
Di bawah bayang-bayang puncak Gunung Bromo yang megah, saat kabut tipis menyelimuti lautan pasir pada dini hari yang menggigilkan tulang, ribuan orang berkerumun dalam kesunyian yang magis. Cahaya obor nampak berkelap-kelip seperti barisan kunang-kunang yang mendaki lereng kawah aktif. Inilah Yadnya Kasada, sebuah ritus pengorbanan kolosal yang telah bertahan selama berabad-abad, menjadi denyut nadi spiritual bagi masyarakat Suku Tengger di Jawa Timur. Bau dupa menyeruak di udara dingin, bercampur dengan aroma belerang yang tajam, menciptakan suasana yang membawa setiap jiwa kembali ke masa ribuan tahun silam.
Secara geografis, wilayah Tengger merupakan dataran tinggi yang terisolasi secara alami oleh kaldera purba, sebuah kondisi yang memungkinkan budaya ini tetap murni meski zaman terus berubah. Upacara Kasada bukan sekadar festival pariwisata; ia adalah manifestasi pengabdian manusia kepada alam dan Sang Pencipta. Berakar dari sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit, Suku Tengger meyakini diri mereka sebagai keturunan langsung para bangsawan yang memilih mengasingkan diri ke wilayah pegunungan untuk menjaga kemurnian keyakinan mereka.
Dalam konstelasi budaya Nusantara, Yadnya Kasada menempati posisi yang amat krusial. Ritual ini merepresentasikan harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam semesta—sebuah konsep yang dikenal luas namun dipraktikkan secara ekstrem di bibir kawah yang bergejolak. Melalui narasi ini, kita akan menjelami bagaimana janji kuno sepasang suami-istri legendaris menjadi fondasi bagi persatuan ribuan warga yang menetap di empat kabupaten berbeda, membuktikan bahwa identitas budaya adalah pengikat yang lebih kuat daripada batasan administratif mana pun.

Indonesia

Golden Tulip Holland Resort Batu

8.9/10
•





Malang
Rp 900.000
Rp 900.000
Akar filosofis Yadnya Kasada bermuara pada legenda Roro Anteng (putri bangsawan Majapahit) dan Joko Seger (putra seorang Brahmana). Dikisahkan bahwa setelah lama tidak dikaruniai keturunan, mereka bersemedi di puncak Bromo dan memohon kepada Sang Hyang Widhi. Permohonan dikabulkan dengan syarat: anak bungsu mereka harus dikorbankan kembali ke kawah Bromo. Pengorbanan putra bungsu mereka, Kusuma, menjadi cikal bakal upacara ini. Bagi Suku Tengger, Kasada adalah bentuk penepatan janji. Secara kosmologis, Gunung Bromo bukan sekadar fenomena geologi, melainkan poros dunia (axis mundi) tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur.
Salah satu elemen visual terpenting adalah Ongkek, yaitu struktur pemikul yang terbuat dari bambu dan dihiasi dengan hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, hingga hewan ternak. Ongkek bukan hanya wadah, melainkan simbol persembahan totalitas kehidupan. Warna pakaian adat masyarakat Tengger yang didominasi oleh sarung bermotif batik dan ikat kepala (udeng) melambangkan kesederhanaan dan keteguhan iman. Setiap jenis sesaji memiliki makna: bunga sebagai harumnya niat, buah sebagai hasil kerja keras, dan palawija sebagai simbol ketergantungan manusia pada kesuburan tanah pegunungan.
Berbeda dengan pura pada umumnya yang dikelilingi pemukiman, Pura Luhur Poten berdiri sendirian di tengah kaldera Segara Wedi. Lokasinya yang terbuka menunjukkan filosofi keterbukaan jiwa masyarakat Tengger di hadapan semesta. Pura ini menjadi titik temu bagi semua warga dari Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang sebelum mereka mendaki kawah. Keberadaan pura ini menegaskan bahwa spiritualitas Tengger tidak terpisahkan dari bentang alam Bromo itu sendiri.
Kepemimpinan ritual Kasada dipegang oleh para Dukun Pandita. Berbeda dengan terminologi "dukun" di kota besar, Dukun Pandita adalah pemimpin agama resmi yang memegang otoritas doa dan mantra. Mereka bertanggung jawab merapal doa keselamatan bagi seluruh warga. Pemilihan Dukun Pandita baru pun sering dilakukan bertepatan dengan malam Kasada melalui ujian pembacaan mantra yang ketat. Selain itu, para asisten atau Manggala berperan mengatur alur massa agar ritual berjalan khidmat meski dihadiri ribuan orang.
Kasada juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan atau Gotong Royong. Warga yang tinggal di lereng bawah akan mendaki membawa hasil bumi terbaik untuk dibagikan. Di sini, status sosial melebur. Baik petani kentang maupun pegawai pemerintah duduk bersila bersama di atas pasir, menunjukkan bahwa di hadapan kawah Bawah (nama lokal untuk dewa Bromo), semua manusia setara dan memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga harmoni alam.
Beberapa hari sebelum hari H, setiap desa di wilayah Tengger sibuk mempersiapkan Ongkek. Para tetua desa berkumpul untuk memilih hasil bumi terbaik. Tak jarang, mereka melakukan puasa atau pantang tertentu untuk membersihkan diri. Persiapan ini sangat krusial karena sesaji yang dibawa harus dalam kondisi segar dan tanpa cacat, sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Hyang Widhi.
Puncak ritual dimulai sekitar pukul 00.00 hingga subuh. Prosesi diawali dengan pembacaan doa dan mantra oleh Dukun Pandita di Pura Luhur Poten. Setelah doa selesai, rombongan warga mulai mendaki tangga Bromo yang berjumlah ratusan anak tangga. Sesampainya di bibir kawah, warga melarungkan sesaji mereka ke dalam kawah. Uniknya, di dalam kawah seringkali terdapat banyak warga lain (bukan Suku Tengger) yang mencoba menangkap sesaji tersebut menggunakan jaring. Bagi Suku Tengger, hal ini tidak dilarang karena mereka percaya bahwa setelah sesaji dilemparkan, itu adalah hak alam dan siapa pun yang membutuhkannya boleh mengambilnya sebagai bentuk sedekah.

