
Cita Rasa Sekilas: Makanan Khas Sampit
Bayangkan Anda berdiri di dermaga kayu menyusuri tepian Sungai Mentaya yang megah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Udara tropis yang hangat membawa aroma yang sangat spesifik: wangi kayu yang terbakar perlahan, uap gurih dari kaldu ikan sungai yang sedang mendidih, dan aroma tajam namun menggoda dari fermentasi tradisional. Di atas meja kayu yang sederhana, tersaji potongan ikan perak mengkilap yang dagingnya begitu lembut hingga hancur saat disentuh, bersanding dengan kuah kuning keemasan yang jernih. Inilah pembukaan dari simfoni rasa makanan khas Sampit, sebuah pengalaman gastronomi yang memadukan kekayaan hutan Kalimantan dengan kemurahan hati aliran sungai.
Secara geografis, Sampit merupakan wilayah yang diberkati oleh aliran Sungai Mentaya. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan air menjadikan sungai ini sebagai "pasar hidup" yang menyediakan bahan baku utama. Masyarakat Sampit adalah ahli dalam mengolah Ikan Sungai seperti Jelawat, Baung, dan Patin. Tidak seperti daerah pesisir yang mengandalkan garam laut, masyarakat pedalaman dan pinggiran sungai di Kalimantan Tengah mengembangkan teknik preservasi yang unik melalui fermentasi menggunakan garam dan karamelisasi bahan alami. Hal ini menciptakan profil rasa yang tidak akan Anda temukan di belahan Nusantara lainnya.
Sejarah gastronomi Sampit adalah cerminan dari budaya Dayak dan Melayu pesisir yang harmonis. Masakan di sini bukan sekadar nutrisi; ia adalah identitas daerah yang lahir dari kearifan lokal dalam memanfaatkan bagian tumbuhan yang jarang digunakan di daerah lain, seperti umbut (bagian lunak pucuk pohon). Setiap suapan makanan tradisional Sampit membawa narasi tentang ketangguhan masyarakat sungai dalam mengolah alam tanpa merusaknya. Menjelajahi kuliner di sini adalah sebuah ziarah rasa menuju jantung Kalimantan yang autentik dan otoritatif.

