Mendaki gunung memang seru, tapi dinginnya udara bisa jadi musuh terbesar kalau tidak hati-hati. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah gejala hipotermia di gunung, kondisi ketika suhu tubuh turun drastis sehingga membahayakan keselamatan pendaki.
Sayangnya, banyak orang sering mengabaikan tanda-tandanya karena dianggap sepele. Supaya kamu lebih siap menghadapi medan dan cuaca ekstrem, yuk kenali 7 gejala hipotermia di gunung yang wajib kamu ketahui sebelum berpetualang!
Sebelum melangkah lebih jauh di jalur pendakian, penting untuk mengenali tanda-tanda hipotermia sejak dini. Berikut 7 gejala hipotermia di gunung yang wajib kamu waspadai agar perjalanan tetap aman.
Menggigil adalah reaksi alami tubuh untuk menghasilkan panas saat suhu turun drastis. Namun, jika menggigil tidak berhenti bahkan setelah memakai pakaian hangat, itu tanda tubuh sudah kesulitan mempertahankan suhu normal.
Saat hipotermia, aliran darah lebih difokuskan ke organ vital seperti jantung dan otak, sehingga kulit kehilangan suplai darah. Akibatnya, kulit terlihat sangat pucat, dingin, dan terasa lembab saat diraba.
Perubahan warna kebiruan ini muncul karena sirkulasi darah dan oksigen berkurang drastis ke bagian tubuh tertentu. Kondisi ini harus segera ditangani, karena bisa menyebabkan kerusakan jaringan jika dibiarkan terlalu lama.
Penurunan suhu tubuh juga memengaruhi fungsi otak, sehingga pendaki bisa jadi linglung atau salah arah. Gejala ini berbahaya karena penderita mungkin tidak sadar bahwa dirinya sudah berada dalam kondisi darurat.
Saat tubuh semakin dingin, koordinasi otot terganggu, termasuk otot di sekitar mulut dan tenggorokan. Akibatnya, kata-kata yang keluar terdengar tidak jelas atau melantur, dan bisa membuat komunikasi dengan rekan pendaki terhambat.
Sirkulasi yang buruk membuat otot di ekstremitas, seperti tangan dan kaki, kehilangan kekuatan. Rasa kaku ini membuat pendaki sulit bergerak, bahkan berjalan pun bisa menjadi tantangan besar.
Pada tahap lanjut, hipotermia membuat sistem tubuh melemah, termasuk jantung dan paru-paru. Detak jantung bisa melambat, napas jadi tidak teratur, yang berpotensi menyebabkan hilangnya kesadaran hingga kematian bila tidak segera ditangani.
Setelah memahami berbagai gejala hipotermia di gunung, langkah berikutnya adalah mengetahui cara mencegahnya. Berikut beberapa tips yang bisa kamu pakai untuk menghindari hipotermia:
Menggunakan lapisan pakaian yang menyerap keringat, fleece, dan jaket tahan angin dapat membantu menjaga kehangatan tubuh sekaligus mengurangi risiko kedinginan. Teknik layering juga memudahkan kamu untuk menyesuaikan pakaian sesuai kondisi.
Kepala, tangan, dan kaki rentan kehilangan panas paling cepat, sehingga topi, sarung tangan, dan kaos kaki penting untuk mencegah hipotermia. Sumber panas tubuh pada bagian-bagian ini bisa berkurang drastis jika tidak terlindungi secara optimal.
Saat suhu tubuh menurun, tubuh memerlukan “bahan bakar” cepat untuk menghasilkan panas. Cokelat, kacang-kacangan, atau makanan kaya kalori adalah pilihan tepat. Minuman hangat seperti teh jahe atau sup ringan bisa membantu menghangatkan tubuh dari dalam.
Mendaki di udara dingin sambil diam dapat membuat tubuh cepat kehilangan panas, jadi bergeraklah. Atau bila istirahat, cari tempat yang terlindung dari angin dan gunakan alas seperti matras atau jaket sebagai lapisan insulasi.
Jas hujan bukan hanya melindungi dari basah, tapi juga menjaga pakaian tetap kering. Selama mendaki, ponco bisa jadi pilihan praktis untuk melindungi tubuh sekaligus tas dari hujan.
Hindari pendakian di malam hari atau saat cuaca ekstrem. Apabila perkiraan menunjukkan hujan lebat atau angin kencang, sebaiknya tunda pendakian, sehingga tubuhmu bisa tetap hangat dan terlindungi dari terserang hipotermia.
Meskipun terdengar menantang, mendaki bersama tim jauh lebih aman dibanding solo hiking. Selain bisa saling membantu, keberadaan teman juga membuatmu lebih cepat tertolong jika gejala hipotermia muncul.
Kenali tindakan cepat dan tepat berikut agar bisa menyelamatkan diri atau rekan pendaki saat menghadapi keadaan darurat.
Pindahkan diri (atau korban) ke lokasi tidak terpapar angin atau cuaca ekstrem, seperti di dalam tenda atau area berlindung alami. Tujuannya mengurangi hilangnya panas tubuh dari luar, sekaligus memberi kesempatan tubuh untuk beradaptasi dan memulai pemulihan.
Pakaian basah bisa membuat tubuh semakin cepat kedinginan karena menyerap panas tubuh. Segera ganti ke pakaian kering dan hangat, lapisi dengan jaket tahan angin jika memungkinkan untuk mempertahankan suhu tubuh inti.
Saat terkena hipotermia, yang harus dipanaskan lebih dulu adalah bagian inti tubuh seperti dada, leher, dan selangkangan karena di area ini ada banyak pembuluh darah besar. Gunakan selimut darurat, sleeping bag, atau botol berisi air hangat.
Tubuh butuh energi untuk menghasilkan panas, jadi minuman hangat atau panas bisa membantu menaikkan suhu dari dalam. Sertai dengan makanan berkalori tinggi seperti cokelat atau biskuit. Ingat, hindari alkohol karena dapat mempercepat hilangnya panas tubuh.
Orang yang mengalami hipotermia cenderung mengantuk. Namun, membiarkannya tidur terlalu lama bisa berisiko kehilangan kesadaran. Jadi, pastikan penderita tetap terjaga atau diawasi.
Jika masih sadar, usahakan tetap tenang dan hindari bergerak terlalu banyak karena bisa mempercepat hilangnya energi. Bila kondisi makin buruk, seperti mulai mengantuk berat atau tidak responsif, segera cari bantuan medis.
Mengenali gejala hipotermia di gunung adalah langkah penting agar pendakian tetap aman dan nyaman. Dengan memahami tanda-tandanya sejak awal, kamu bisa lebih sigap dalam mengambil tindakan pencegahan.
Mau mendaki gunung dan sudah siap menaklukkan jalur pendakian? Traveloka punya layanan pemesanan tiket bus yang praktis buat kamu.
Pilihan rute dan jadwalnya lengkap, proses pemesanannya cepat, metode pembayarannya fleksibel, plus ada promo menarik yang bikin perjalanan lebih hemat. Kamu juga dapat booking tiket bus, bus dan travel bandara, tiket pesawat, tiket kereta api, serta tiket atraksi.
Jadi, sebelum berangkat mendaki, pastikan tiket bus ke kota terdekat jalur pendakian sudah kamu pesan lewat Traveloka. Dijamin perjalanan jadi lebih nyaman, aman, dan bebas ribet!