Selengkapnya tentang Pura Mangkunegaran
Jelajahi Tiket Pura Mangkunegaran
- Dari Perjanjian Salatiga hingga kini
- Membaca susunan ruang
- Atap joglo dan lantai berlapis sejarah
- Lukisan di atas, ukiran di sepanjang ruang
- Memasuki bangunan pusat istiadat
- Perhiasan dan perlengkapan kerajaan
- Jejak kebiasaan, kesenian, dan keluarga
- Tiket masuk dengan tur berpemandu
- Ketentuan sebelum menukarkan voucher
- Alamat, jam buka, dan fasilitas
Susuri pendhapa beratap joglo, amati ukiran pada tiang, lalu kenali benda-benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan istana di Pura Mangkunegaran, Solo. Tiket masuk dengan pemandu resmi mengajak Anda menjelajahi bangunan dan koleksi museum sambil mendengarkan latar ceritanya. Pilihan wisata budaya di Jawa Tengah ini cocok untuk Anda yang senang memperhatikan arsitektur, kerajinan, dan jejak tradisi keraton dalam satu kunjungan.
Berkenalan dengan lingkungan istana
Dari Perjanjian Salatiga hingga kini
Mangkunegaran berdiri setelah Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757. Pendirinya, Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, kemudian bergelar Mangkunegara I. Pura menjadi kediaman sekaligus tempat berlangsungnya kehidupan budaya keluarga penguasa. Letaknya berada di Solo, kota yang juga dikenal sebagai Surakarta.
Bangunan inti yang dijumpai sekarang berkembang pada masa berikutnya. Dalem Ageng selesai dibangun pada 1804, Pendhapa Ageng pada 1814, sedangkan Pringgitan berasal dari sekitar awal abad ke-19. Beberapa generasi penguasa selanjutnya menambahkan ruang, mengganti material, dan memperkaya hiasan. Perbedaan bentuk serta bahan di dalam kompleks berkaitan dengan perjalanan pembangunan tersebut.
Fungsi Mangkunegaran juga berubah seiring sejarah Indonesia. Pada 1 September 1945, di bawah Mangkunegara VIII, Mangkunegaran menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia. Pergolakan sosial pada 1945–1946 kemudian mengakhiri kedaulatannya. Perannya dalam menjaga kebudayaan tetap berlanjut, termasuk warisan arsitektur dan seni yang menjadi bagian penting dari kunjungan ke sini.
Membaca susunan ruang
Area lapang di bagian depan disebut Pamedan. Di dalam lingkungan istana, Pendhapa Ageng, Pringgitan, dan Dalem Ageng membentuk rangkaian bangunan utama dengan kegunaan berbeda. Ada tempat menerima tamu, ruang pertunjukan, serta bangunan untuk upacara tradisional. Pemandu memperkenalkan fungsi setiap bagian ketika membawa rombongan berkeliling.
Susunan ruang ini menarik dilihat bersama detail bangunannya. Pendhapa terbuka menghadap area luar, Pringgitan menghubungkan dua bagian, sementara Dalem Ageng menjadi inti istana. Pergantian bentuk atap, posisi tiang, dan hiasan menghadirkan hal baru untuk diamati sepanjang tur, bahkan sebelum beralih ke benda-benda di museum.
Menikmati detail arsitektur Jawa
Atap joglo dan lantai berlapis sejarah
Pendhapa Ageng merupakan bangunan terbuka dengan warna biru muda yang dominan. Bahan utamanya kayu, beratap joglo tiga tingkat dengan penutup sirap. Bangunan ini digunakan untuk menerima tamu dan mengadakan acara resmi istana. Dari bawah pendhapa, perhatikan bagaimana deretan tiang menyangga lapisan atap yang membentuk siluet khasnya.
Bagian tengah lantai bernama Pengrawit ditinggikan 70cm dari bagian sekitarnya. Lantai pendhapa menggunakan marmer, sedangkan area emper memakai tegel hijau. Tambahan tratag atau emper terdapat pada sisi timur, selatan, dan barat. Perbedaan ketinggian serta bahan lantai memperlihatkan pembagian ruang tanpa harus menutup seluruh sisinya dengan dinding.
