
Saat mendengar kata lumpia, mungkin yang langsung terbayang adalah kulit tipis yang renyah dengan isian rebung dan udang yang gurih. Makanan ini begitu akrab di lidah masyarakat Indonesia, terutama di Semarang. Namun di balik kelezatannya, tersimpan sejarah lumpia yang panjang dan penuh cerita lintas budaya.
Lumpia bukan sekadar camilan. Ia adalah hasil pertemuan budaya, perdagangan, dan kreativitas kuliner yang terus berkembang dari masa ke masa. Dari Tiongkok hingga Nusantara, perjalanan lumpia menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi jembatan antarbangsa.
Jika kamu menyukai wisata kuliner yang sarat cerita, memahami sejarah lumpia akan membuat pengalaman menyantapnya terasa jauh lebih bermakna.
Untuk memahami sejarah lumpia, kamu perlu menengok ke Tiongkok kuno. Di sana, terdapat makanan bernama chun juan atau spring roll yang secara harfiah berarti "gulungan musim semi". Makanan ini biasanya disajikan saat Festival Musim Semi sebagai simbol harapan, keberuntungan, dan awal yang baru.
Chun juan dibuat dari kulit tipis berbahan dasar tepung gandum, kemudian diisi dengan sayuran segar yang melambangkan kesuburan. Seiring waktu, isian berkembang menjadi lebih beragam, termasuk daging dan seafood. Tradisi ini terus diwariskan turun-temurun, menjadikan spring roll sebagai bagian penting dalam budaya kuliner Tiongkok.
Sejarah lumpia mulai bersinggungan dengan Indonesia ketika para perantau Tiongkok datang ke Nusantara, terutama pada abad ke-15 hingga ke-19. Kota-kota pelabuhan seperti Semarang menjadi pusat pertemuan budaya yang dinamis. Di sinilah terjadi proses akulturasi yang menarik antara kuliner Tiongkok dan bahan-bahan lokal.
Di Semarang, lumpia bertransformasi. Isian rebung muda menjadi ciri khas yang membedakannya dari spring roll versi Tiongkok. Rebung memberikan aroma khas dan tekstur renyah yang unik. Ditambah udang dan telur, terciptalah rasa yang kaya dan berbeda.
Perpaduan ini tidak terjadi secara instan. Ada kisah yang menyebutkan bahwa seorang imigran Tiongkok menikah dengan penduduk lokal dan mulai menggabungkan resep keluarga dengan bahan setempat. Dari dapur sederhana inilah, cikal bakal lumpia Semarang lahir dan kemudian berkembang menjadi ikon kuliner kota tersebut.
Sat, 21 Mar 2026

Citilink
Jakarta (CGK) ke Semarang (SRG)
Mulai dari Rp 703.200
Wed, 25 Mar 2026

Lion Air
Banjarmasin (BDJ) ke Semarang (SRG)
Mulai dari Rp 894.200
Tue, 24 Feb 2026

