
Papeda bukan sekadar makanan khas dari Timur Indonesia. Di balik teksturnya yang lengket dan tampilannya yang sederhana, tersimpan cerita panjang tentang budaya, ketahanan pangan, dan identitas masyarakat pesisir. Sejarah papeda tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sagu sebagai bahan pangan utama yang telah menopang kehidupan selama berabad-abad.
Menelusuri sejarah papeda membuat kamu memahami bahwa makanan tradisional tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal nilai, filosofi, dan cara bertahan hidup di lingkungan yang unik.
Baca Juga: Menikmati 10 Bukit di Papua yang Mempesona
Sejarah papeda bermula dari pemanfaatan pohon sagu yang tumbuh subur di Papua dan Maluku. Sejak dulu, sagu sudah menjadi sumber makanan utama masyarakat setempat, bahkan sebelum beras dikenal luas di wilayah timur Indonesia.
Secara geografis, daerah Papua dan Maluku memiliki banyak lahan rawa yang cocok untuk pertumbuhan sagu. Karena itu, masyarakat di sana mengandalkan hutan sagu sebagai sumber pangan. Dari batang sagu yang sudah cukup umur, diambil patinya lalu diolah menjadi tepung sagu.
Tepung sagu inilah yang menjadi bahan dasar papeda. Cara membuatnya cukup sederhana, tetapi tetap membutuhkan teknik yang tepat. Tepung sagu diseduh dengan air panas sambil diaduk hingga berubah menjadi adonan kental dan bening. Tekstur lengket ini menjadi ciri khas papeda.
Papeda bukan hanya makanan sehari-hari, tetapi juga sering hadir dalam acara adat dan momen penting. Biasanya, papeda disajikan dengan ikan kuah kuning yang kaya rempah sehingga rasanya gurih dan segar.
Bagi masyarakat setempat, sagu juga melambangkan kehidupan. Hutan sagu dijaga dan diwariskan secara turun-temurun karena menjadi sumber pangan bagi generasi berikutnya. Dari sini terlihat bahwa papeda tidak hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari budaya dan kearifan lokal.
Sat, 21 Mar 2026

Sriwijaya Air
Wamena (WMX) ke Jayapura (DJJ)
Mulai dari Rp 493.000
Mon, 2 Mar 2026