Di depan terdapat Bangsal Tosan, bangunan menjorok dengan empat tiang besi dan tegel merah bermotif timbul. Besinya didatangkan dari Jerman oleh arsitek Willem Kamp pada masa Mangkunegara IV. Unsur besi ini berdampingan dengan konstruksi kayu, sehingga perubahan material dapat diamati dalam bagian istana yang berdekatan.
Pengerjaan pada 1866–1874 meliputi penggantian lantai dengan marmer Italia dan penambahan Bangsal Tosan. Lampu berbentuk tempat lilin dari istana Gubernur Jenderal di Bogor turut digunakan. Pada masa Mangkunegara VII, emper dengan tiang besi ditambahkan dan atap sirap dilapisi tembaga. Detail-detail tersebut merekam pengembangan pendhapa dari satu periode ke periode berikutnya.
Lukisan di atas, ukiran di sepanjang ruang
Hiasan langit-langit Kumudawati dilukis Liem Tho Hien pada 1933. Kumudawati berarti bunga teratai putih, dan hiasannya menggabungkan karya seni dengan ajaran dalam Serat Piwulang karya Mangkunegara IV. Lukisan Hastabrata di bawah atap Pendhapa Ageng memakai delapan warna dengan makna yang berhubungan dengan filosofi kepemimpinan raja Jawa.
Pringgitan menjadi penghubung Pendhapa Ageng dengan Dalem Ageng. Tempat ini digunakan untuk pertunjukan wayang kulit dan menerima tamu resmi, termasuk penguasa Mataram serta pejabat pada masa kolonial. Atapnya berbentuk limasan dengan penutup sirap, lantainya marmer, dan bangunannya memiliki enam tiang penyangga.
Pada bagian depan dan atas Pringgitan terdapat ukiran sulur tumbuhan, burung, serta bentuk menyerupai vas. Ruang tambahan di sisi timur dan barat dirancang Thomas Karsten. Di antara ragam ukirannya terdapat lambang MN yang terkait dengan Mangkunegara IV, VII, IX, dan X. Coba ikuti pergantian motif saat berpindah dari pandangan keseluruhan bangunan ke bagian tiangnya.
Koleksi museum dari busana hingga arsip
Memasuki bangunan pusat istiadat
Dalem Ageng adalah bangunan inti tempat berlangsungnya upacara tradisional, yang kini difungsikan sebagai Museum Mangkunegaran. Delapan saka guru menyangga atap limasan. Tidak ada plafon yang menutup rangka atapnya, sehingga konstruksi bagian dalam dapat terlihat dari bawah. Bangunan dan koleksinya menjadi dua lapisan yang dinikmati bersama saat berkunjung.
Koleksi sejarah museum mulai dihimpun pada 1926 dan dibuka untuk umum pada 1968. Isinya mencakup pakaian resmi, perhiasan, senjata, perkakas makan, serta benda untuk upacara. Dari objek berukuran kecil hingga busana kerajaan, masing-masing mempunyai fungsi yang dapat ditanyakan kepada pemandu selama tur.
Perhiasan dan perlengkapan kerajaan
Busana kebesaran dipakai penguasa dan keluarga untuk upacara resmi. Perhiasan emas serta permata meliputi anting, cincin, kalung, gelang tangan, gelang bahu, dan perlengkapan menari. Ada pula jam serta rantai. Mengenali cara pemakaiannya memberi konteks pada bentuk dan keterampilan pembuatannya.
Kelompok senjata mencakup keris, pedang, tombak, dan perlengkapan berburu. Berbeda lagi dengan perabot makan berbahan perunggu dan keramik impor dari Eropa maupun Tiongkok. Rangkaian benda ini memperkenalkan ragam kerajinan sekaligus kebiasaan menjamu tamu di lingkungan istana.
