
Membayangkan Pulau Nias sering kali membawa ingatan kita pada atraksi Lompat Batu (Fahombo) yang legendaris atau gulungan ombak kelas dunia di Sorake. Namun, bagi para pecinta destinasi kuliner, pulau di barat Sumatera ini menyimpan rahasia gastronomi yang jauh lebih dalam dan menggugah selera. Begitu Anda menginjakkan kaki di tanah Ono Niha, aroma yang menyambut Anda adalah perpaduan antara wangi ubi yang dikukus, gurihnya kelapa sangrai, dan kepulan asap dari pemanggangan ikan segar di tepi pantai.
Letak geografis Nias yang terisolasi di Samudra Hindia sangat memengaruhi makanan tradisional Nias. Sebagai wilayah kepulauan, laut adalah lumbung protein utama mereka, namun kontur tanah yang berbukit menjadikan ubi jalar atau Gowi sebagai sumber karbohidrat utama menggantikan nasi di masa lalu. Inilah yang membuat kuliner Nias begitu unik; mereka memiliki kemandirian bahan baku yang luar biasa. Teknik memasak masyarakat Nias cenderung mempertahankan rasa asli bahan makanan—tidak terlalu banyak menggunakan bumbu rempah yang "berat" seperti di daratan Sumatera lainnya, melainkan lebih mengandalkan kesegaran bahan dan teknik pengolahan seperti pengasapan dan fermentasi.
Secara historis, makanan bagi masyarakat Nias adalah simbol strata sosial dan penghormatan. Di masa megalitikum hingga sekarang, hidangan berbasis daging sering kali menjadi pusat dari setiap ritual adat. Identitas daerah ini tertuang dalam piring-piring yang menyajikan keseimbangan antara hasil laut dan hasil bumi, menciptakan profil rasa yang jujur, bersahaja, namun sangat membekas di ingatan. Mencicipi makanan khas Nias adalah cara terbaik untuk menyelami kearifan lokal yang telah dijaga selama ribuan tahun.