NAM Air
Pangkalan Bun (PKN) ke Semarang (SRG)
Mulai dari Rp 624.600
Lumpia bukan sekadar camilan yang mudah ditemukan di berbagai kota. Di balik rasanya yang gurih, tersimpan sejarah panjang dan makna budaya yang menarik untuk dipahami.
1. Simbol kemakmuran dan keberuntungan
Spring roll yang menjadi cikal bakal lumpia berbentuk seperti batangan emas. Dalam budaya Tiongkok, bentuk ini melambangkan kekayaan dan kemakmuran sehingga sering hadir saat perayaan Tahun Baru Imlek.
2. Akulturasi budaya di Semarang
Sejarah lumpia berkembang kuat di Semarang, kota yang mempertemukan budaya Jawa dan Tionghoa. Isian rebung khas lokal berpadu dengan teknik memasak Tiongkok, menciptakan cita rasa yang unik.
3. Munculnya lumpia basah dan goreng
Awalnya lumpia lebih sering disajikan dalam versi basah. Seiring waktu, hadir versi goreng yang lebih renyah dan tahan lama. Kini keduanya sama-sama digemari.
4. Warisan keluarga turun-temurun
Banyak penjual lumpia legendaris di Semarang mempertahankan resep keluarga selama puluhan tahun. Cita rasanya dijaga agar tetap konsisten dari generasi ke generasi.
5. Oleh-oleh khas kota
Lumpia kini menjadi buah tangan wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Semarang. Hal ini semakin menguatkan posisinya sebagai bagian dari identitas kota.
Melalui berbagai fakta tersebut, lumpia tidak hanya dikenal sebagai makanan lezat. Ia juga menjadi simbol pertemuan budaya dan warisan kuliner yang terus hidup hingga sekarang.
Menikmati lumpia tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal pengalaman. Berikut beberapa tips agar kamu bisa lebih memahami dan menghargai sejarah lumpia saat menyantapnya.
1. Kenali Jenisnya
Di Semarang, kamu akan menemukan lumpia basah dan lumpia goreng. Lumpia basah memiliki tekstur kulit yang lembut dengan isian yang terasa lebih segar. Sementara lumpia goreng menawarkan sensasi renyah di luar dan gurih di dalam. Cobalah keduanya untuk merasakan perbedaannya.
2. Perhatikan Isian Rebung
Rebung adalah kunci utama cita rasa lumpia Semarang. Rebung yang baik tidak berbau tajam dan memiliki tekstur renyah. Proses pengolahan rebung membutuhkan teknik khusus agar aroma khasnya tetap nikmat dan tidak mengganggu.
3. Nikmati dengan Pelengkapnya
Biasanya lumpia disajikan dengan saus kental berwarna cokelat, acar timun, dan daun bawang. Kombinasi ini menciptakan keseimbangan rasa manis, asam, dan gurih. Jangan lewatkan pelengkapnya karena di sanalah harmoni rasa tercipta.
4. Cari Tahu Cerita di Baliknya
Jika kamu berkesempatan mengunjungi penjual lumpia legendaris, cobalah bertanya tentang sejarah usaha mereka. Banyak cerita menarik tentang bagaimana resep diwariskan dan bagaimana mereka mempertahankan kualitas selama puluhan tahun.
5. Jadikan Bagian dari Wisata Kuliner
Memahami sejarah lumpia akan terasa lebih lengkap jika kamu menikmatinya langsung di kota asalnya. Semarang menawarkan pengalaman kuliner yang otentik dan berbeda dibandingkan menyantap lumpia di kota lain.
Setelah puas menyusuri sejarah lumpia dan mencicipi kelezatannya, perjalanan di Semarang tentu belum selesai. Kota ini memiliki banyak destinasi menarik yang bisa kamu eksplorasi.
1. Saloka Theme Park
Jika kamu menyukai taman hiburan dengan wahana yang memacu adrenalin, tempat ini wajib masuk daftar kunjungan. Saloka menghadirkan berbagai permainan seru, mulai dari wahana ekstrem hingga area ramah anak. Suasananya meriah dengan tata ruang yang modern dan bersih, cocok untuk liburan keluarga maupun hangout bersama teman.

Tuntang

Tiket Saloka Theme Park

8.9/10
Tuntang
Rp 120.000
2. Dairyland on the Valley Semarang
Ingin suasana yang lebih santai sekaligus edukatif? Dairyland on the Valley menawarkan pengalaman berinteraksi langsung dengan hewan ternak dalam lingkungan yang asri. Kamu bisa memberi makan hewan, belajar tentang peternakan, hingga berburu spot foto estetik yang instagramable. Tempat ini cocok untuk keluarga yang ingin menikmati wisata alam ringan dengan sentuhan edukasi.

Bergas

Dairyland On The Valley Semarang

8.9/10
Bergas
Rp 15.000
3. Boemisora
Bagi pencinta suasana alam dan tempat berkonsep unik, Boemisora menghadirkan pengalaman yang berbeda. Dengan desain estetik yang berpadu dengan panorama alam, tempat ini cocok untuk bersantai sambil menikmati udara segar. Setiap sudutnya terasa artistik dan nyaman, membuat kamu betah berlama-lama.

Getasan

Tiket Boemisora

9.0/10
Getasan
Rp 20.000
4. Muncul River Tubing
Jika ingin aktivitas yang lebih menantang, Muncul River Tubing menawarkan sensasi menyusuri aliran sungai dengan ban pelampung. Airnya yang jernih dan suasana alam sekitar membuat pengalaman ini terasa segar sekaligus seru. Cocok untuk kamu yang ingin memacu adrenalin namun tetap aman dan menyenangkan.

Banyubiru

Muncul River Tubing

9.2/10
Banyubiru
Rp 115.000
Rp 100.000
Dengan kombinasi wisata kuliner dan berbagai destinasi menarik ini, liburanmu di Semarang akan terasa lengkap. Tinggal sesuaikan pilihan dengan gaya liburan yang kamu inginkan!
Agar pengalaman menikmati lumpia semakin lengkap, rencanakan perjalananmu dengan baik. Manfaatkan Traveloka untuk memesan tiket atraksi, transportasi, dan kebutuhan liburan lainnya.
Dengan begitu, kamu tidak hanya memahami sejarah lumpia, tetapi juga merasakan langsung atmosfer kota yang melahirkannya. Perjalanan kuliner pun berubah menjadi pengalaman yang penuh cerita dan makna!


