Indonesia

Midtown Xpress Sampit - Kalimantan Tengah

8.5/10
•


Kotawaringin Timur
Lihat Harga
Filosofi & Sejarah:
Dalam bahasa Dayak Ngaju, "Juhu" berarti sayur berkuah, dan "Singkah" merujuk pada umbut atau tunas muda. Juhu Singkah Enyuh (Umbut Kelapa) adalah hidangan kehormatan yang sering disajikan untuk tamu penting di Sampit. Hidangan ini melambangkan kemakmuran karena untuk mendapatkan umbut kelapa, sebuah pohon harus dikorbankan, menjadikannya sajian yang eksklusif.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Bahan utamanya adalah Umbut Kelapa yang berwarna putih bersih dan sangat lunak. Rahasia kelezatannya terletak pada perpaduan rempah kuning (kunyit, lengkuas, serai) yang dimasak bersama santan encer atau kuah bening. Seringkali, ikan baung atau ikan sungai lainnya ditambahkan untuk memperkaya kaldu.
Profil Rasa:
Sensasi pertama adalah rasa manis alami dari umbut kelapa yang memiliki tekstur renyah namun lembut (seperti rebung namun lebih halus). Kuahnya yang gurih memberikan keseimbangan yang sempurna, menciptakan rasa yang light namun membekas.
Cara Penyajian:
Paling nikmat disajikan dengan nasi putih hangat dan ikan asin goreng sebagai penyeimbang tekstur.
Filosofi & Sejarah:
Ikan Jelawat adalah kebanggaan masyarakat Kotawaringin Timur. Bahkan, ada patung Jelawat raksasa di pusat kota Sampit. Ikan ini dikenal memiliki tekstur daging yang sangat berlemak dan lezat, menjadikannya komoditas kuliner paling dicari oleh wisatawan.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Hanya Ikan Jelawat segar dari Sungai Mentaya yang digunakan. Rahasia masakan ini adalah teknik membakar dengan sisik yang tetap menempel. Sisik ikan jelawat yang terbakar justru melindungi kelembapan daging di dalamnya agar tetap juicy dan tidak kering. Bumbu olesannya biasanya terdiri dari bawang putih, ketumbar, dan kecap manis berkualitas.
Profil Rasa:
Ada ledakan lemak ikan yang gurih (richness) di setiap gigitan. Dagingnya yang putih bersih memiliki rasa manis khas ikan sungai segar, berpadu dengan aroma asap yang sangat harum.
Cara Penyajian:
Disajikan dengan Sambal Terasi yang pedas menyengat dan lalapan sayur segar.
Filosofi & Sejarah:
Wadi adalah teknik pengawetan kuno masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Dahulu, wadi dibuat sebagai cadangan makanan saat musim penghujan di mana nelayan sulit turun ke sungai. Ini adalah wujud kecerdasan lokal dalam manajemen pangan.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Ikan sungai (biasanya patin atau papuyu) dibersihkan, lalu dilumuri garam dan Samu (beras yang disangrai hingga cokelat lalu ditumbuk). Proses fermentasi dilakukan dalam wadah tertutup selama satu minggu hingga berbulan-bulan.
Profil Rasa:
Wadi memiliki rasa yang sangat unik—perpaduan antara asin yang kuat, asam fermentasi yang segar, dan aroma pungent yang membangkitkan selera. Bagi mereka yang belum terbiasa, aromanya mungkin tajam, namun rasanya adalah definisi dari umami sejati.
Cara Penyajian:
Wadi biasanya digoreng hingga garing atau dimasak bersama irisan bawang merah dan cabai.
Filosofi & Sejarah:
Bagi pencinta kuliner ekstrem, Bangamat adalah tantangan wajib saat berkunjung ke Sampit. Kelelawar buah (kalong) yang digunakan dipercaya memiliki khasiat kesehatan, terutama untuk menyembuhkan asma dan penyakit pernapasan.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Hanya kelelawar pemakan buah yang digunakan agar dagingnya tidak berbau tajam. Dagingnya dimasak dengan bumbu kari yang sangat kental dan kaya rempah (kapulaga, cengkeh, kayu manis) untuk menyeimbangkan karakter dagingnya yang kuat. Seringkali dimasak bersama Sulur Teratai.
Profil Rasa:
Dagingnya memiliki tekstur yang mirip dengan daging bebek namun lebih berserat dan padat. Rasanya sangat gurih karena bumbu kari rempahnya meresap hingga ke tulang.
Cara Penyajian:
Disajikan dalam mangkuk besar berisi kuah kental berwarna cokelat gelap.
Filosofi & Sejarah:
Kalumpe adalah bukti bahwa kesederhanaan bahan lokal bisa naik kelas menjadi hidangan istimewa. Masakan ini merupakan makanan rumahan paling populer bagi masyarakat asli Sampit.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Daun singkong yang ditumbuk halus hingga mengeluarkan sari-sarinya. Rahasianya terletak pada campuran bumbunya yang menggunakan Terong Pipit dan kacang tanah sangrai yang dihaluskan bersama bumbu putih.
Profil Rasa:
Teksturnya sangat kental dan creamy meskipun tanpa santan yang berlebih. Rasanya gurih alami dengan aroma daun singkong yang segar, jauh berbeda dengan tumis daun singkong biasa.
Cara Penyajian:
Biasanya didampingi dengan ikan asin atau sambal terasi mentah.
Filosofi & Sejarah:
Tidak lengkap perjalanan kuliner tanpa camilan manis. Gaguduh adalah varian pisang goreng khas Kalimantan yang menjadi teman setia minum kopi masyarakat Sampit di pinggiran dermaga.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Menggunakan Pisang Kepok matang yang dihaluskan dan dicampur tepung terigu. Rahasianya adalah penambahan air kapur sirih dalam adonan agar hasilnya garing di luar namun sangat lembut di dalam.
Profil Rasa:
Manis legit dari pisang yang terkaramelisasi berpadu dengan tekstur tepung yang renyah.
Cara Penyajian:
Disajikan hangat-hangat dalam piring anyaman bambu.
Filosofi & Sejarah:
"Kujang" merujuk pada tanaman talas. Hidangan ini menunjukkan bahwa masyarakat Kotawaringin Timur sangat menghargai tanaman umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat dan sayuran pendamping nasi.
Rahasia Bahan Baku & Bumbu:
Batang dan umbi Talas yang telah dibersihkan secara khusus agar tidak menyebabkan gatal. Dimasak dengan ikan asap (ikan salai) dan bumbu kuning.
Profil Rasa:
Tekstur batang talas yang lembut dan berair menyerap bumbu dengan sempurna. Ada rasa gurih-asap yang muncul dari ikan salai yang menambah kedalaman rasa.
Cara Penyajian:
Paling pas dinikmati saat makan siang bersama keluarga.

