Promo
Jadi Partner Traveloka
Simpan
Pesanan Saya
IDR
Pay
Log In
Daftar
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
0
Review NKCTHI: Drama Keluarga yang Bisa Jadi Mengena atau Malah Biasa Saja

Review Film NKCTHI

Sebuah review film dari Stephany “Teppy” Josephine

Masing-masing dari kita pasti punya dinamika keluarga yang (terlalu) beragam. Pembuat film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) pasti bakalan sakit kepala kalau harus mengakomodir semua keragaman drama keluarga supaya bisa menyenangkan semua penonton. Itu makanya kemarin gue sempet ngetweet:

Cara kita dibesarkan,

Cara kita berbahasa/ngobrol,

Cara kita nunjukin perasaan dan kasih sayang,

Dan level kedekatan kita dengan satu sama lain di dalam keluarga

(menurut gue) akan sangat menentukan gimana kita menikmati NKCTHI.

Gue pribadi sebagai anak pertama dari tiga bersaudara bisa melihat perwakilan “suara hati” anak sulung, tengah, dan bungsu di film ini. Pernah lah sekali dua kali gue denger “keluhan” adek-adek gue ini sebagai anak kedua dan ketiga, dan ya... itu keliatan di film. Walaupun memang nggak sama persis. Soal kedekatan dengan orang tua beserta segala macem peraturan rumah yang mengikutinya, ini yang gue nggak bisa relate.

Tapi untuk gue, nonton NKCTHI adalah pengalaman sinematik yang menyenangkan. Jadi gue pikir kalopun ceritanya nggak berbekas di gue, paling nggak visual, musik, dan akting para pemainnya cakep banget. Apalagi Ardhito Pramono-nya. YHA.

NKCTHI menceritakan kehidupan suatu keluarga menengah ke atas di Jakarta yang anggota keluarganya dari muda sampe tua, Masya Allah, cakep-cakep semua. Ya gimana... gue juga mau muka gue mudanya kayak Niken Anjani, tuanya kayak Susan Bachtiar. Udah gitu kayaknya hidupnya macem nggak ada kesulitan ekonomi pula. :))

Pasangan suami istri bernama Narendra dan Ajeng ini punya tiga anak yang semua namanya ada hubungannya sama langit: Angkasa (sulung, laki-laki), Aurora (tengah, perempuan), dan Awan (bungsu, perempuan).

Dari sekali liat trailer aja kalian pasti akan tau kalau Awan ini anak bungsu yang terlalu diproteksi sama bapaknya yang super controlling, Aurora suka merasa dirinya nggak dianggep ada, dan Angkasa adalah kakak yang tampan luar biasa (Walau menurut gue Rio Dewanto agak ketuaan untuk karakter umur 27 tahun) tapi ketiban apes mulu dikasih tugas macem-macem sama bapaknya yang dari muda (Oka Antara) sampe tua (Donny Damara) bikin gue pengen nanya, “Om ada masalah apa sih kok Angkasa idupnya dibikin ribet amat? Sewa supir aja kali, nggak?”

Lalu ibunya gimana? Ibunya adalah sosok yang sangat kalem dan ngemong. Bener-bener figur ibu sempurna sih kalo buat gue. Gue suka banget sama akting Niken Anjani sebagai ibu versi muda. Keliatan banget dia caring dan loving tapi nggak lemah. Entah mengapa waktu tua si ibu jadi pasiiif banget. Tapi nanti kalian telusuri sendiri aja, deh.

Nah, si Awan nih karena dikekang mulu, satu waktu dia menemukan sebuah distraksi bernama “Kale” (Ardhito Pramono). Namanya emang kayak sayur mahal yang jadi makanan diet orang-orang kaya, tapi we o we, wujudnya sungguh tampan, manis, dan bertalenta.

Kale jadi warna baru buat hidup Awan yang apa-apa nggak boleh mulu itu. Urusan nanti mereka gimana, nanti kalian liat sendiri. Buat yang udah tua mungkin bawaannya pengen noyor ni bocah-bocah, yang muda-muda mungkin serasa ketampar karena hubungan mereka mayan mirip pengalaman percintaan usia sekarang.

Gue sih suka banget sama akting Ardhito. Menurut gue, buat pendatang baru aktingnya dia asik. Biarpun gue sedikit menyayangkan kenapa kalimat-kalimat yang dikasih ke dia puitis filosofis abis (dan kadang cheesy), tapi untuuung yang deliver dia.

Mungkin itu yang tricky, ya. Menurut gue NKCTHI adalah film yang bagus. Gue sama sekali nggak bisa bilang filmnya jelek karena emang nggak, tapi ya di beberapa bagian terasa terlalu “berbunga.” Susah pasti memindahkan kutipan-kutipan di buku aslinya ke bentuk dialog sampe jadi bener-bener natural.

Kalo buku dengan gaya penulisan kayak gitu kan kita bisa milih waktu dan kondisi yang tepat untuk baca. Beberapa bagian di film ini bikin gue sedikit bertanya, “Emang orang di kehidupan nyata ngomongnya kayak gitu, ya?”

Tapi apakah hal ini mengganggu banget? Nggak, sih. Forgivable. Untungnya masih banyak celetukan-celetukan sehari-hari yang bisa menetralisir.

Sesuai dengan hashtag filmnya, #SetiapKeluargaPunyaRahasia, kalian bisa ngeliat nanti gimana film ini mengurai permasalahannya. Buat gue pribadi rada ketebak, tapi ya nggak masalah juga. Gue suka cara film ini menutup ceritanya. Closurenya cukup manis.

Terlepas lo bisa relate dan berkaca sama ceritanya atau nggak, NKCTHI tetep adalah kemasan sinematik yang cakep. Cakep banget kayak video klip berbudget tinggi yang dijait jadi satu film tapi dengan cerita yang nggak sekadar lewat. Sinematografi dan scoring (hampir di setiap adegan), sama penggunaan lagu-lagu yang melodi dan terutama liriknya sesuai dengan adegan bikin gue kagum.

Paling nggak keluar dari bioskop akan terbentuk barisan cewek-cewek halu yang muterin Secukupnya Hindia sambil ngayal punya cowok tampan bernama jenis sayur-sayuran.

Gue cewek di baris pertama.

:))

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Movie

Source foto: Social Media NKCTHI