Indonesia
Gonias Capsule Hostel & Gallery

8.7/10
Nias
Lihat Harga
Filosofi & Sejarah:
Babae adalah hidangan yang dulunya hanya disajikan untuk kalangan bangsawan atau saat upacara adat tertentu di wilayah Nias Selatan. Nama "Babae" merujuk pada jenis kacang-kacangan khas Nias yang kini mulai langka. Hidangan ini melambangkan kemakmuran dan rasa syukur kepada sang pencipta atas hasil bumi yang melimpah.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Bahan utamanya adalah Kacang Babae (sejenis kacang putih kecil) yang direbus hingga sangat lunak. Rahasia kelezatannya terletak pada penambahan santan kental dan bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, dan sedikit jahe. Kadang, potongan daging babi atau ikan ditambahkan untuk memperkaya rasa.
Profil Rasa:
Teksturnya menyerupai bubur kental yang sangat lembut. Rasanya sangat gurih dengan aroma kacang yang pekat, memberikan sensasi hangat yang nyaman di perut.
Cara Penyajian:
Disajikan panas dalam mangkuk kecil sebagai makanan pembuka atau pelengkap makan besar.
Filosofi & Sejarah:
Dalam budaya Nias, Harinake menempati posisi yang sangat tinggi. Hidangan ini merupakan menu wajib yang harus dibawa oleh menantu laki-laki saat mengunjungi mertua (Manunu mbe’e). Ini adalah simbol penghormatan dan kasih sayang yang tulus.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Bahan dasarnya adalah Daging Babi yang diiris tipis-tipis. Teknik memasaknya sangat unik: daging direbus dalam air yang tidak terlalu banyak bersama bumbu sederhana seperti garam dan serai hingga airnya menyusut dan mengeluarkan minyak alami daging.
Profil Rasa:
Rasanya sangat murni—menonjolkan kualitas daging babi yang segar. Ada tekstur kenyal dan rasa gurih yang mendalam dari lemak yang lumer, namun tetap terasa ringan karena tidak menggunakan banyak minyak tambahan.
Cara Penyajian:
Wajib disajikan dengan nasi putih atau ubi kukus dan dinikmati bersama seluruh anggota keluarga besar.
Filosofi & Sejarah:
Sebelum beras menjadi umum di pulau ini, Gowi (ubi jalar) adalah makanan pokok. Gowi Nifufu adalah cara masyarakat Nias mengolah ubi agar tidak membosankan. Ini adalah makanan para petani dan prajurit Nias zaman dahulu yang membutuhkan energi besar untuk beraktivitas.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Menggunakan Ubi Jalar atau singkong yang dikukus hingga empuk, lalu ditumbuk kasar. Rahasia utamanya adalah campuran parutan kelapa muda dan sedikit garam. Tidak ada tambahan bumbu lain, hanya mengandalkan kemanisan alami ubi dan gurih kelapa.
Profil Rasa:
Manis alami, gurih, dan memiliki tekstur yang padat namun empuk. Ada sensasi crunchy kecil dari parutan kelapa yang menyelingi kelembutan ubi.
Cara Penyajian:
Sering disantap sebagai pengganti nasi, didampingi dengan ikan bakar atau Harinake.
Filosofi & Sejarah:
Karena letaknya yang jauh dari pasar utama, masyarakat Nias zaman dahulu harus memutar otak untuk mengawetkan daging. Ni’owuru adalah teknik mengasinkan daging agar tahan hingga berbulan-bulan. Ini merupakan bukti kearifan lokal dalam warisan gastronomi Nusantara.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Daging (biasanya babi atau terkadang sapi) dilumuri dengan garam dalam jumlah yang sangat banyak. Daging kemudian disimpan dalam wadah tertutup. Untuk memasaknya, daging asin ini harus direndam air terlebih dahulu untuk mengurangi kadar garam, lalu digoreng atau direbus.
Profil Rasa:
Asin yang sangat kuat dengan tekstur daging yang lebih padat dan chewy. Setelah dimasak, rasa asinnya akan menyatu dengan gurihnya daging, menciptakan rasa yang sangat menggugah selera jika dimakan dengan nasi hangat.
Cara Penyajian:
Biasanya digoreng kering dan disajikan dengan sambal korek yang pedas untuk menyeimbangkan rasa asinnya.
Filosofi & Sejarah:
Nias kaya akan hasil laut, dan Gawu Sivo adalah salah satu hidangan yang paling unik. Ini adalah olahan daging kepiting atau rajungan yang dimasak dengan bumbu tradisional Pesisir Nias.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Menggunakan Kepiting segar yang dimasak dengan santan, kunyit, cabai, dan bumbu kunci bernama asam mbe’e. Teknik memasaknya perlahan (slow cooked) agar bumbu meresap hingga ke dalam cangkang.
Profil Rasa:
Pedas, gurih, dan segar. Ada ledakan rasa rempah yang sedikit lebih kuat dibandingkan hidangan Nias lainnya, namun tidak menghilangkan rasa manis alami dari daging kepiting.
Cara Penyajian:
Disajikan dalam piring besar, biasanya menjadi pusat perhatian saat makan siang di tepi pantai.
Filosofi & Sejarah:
Hidangan ini menunjukkan bahwa masyarakat Nias sangat pandai mengolah bahan apa pun yang tersedia di sekitar mereka, termasuk daun talas yang melimpah.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Menggunakan Daun Talas yang sudah dikeringkan atau direbus hingga hilang rasa gatalnya. Daun ini kemudian dimasak dengan santan kental, udang rebon, dan bumbu rempah sederhana.
Profil Rasa:
Gurih dan creamy. Tekstur daun talasnya lembut, hampir menyerupai gulai daun singkong namun dengan konsistensi yang lebih halus dan rasa yang lebih "bumi".
Cara Penyajian:
Sangat cocok menjadi sayur pendamping lauk daging atau ikan.
Di Nias, makan adalah sebuah peristiwa sosial yang sakral. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Makan Bersama dalam acara adat atau pesta rakyat. Berbeda dengan daerah lain yang mungkin memiliki sebutan spesifik untuk tradisi makan, di Nias, jamuan makan biasanya dilakukan di dalam Omo Hada (Rumah Adat) dengan posisi duduk melingkar di atas tikar pandan.
Bagi masyarakat Ono Niha, daging adalah komponen paling penting dalam sebuah pesta. Jika tidak ada daging babi, maka acara tersebut dianggap belum lengkap secara adat. Tradisi ini menunjukkan betapa makanan tradisional Nias berfungsi sebagai perekat sosial dan penanda kehormatan.
Menariknya, meskipun zaman telah modern, kebiasaan mengonsumsi Gowi Nifufu masih bertahan di desa-desa pedalaman. Makan bagi mereka bukan hanya soal kenyang, tapi soal menghargai apa yang diberikan oleh alam—baik itu dari laut yang luas maupun dari tanah ulayat yang subur. Kedekatan ini menciptakan sebuah ekosistem kuliner yang organik dan berkelanjutan.
Menemukan makanan khas Nias yang benar-benar otentik memerlukan perjalanan ke desa-desa wisata seperti Bawomataluo di Nias Selatan atau pasar tradisional di Gunungsitoli. Di Gunungsitoli, Anda bisa menemukan kedai-kedai lokal yang menyajikan ikan bakar segar dengan sambal khas Nias yang asam segar.
Tips Mencari Tempat Makan Otentik:
Oleh-oleh Khas:
Untuk dibawa pulang, Anda wajib membeli Ikan Asin Nias yang berkualitas tinggi atau Kripik Nias yang terbuat dari ubi jalar dan talas. Keduanya tahan lama dan sangat renyah untuk camilan di perjalanan.
Pesan Perjalanan Anda ke Nias di Traveloka!
Sudah terbayang lezatnya Harinake atau gurihnya Babae? Jangan hanya jadi angan! Traveloka siap membantu Anda mewujudkan petualangan kuliner ke Pulau Nias. Melalui Traveloka, Anda bisa dengan mudah memesan tiket pesawat menuju Bandara Binaka, Gunungsitoli.
Tersedia berbagai pilihan hotel mulai dari penginapan tepi pantai yang eksotis hingga hotel nyaman di pusat kota Gunungsitoli. Manfaatkan juga fitur Traveloka Xperience untuk memesan tur keliling desa adat agar pengalaman kuliner Anda semakin lengkap dengan latar belakang sejarah yang kuat. Pesan sekarang dan nikmati kemudahan liburan di ujung barat Indonesia hanya dengan satu aplikasi!
Fri, 27 Mar 2026

