
Kimbab atau gimbap adalah salah satu makanan Korea yang paling mudah dikenali. Bentuknya gulungan nasi dengan berbagai isian berwarna, dibungkus rumput laut kering, lalu dipotong kecil sehingga praktis untuk disantap. Sekilas, kimbab sering disamakan dengan sushi dari Jepang, padahal keduanya memiliki latar belakang sejarah, filosofi, dan cita rasa yang berbeda.
Di Korea, kimbab bukan sekadar makanan. Hidangan ini lekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari bekal sekolah, makanan piknik, hingga sajian praktis saat bepergian. Agar dapat lebih memahami mengapa kimbab begitu penting dalam budaya Korea, kamu perlu menelusuri sejarahnya dari masa awal kemunculan hingga perkembangannya di era modern. Simak informasi lengkap tentang sejarah kimbab di bawah ini!
Kimbab adalah makanan Korea yang terdiri dari nasi putih yang dibumbui minyak wijen dan garam, kemudian diisi dengan berbagai bahan seperti sayuran, telur, daging, atau ikan. Semua isian tersebut digulung menggunakan lembaran rumput laut kering yang disebut gim.
Berbeda dengan sushi yang menggunakan nasi berbumbu cuka, kimbab memiliki rasa yang lebih gurih dan ringan. Penggunaan minyak wijen menjadi ciri khas utama yang memberikan aroma khas Korea. Isian kimbab juga umumnya sudah dimasak, sehingga aman dan nyaman disantap dalam berbagai kondisi.
Di Korea Selatan, kimbab sering dianggap sebagai comfort food. Makanan ini mudah ditemukan di toko serba ada, restoran kecil, hingga gerai khusus kimbab. Kesederhanaan dan fleksibilitasnya membuat kimbab bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Baca juga: 9 Makanan Khas Korea Yang Hits dan Enak
Demi memahami sejarah kimbab secara akurat, penting melihat konteks sejarah Korea, terutama pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Banyak sejarawan kuliner sepakat bahwa kimbab modern berkembang pada masa pendudukan Jepang di Korea, sekitar tahun 1910-1945.
Sebelum periode tersebut, masyarakat Korea telah lama mengonsumsi nasi dan rumput laut sebagai makanan sehari-hari. Namun, konsep menggulung nasi dengan isian dalam rumput laut seperti kimbab dikenal sekarang mulai populer setelah adanya pengaruh budaya makanan Jepang.
Pada masa pendudukan Jepang, makanan Jepang seperti norimaki diperkenalkan ke Korea. Norimaki sendiri adalah gulungan nasi dengan rumput laut dan isian sederhana. Masyarakat Korea kemudian mengadaptasi konsep tersebut sesuai dengan bahan lokal dan selera mereka.
Perbedaan utama mulai terlihat dari cara membumbui nasi dan pilihan isian. Jika norimaki menggunakan cuka, versi Korea justru menggunakan minyak wijen. Isian kimbab pun berkembang dengan bahan-bahan khas Korea seperti danmuji atau acar lobak kuning, bayam berbumbu, serta daging sapi yang dimasak.
Setelah Korea merdeka, kimbab mengalami proses “Koreanisasi” yang lebih kuat. Hidangan ini kemudian dianggap sebagai makanan khas Korea, terlepas dari pengaruh awalnya. Seiring waktu, kimbab menjadi simbol kreativitas kuliner Korea dalam mengadaptasi dan mengembangkan budaya asing menjadi identitas sendiri.
Kimbab memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Korea. Makanan ini sering dibuat di rumah untuk berbagai keperluan, terutama saat acara keluarga, piknik, atau perjalanan jauh.
Di sekolah-sekolah Korea, kimbab kerap menjadi bekal favorit karena praktis dan mengenyangkan. Bentuknya yang ringkas membuatnya mudah dibawa tanpa perlu alat makan tambahan. Hal ini menjadikan kimbab identik dengan kebersamaan dan momen santai.