Gunung Bromo

Tur Sunrise Gunung Bromo - 1 Hari

9.0/10
Gunung Bromo
Rp 434.000
Rp 359.260
Setelah ritual pelarungan selesai, masyarakat kembali ke desa masing-masing atau berkumpul di pelataran pasir untuk makan bersama. Ini adalah momen rekonsiliasi dan syukur. Mereka saling mendoakan agar panen di tahun mendatang melimpah dan dijauhkan dari bencana erupsi atau wabah penyakit.
Selama prosesi berlangsung, terdapat beberapa aturan tidak tertulis yang sangat dihormati:
Menyaksikan Yadnya Kasada secara langsung adalah pengalaman yang mengubah cara pandang seseorang terhadap budaya Indonesia. Namun, persiapan yang matang sangat dibutuhkan.
Akses paling populer adalah melalui pintu masuk Cemorolawang, Probolinggo. Anda dapat menggunakan kendaraan roda empat hingga batas tertentu, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki atau menyewa kuda. Landmark terbaik untuk memotret prosesi adalah dari puncak kawah saat matahari terbit (sunrise), di mana bayangan ribuan orang kontras dengan uap kawah yang membubung.
Wed, 25 Mar 2026

Batik Air
Jakarta (HLP) ke Malang (MLG)
Mulai dari Rp 1.007.600
Wed, 25 Mar 2026

Batik Air
Jakarta (CGK) ke Malang (MLG)
Mulai dari Rp 1.044.300
Sun, 22 Mar 2026

Citilink
Medan (KNO) ke Malang (MLG)
Mulai dari Rp 2.324.500
Rasakan sendiri energi magis di kaldera Bromo. Pesan tiket pesawat ke Malang atau Surabaya melalui Traveloka dan lanjutkan perjalanan dengan sewa mobil di Traveloka untuk fleksibilitas maksimal. Jangan lupa booking hotel di area Cemorolawang atau Tosari jauh-jauh hari melalui aplikasi Traveloka, karena akomodasi biasanya penuh sesak menjelang hari raya Kasada. Gunakan promo eksklusif untuk pengalaman wisata budaya yang tak terlupakan!
1. Apakah wisatawan boleh ikut melarung sesaji? Wisatawan diperbolehkan menonton, namun ritual pelarungan sesaji Ongkek secara resmi dilakukan oleh warga Suku Tengger. Namun, jika Anda ingin memberikan sumbangan hasil bumi untuk dilarung bersama warga sebagai tanda hormat, biasanya diperbolehkan.
2. Kapan tepatnya Upacara Kasada dilakukan tahun ini? Waktu pelaksanaan Kasada selalu berubah setiap tahun masehi karena mengikuti penanggalan tradisional Tengger (setiap bulan ke-12 hari ke-14). Sebaiknya pantau kalender budaya di aplikasi Traveloka untuk info terbaru.
3. Apakah Gunung Bromo tetap dibuka untuk umum saat Kasada? Bromo biasanya tetap terbuka, namun area kawah dan Pura Luhur Poten akan sangat padat. Ada kalanya pihak berwenang membatasi kendaraan di area tertentu untuk memberikan prioritas pada prosesi adat.
4. Berapa lama durasi puncak upacara ini? Puncak ritual berlangsung dari tengah malam hingga sekitar pukul 08.00 pagi. Waktu paling krusial adalah antara pukul 02.00 hingga 05.00 subuh.
5. Apakah aman berkunjung saat upacara berlangsung? Sangat aman selama Anda mengikuti arahan petugas keamanan desa (Jogoboyo) dan menghormati batasan-batasan di bibir kawah. Selalu periksa status aktivitas vulkanik Bromo sebelum berangkat.