Wings Air
Medan (KNO) ke Nias/Gunung Sitoli (GNS)
Mulai dari Rp 1.404.600
Fri, 27 Mar 2026

Lion Air
Jakarta (CGK) ke Nias/Gunung Sitoli (GNS)
Mulai dari Rp 2.445.300
Wed, 15 Apr 2026

Lion Air
Batam (BTH) ke Nias/Gunung Sitoli (GNS)
Mulai dari Rp 2.076.200
1. Apakah makanan khas Nias halal?
Nias memiliki keberagaman budaya. Banyak hidangan tradisionalnya yang berbasis daging babi (seperti Harinake atau Ni’owuru). Namun, jangan khawatir, bagi wisatawan Muslim, Nias juga kaya akan olahan ikan laut segar, ayam, dan ubi jalar yang diolah secara halal. Pastikan untuk menanyakan kepada penjual atau mencari rumah makan bertanda halal.
2. Berapa lama daya tahan Ni’owuru untuk oleh-oleh?
Jika dikemas dengan baik dan kadar garamnya pas, Ni’owuru bisa bertahan berbulan-bulan di suhu ruang. Namun, disarankan untuk menyimpannya dalam wadah kedap udara atau kulkas agar kualitas daging tetap terjaga.
3. Apa pengganti nasi yang paling umum di Nias?
Gowi Nifufu atau ubi jalar tumbuk adalah pengganti nasi yang paling legendaris dan masih banyak dikonsumsi di Nias hingga saat ini.
4. Dimana tempat terbaik mencari seafood di Nias?
Kawasan pantai di Gunungsitoli dan area sekitar Pantai Sorake adalah surga bagi pecinta seafood. Ikan-ikannya langsung dari tangkapan nelayan lokal hari itu juga.
5. Apakah rasa makanan Nias pedas seperti masakan Padang?
Secara umum, masakan Nias tidak sepedas masakan Padang. Mereka lebih menonjolkan rasa gurih alami dan asam segar. Rasa pedas biasanya disajikan secara terpisah melalui sambal colo-colo khas lokal atau sambal ulek segar.
Siap mencicipi kelezatan dari Pulau Impian? Jadikan liburan Anda berikutnya ke Nias lebih berkesan dengan memesan tiket dan akomodasi hanya di Traveloka!