Kumai

Private Local Heritage Tour to Pangkalan Bun - 1-Day Tour

9.0/10
Kumai
Rp 1.196.000
Rp 1.016.600
Masyarakat Sampit memiliki budaya makan yang sangat egaliter namun sarat penghormatan terhadap alam. Salah satu tradisi yang paling menarik adalah Makan Bajamba atau tradisi makan bersama dalam satu nampan besar, yang mencerminkan rasa persaudaraan yang erat tanpa memandang status sosial. Tradisi ini biasanya muncul dalam upacara adat Dayak atau perayaan syukuran masyarakat Melayu Sampit.
Selain itu, terdapat tradisi Simah Laut di pesisir dekat Sampit, di mana sesajian makanan dilarung sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut dan sungai yang melimpah. Kuliner di sini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari siklus kehidupan. Ada perbedaan mencolok antara hidangan harian yang cenderung praktis seperti Juhu Singkah, dengan hidangan upacara besar yang membutuhkan persiapan berhari-hari seperti proses pembuatan Wadi yang sempurna. Di Sampit, menghidangkan makanan terbaik bagi tamu adalah sebuah kewajiban moral yang otoritatif, memastikan siapa pun yang datang akan merasakan kehangatan Kalimantan.
Menjelajahi destinasi kuliner di Sampit membutuhkan panduan yang tepat agar Anda mendapatkan rasa yang paling autentik:
Tertarik untuk merasakan langsung gurihnya Jelawat Bakar atau uniknya aroma Wadi di tepi Sungai Mentaya? Rencanakan perjalanan Anda ke Kotawaringin Timur sekarang! Melalui Traveloka, Anda dapat memesan tiket pesawat ke Bandara H. Asan Sampit dengan harga kompetitif.
Jangan lupa pilih hotel di Sampit yang memiliki akses mudah ke pusat kuliner malam melalui aplikasi Traveloka. Gunakan fitur Traveloka Xperience untuk menemukan jasa pemandu lokal yang siap mengantar Anda mengeksplorasi pasar tradisional dan menemukan rahasia bumbu rempah destinasi kuliner terbaik di Kalimantan Tengah. Yuk, booking petualangan rasa Anda di Traveloka sekarang!
Thu, 23 Apr 2026

Wings Air
Surabaya (SUB) ke Sampit (SMQ)
Mulai dari Rp 1.105.900
Fri, 10 Apr 2026

NAM Air
Surabaya (SUB) ke Sampit (SMQ)
Mulai dari Rp 1.290.200
Sun, 29 Mar 2026

NAM Air
Jakarta (CGK) ke Sampit (SMQ)
Mulai dari Rp 1.254.300