Selain itu, kimbab juga sering muncul dalam drama dan film Korea. Adegan makan kimbab di taman atau di sela aktivitas sering digunakan untuk menggambarkan kehangatan hubungan antar tokoh. Secara tidak langsung, hal ini turut memperkenalkan kimbab ke penonton internasional.
Memasuki era modern, kimbab mengalami banyak inovasi. Jika dulu kimbab identik dengan isian sederhana, kini variasinya semakin beragam dan kreatif.
Restoran modern menghadirkan kimbab dengan isian keju, tuna pedas, ayam goreng, hingga seafood. Ada pula versi kimbab vegetarian yang menyesuaikan gaya hidup sehat. Bentuknya pun tidak selalu gulungan klasik, melainkan dimodifikasi menjadi kimbab segitiga atau kimbab bowl.
Popularitas budaya Korea secara global, terutama melalui K-pop dan K-drama, turut mendorong kimbab dikenal lebih luas. Banyak orang di luar Korea mulai mencoba membuat kimbab sendiri di rumah atau mencarinya di restoran Korea.
Meski tampil lebih modern, prinsip dasar kimbab tetap dipertahankan. Keseimbangan rasa, tampilan yang rapi, dan penggunaan bahan segar masih menjadi ciri utama yang dijaga hingga sekarang.
Baca juga: 10 Makanan Pedas Korea Selatan, Wajib Coba!
Banyak orang masih menyamakan kimbab dengan sushi, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Perbedaan ini penting dipahami agar tidak terjadi kesalahan informasi.
Kimbab menggunakan nasi yang dibumbui minyak wijen, sedangkan sushi menggunakan nasi bercuka. Isian kimbab umumnya matang, sementara sushi sering menggunakan ikan mentah. Dari sisi budaya, sushi berkembang sebagai makanan restoran, sedangkan kimbab lebih dekat dengan makanan rumahan dan bekal.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa meski tampak serupa secara visual, kimbab dan sushi memiliki identitas kuliner masing-masing yang tidak bisa disamakan begitu saja.
Saat ini, kimbab sudah menyebar ke berbagai negara. Di Amerika Serikat, Jepang, hingga Asia Tenggara, kimbab mudah ditemukan di restoran Korea atau festival makanan internasional.
Di Indonesia sendiri, kimbab semakin dikenal seiring meningkatnya minat terhadap budaya Korea. Banyak restoran Korea yang menyajikan kimbab sebagai menu utama, bahkan beberapa pelaku UMKM menjual kimbab dengan sentuhan lokal agar sesuai dengan selera masyarakat.
Kehadiran kimbab di berbagai negara menunjukkan bahwa makanan ini mampu diterima lintas budaya. Rasanya yang ringan dan fleksibel membuat kimbab mudah dinikmati oleh banyak orang.
Sejarah kimbab menunjukkan bagaimana sebuah makanan bisa berkembang dari hasil adaptasi budaya menjadi identitas nasional yang kuat. Dari pengaruh awal luar negeri hingga proses penyesuaian dengan selera lokal, kimbab kini menjadi salah satu ikon kuliner Korea yang mendunia. Kesederhanaan, kepraktisan, dan rasa yang seimbang membuat kimbab tetap relevan dari masa ke masa.
Mencicipi kimbab di Korea Selatan secara langsung jadi wishlist bagi banyak orang. Kamu bisa melakukan wisata kuliner di sana sekaligus liburan. Kini, Traveloka dapat mempermudah rencana perjalanan kamu ke Korea Selatan! Mulai dari pesan tiket pesawat, tiket kereta api, shuttle bus, hingga booking hotel bisa kamu lakukan dengan Traveloka. Selain itu, kamu juga bisa memesan tiket atraksi wisata di destinasi tujuan tanpa khawatir kehabisan. Pakai Traveloka sekarang dan nikmati keuntungannya!