Lion Air
Timika (TIM) ke Jayapura (DJJ)
Mulai dari Rp 534.200
Sat, 14 Mar 2026

Lion Air
Jakarta (CGK) ke Jayapura (DJJ)
Mulai dari Rp 3.274.000
Dalam perjalanan sejarah papeda, makanan ini berkembang menjadi identitas kuliner masyarakat Papua dan Maluku. Papeda bukan sekadar pengganti nasi, tetapi simbol kebersamaan.
Cara menyantap papeda pun unik. Biasanya papeda diambil menggunakan sumpit atau dua batang kayu khusus, lalu diputar hingga menggulung sebelum dipindahkan ke piring. Proses ini sering dilakukan bersama-sama, menciptakan momen kebersamaan di meja makan.
Tradisi makan papeda mencerminkan nilai kolektivitas. Tidak ada porsi individual yang kaku. Papeda diletakkan di satu wadah besar, lalu dinikmati bersama. Dalam konteks sejarah papeda, kebiasaan ini menunjukkan pentingnya solidaritas dalam masyarakat.
Selain itu, papeda juga hadir dalam berbagai acara adat. Dalam beberapa komunitas, papeda disajikan saat perayaan tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada tamu atau simbol syukur atas hasil alam.
Ada banyak fakta unik yang membuat sejarah papeda semakin menarik untuk dipelajari.
Pertama, sagu termasuk salah satu sumber karbohidrat tertua di Nusantara. Jauh sebelum sistem pertanian padi berkembang luas, masyarakat timur sudah mengandalkan sagu sebagai makanan pokok.
Kedua, papeda mencerminkan konsep ketahanan pangan lokal. Pohon sagu dapat tumbuh tanpa perawatan intensif dan tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem. Dalam konteks modern, ini menjadi contoh sistem pangan berkelanjutan yang relevan untuk masa depan.
Ketiga, papeda memiliki nilai gizi yang tidak bisa diremehkan. Meskipun rendah protein, sagu memberikan energi yang cukup tinggi. Karena itu, papeda biasanya dipadukan dengan ikan atau lauk berprotein agar kebutuhan nutrisi tetap seimbang.
Keempat, penyebaran papeda tidak terbatas di satu wilayah saja. Selain Papua, papeda juga dikenal di Maluku dan beberapa daerah pesisir lainnya dengan variasi penyajian yang berbeda.
Kelima, sejarah papeda menunjukkan adanya adaptasi budaya. Saat beras mulai masuk dan menjadi populer, papeda tidak serta-merta hilang. Hingga kini, papeda tetap bertahan sebagai simbol kebanggaan lokal.
Papeda bukan sekadar makanan khas dari Indonesia timur. Di balik teksturnya yang unik, tersimpan cerita panjang tentang budaya dan hubungan manusia dengan alam. Memahaminya akan membuat pengalaman makan terasa lebih berkesan. Jika kamu ingin lebih memahami papeda, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan.
1. Pahami budayanya
Papeda bukan makanan instan. Makanan ini lahir dari hubungan panjang antara masyarakat dan alam, terutama dalam mengelola sagu. Mengetahui proses panen dan pengolahannya akan membuat kamu lebih menghargainya.
2. Nikmati dengan cara tradisional
Cobalah menggulung papeda menggunakan sumpit kayu atau alat khusus. Nikmati teksturnya yang lengket dan lembut tanpa terburu-buru.
3. Sajikan dengan ikan kuah kuning khas Papua atau Maluku
Kuah berbumbu kunyit dan rempah memberikan rasa gurih dan segar yang cocok dengan papeda.
4. Jangan membandingkannya dengan nasi.
Papeda punya karakter dan identitas sendiri. Jika kamu menikmatinya sebagai makanan yang berbeda, rasanya akan lebih terasa.
5. Kunjungi daerah asalnya jika ada kesempatan.
Belajar langsung dari masyarakat setempat akan membuat kamu semakin memahami sejarah dan makna papeda.
Menelusuri sejarah papeda akan terasa lebih lengkap jika kamu mengunjungi langsung tanah kelahirannya, seperti Papua dan Maluku. Selain mencicipi papeda di tempat asalnya, kamu juga bisa menikmati kekayaan budaya dan panorama alam yang memukau. Berikut beberapa destinasi menarik yang bisa kamu pertimbangkan:
Menjelajahi Banda Neira adalah pengalaman yang memadukan sejarah dan keindahan alam. Pulau ini terkenal sebagai bagian dari Kepulauan Banda yang sarat kisah perdagangan rempah dunia. Dalam paket tur ini, kamu bisa menikmati laut jernih, bangunan bersejarah, hingga suasana pulau yang tenang dan autentik. Setelah seharian berkeliling, mencicipi papeda dengan ikan segar setempat tentu akan terasa semakin istimewa.

Banda Neira

4 Hari 3 Malam Banda Neira Tour

9.6/10
Banda Neira
Rp 3.944.287
Rp 3.555.560
Ngilngof menawarkan pesona desa pesisir dengan pantai berpasir putih dan air laut yang jernih. Di sini, kamu bisa merasakan kehidupan masyarakat lokal yang masih menjaga tradisi. Suasananya tenang, cocok untuk kamu yang ingin menikmati sisi lain Maluku yang lebih alami. Tidak hanya pemandangan, kamu juga berkesempatan mengenal kuliner khas daerah, termasuk papeda yang disajikan secara sederhana namun autentik.

Kei Kecil

Explore Wonderful Ngilngof Village
Kei Kecil
Rp 6.020.000
Rp 5.117.000
Jika kamu berlibur bersama keluarga, bermain di Kidzilla yang berada di Ambon Manise Square bisa menjadi pilihan menyenangkan. Anak-anak dapat menikmati berbagai wahana permainan yang aman dan seru. Setelah puas bermain, kamu bisa melanjutkan wisata kuliner di sekitar kota Ambon dan mencicipi papeda dengan ikan kuah kuning khas Maluku yang kaya rempah.

Sirimau

Playground Kidzilla Ambon Manise Square

9.0/10
Sirimau
Rp 90.000
Rp 85.500
Mengunjungi daerah asal papeda bukan hanya tentang wisata kuliner, tetapi juga perjalanan untuk memahami cara hidup masyarakat yang menghargai alam dan tradisi.
Agar perjalanan lebih praktis, kamu bisa memanfaatkan Traveloka untuk memesan tiket pesawat, hotel, hingga berbagai kebutuhan liburan lainnya. Dengan perencanaan yang tepat, perjalanan mengenal sejarah papeda bisa menjadi pengalaman yang nyaman dan terorganisir.