Jejak kebiasaan, kesenian, dan keluarga
Perlengkapan istiadat termasuk sumbu atau tempat sapu tangan, tempat sirih, dan kecohan. Benda-benda dengan nama serta kegunaan khusus ini membawa cerita tentang kebiasaan yang mungkin tidak dekat dengan kehidupan sehari-hari pengunjung masa kini.
Warisan seni Mangkunegaran juga meliputi topeng tradisional, wayang, dan alat musik gamelan. Sementara itu, foto lama mengarsipkan kehidupan serta silsilah keluarga. Medali dan tanda penghargaan menjadi jenis rekaman sejarah lainnya.
Memilih tiket dan menyiapkan kunjungan
Tiket masuk dengan tur berpemandu
Paket Entrance Ticket Mangkunegaran mencakup tiket untuk satu orang dan tur berpemandu sekitar 90 menit. Lamanya tur dapat berubah mengikuti ketertarikan serta kebutuhan rombongan. Harga mulai dari Rp 35.000; pilih tanggal berkunjung yang sesuai dengan rencana perjalanan Anda.
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Tiket | Tiket masuk untuk satu orang |
| Tur | Didampingi pemandu resmi, sekitar 90 menit |
| Tanggal penggunaan | Tanggal kunjungan yang dipilih, berlaku pada hari operasional biasa dan hari libur nasional |
Ketentuan sebelum menukarkan voucher
- Penukaran: Tunjukkan voucher dan identitas asli yang masih berlaku di loket untuk ditukar dengan tiket fisik. Tunjukkan tiket fisik di pintu masuk. Bukti pembayaran atau kuitansi tidak dapat menggantikan voucher.
- Penggunaan dan perubahan: Tiket untuk sekali masuk, tidak bisa dijadwalkan ulang, dan tidak dapat dikembalikan dananya.
- Pemandu: Semua pengunjung wajib didampingi pemandu resmi. Saat akhir pekan serta musim ramai, pengunjung dikelompokkan dengan maksimal 20 orang per pemandu.
- Pakaian: Kenakan pakaian sopan. Bahan beludru dan batik bermotif Parang atau Lereng dilarang. Pengunjung bercelana pendek akan disediakan kain untuk dikenakan selama tur. Lepaskan topi serta kacamata hitam di dalam bangunan.
- Tata krama: Isi daftar kunjungan di kantor pariwisata, lalu lepas sepatu atau sandal saat memasuki Pendhapa Ageng dan Pringgitan.
- Peralatan foto: Tripod, monopod, lampu kilat, dan drone tidak diperbolehkan.
- Makanan dan minuman: Dilarang dibawa ke area kunjungan.
Alamat, jam buka, dan fasilitas
- Alamat: Istana Mangkunegaran, Jalan Ronggowarsito RT 001/RW 006, Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta 57131
- Jam operasional: 09:00-16:00, mengikuti WIB (UTC+7)
Lokasinya berada di Keprabon, Banjarsari, Surakarta, dekat kawasan Ngarsopuro. Untuk perjalanan di dalam kota tersedia pilihan Batik Solo Trans maupun layanan pemesanan mobil dan ojek melalui aplikasi. Pelayanan di lokasi tersedia dalam bahasa Indonesia serta Inggris.
Fasilitas yang tercantum meliputi toilet, ruang salat, area parkir, restoran, dan kursi roda. Bila anggota rombongan membutuhkan bantuan mobilitas, komunikasikan kebutuhan serta rute masuk bangunan dengan pihak lokasi sebelum berangkat.
Nilai ulasan: 9.6 · 29 ulasan.
Tambahkan waktu untuk melihat arsitektur dan koleksi istana dalam agenda jalan-jalan di Solo. Untuk merencanakan pengalaman lain selama liburan, temukan aktivitas wisata di Traveloka dan pilih kunjungan budaya atau tempat menarik yang sesuai dengan minat Anda.

















