan sebagai hunian. Salah satunya adalah Dhurung yang lebih sering digunakan sebagai tempat beristirahat setelah bekerja atau berkumpul bersama tetangga. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan tradisional juga menyesuaikan dengan aktivitas dan kebutuhan masyarakat setempat.
Penggunaan material alami menjadi salah satu karakter yang mudah ditemukan pada rumah tradisional Jawa Timur. Kayu, terutama kayu jati, banyak digunakan karena kuat dan tahan lama. Beberapa rumah juga menggunakan bambu sebagai dinding, genteng tanah liat, atau bahan alami lainnya untuk bagian atap.
Pada sejumlah rumah tradisional Jawa, bentuk atapnya menyerupai gunung yang dikenal dengan istilah tajug. Selain memiliki fungsi sebagai pelindung bangunan, bentuk tersebut juga berkaitan dengan pandangan budaya masyarakat Jawa terhadap gunung sebagai tempat yang memiliki nilai sakral.
Rumah adat Jawa Timur menyimpan nilai budaya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat. Perbedaan daerah dan kondisi lingkungan membuat setiap rumah tradisional memiliki karakter tersendiri, seperti berikut.
Shutterstock.com
Setidaknya, ada 8 jenis rumah adat Jawa Timur yang mudah kamu temukan, seperti berikut ini.
Joglo Jompongan merupakan salah satu bentuk dasar rumah Joglo yang juga dapat ditemukan di Jawa Timur. Bangunan ini umumnya menggunakan kayu jati dan memiliki bentuk yang cenderung sederhana dengan denah persegi.
Bagian dalamnya memiliki pembagian ruang berdasarkan fungsi, sementara struktur utamanya ditopang oleh empat soko guru. Rumah ini juga memiliki bebatur, yaitu bagian dasar bangunan yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya.
Joglo Sinom merupakan pengembangan dari Joglo Jompongan. Salah satu ciri yang membedakannya adalah adanya teras yang mengelilingi bangunan dengan struktur yang dibuat bertingkat.
Bangunan ini tetap menggunakan empat soko guru sebagai tiang utama. Secara keseluruhan, struktur Joglo Sinom memiliki lebih banyak tiang penyangga dibandingkan bentuk dasar Joglo Jompongan.
Rumah adat satu ini mirip dengan rumah adat joglo Jawa Tengah yang berbentuk limas. Biasanya, rumah adat ini banyak ditemukan di daerah Ponorogo. Salah satu keunikan rumah adat Jawa Timur ini adalah terbuat dari kayu jati sebagai bahan dasar bagunan.
Uniknya, bentuk rumah adat ini juga menyiratkan kepercayaan kejawen masyarakat Jawa berdasarkan sinkretisme yang berkaitan dengan keharmonisan antara manusia dan sesama, serta hubungan manusia dan alam sekitar. Hal ini terlihat dari susunan rumah joglo ini, dari pondasi, jumlah saka guru atau tiang utama, serta ornamen penyusun rumah joglo.
Rumah adat Osing merupakan rumah tradisional masyarakat Osing yang banyak ditemukan di Banyuwangi. Bentuk atapnya dapat berbeda-beda berdasarkan tipenya, seperti Tikel Balung, Baresan, dan Crocogan.
Rumah ini memiliki beberapa bagian dengan fungsi masing-masing, seperti bale, teras, jerumah, dan pawon. Penggunaan material tradisional juga menjadi salah satu bagian yang membuat rumah Osing memiliki karakter tersendiri.
Rumah tradisional masyarakat Tengger memiliki bentuk atap yang menjadi salah satu ciri paling mudah dikenali. Atapnya dibuat tinggi dan meruncing sehingga tampil berbeda dari beberapa rumah tradisional Jawa lainnya.
Rumah Tengger umumnya hanya memiliki sedikit jendela. Bangunan rumah juga sering dibuat berdekatan satu sama lain, yang tidak hanya mencerminkan kedekatan antarwarga, tetapi juga membantu menghadapi kondisi cuaca di kawasan pegunungan. Rumah adat ini banyak ditemukan di daerah lereng Gunung Bromo, Desa Ranupane.
Sesuai namanya, Limasan Lambang Sari memiliki bentuk dasar seperti limas atau persegi panjang. Bagian atapnya memiliki konstruksi khas dengan empat sisi yang bertemu pada bagian bubungan.
Bangunan ini menggunakan sejumlah tiang sebagai penyangga dan memiliki pondasi berupa umpak. Struktur tersebut menjadi salah satu karakter yang dapat ditemukan pada arsitektur tradisional Jawa. Material yang digunakan adalah kayu Jawa, kayu jati, kayu snorkeling, dan kayu keras lainnya.
Limasan Trajumas Lawakan merupakan pengembangan dari bentuk Limasan Lambang Sari. Perbedaannya dapat dilihat pada bagian emperan yang mengelilingi bangunan.
Kemiringan atap pada bagian emperan juga berbeda dari atap utama. Perubahan tersebut membuat bentuk bangunan terlihat lebih luas dan memiliki struktur yang lebih kompleks.
Dhurung memiliki fungsi yang cukup berbeda dari rumah adat lainnya. Bangunan ini biasanya digunakan sebagai tempat beristirahat setelah bekerja, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di ladang.
Dhurung juga dapat ditemukan di dekat pemukiman dan digunakan sebagai tempat berkumpul bersama tetangga, bahkan sering digunakan buat mencari jodoh. Fungsinya yang erat dengan kegiatan sosial membuat Dhurung menjadi salah satu bagian menarik dari budaya masyarakat setempat.
Rumah adat menjadi salah satu bagian menarik dari kekayaan budaya Jawa Timur. Kamu bisa mengenalnya lebih dekat dengan mengunjungi berbagai daerah dan melihat langsung rumah tradisionalnya.
Siapkan perjalananmu dengan praktis lewat Traveloka. Hanya dengan satu aplikasi kamu bisa booking hotel, tiket kereta api, hingga tiket pesawat. Agar lebih hemat, gunakan Kode Kupon Traveloka. Selamat menelusuri budaya Jawa Timur!






