
Nasi kuning bukan sekadar hidangan berwarna cerah yang sering hadir saat perayaan. Di balik tampilannya yang menggoda, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, kepercayaan, dan perjalanan budaya Nusantara. Saat kamu melihat tumpeng nasi kuning di tengah meja, sebenarnya kamu sedang menyaksikan warisan sejarah yang telah hidup selama ratusan tahun.
Sejarah nasi kuning tidak bisa dilepaskan dari perkembangan budaya masyarakat Indonesia yang sarat simbol dan filosofi. Warna kuning yang khas bukan hanya soal estetika, tetapi juga mengandung makna mendalam tentang harapan, kemakmuran, dan rasa syukur.
Melalui artikel ini, kamu akan diajak menelusuri asal-usul nasi kuning, memahami fakta menarik di baliknya, hingga menemukan cara terbaik untuk menikmatinya sambil menjelajahi destinasi wisata bersejarah di Jawa Tengah.
Membahas sejarah nasi kuning berarti melihat kembali pengaruh budaya Hindu-Buddha yang pernah berkembang di Nusantara. Pada masa kerajaan seperti Mataram Kuno dan Majapahit, warna kuning dianggap sebagai simbol kemuliaan dan kejayaan. Warna ini identik dengan emas yang melambangkan kekayaan dan kekuasaan.
Dalam tradisi masyarakat Jawa dan Bali, nasi kuning sering digunakan dalam upacara keagamaan sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan. Warna kuning dari kunyit dipercaya melambangkan cahaya, kehidupan, dan energi positif. Kunyit sendiri sudah lama digunakan sebagai rempah penting, baik untuk memberi warna maupun sebagai simbol perlindungan.
Nasi kuning juga sering dibentuk menjadi tumpeng. Bentuk kerucutnya melambangkan gunung yang dianggap suci dan menjadi simbol hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Karena itu, tumpeng nasi kuning biasanya hadir dalam acara syukuran, kelahiran, pernikahan, dan peringatan hari penting.
Seiring waktu, nasi kuning tidak hanya digunakan dalam acara sakral. Kini kamu bisa menemukannya di acara ulang tahun, peresmian usaha, hingga sebagai menu sarapan. Pengaruh Islam juga ikut membentuk tradisi ini. Dalam budaya selamatan masyarakat Jawa, tumpeng nasi kuning tetap digunakan, tetapi doa dan maknanya disesuaikan dengan ajaran Islam. Hal ini menunjukkan bahwa nasi kuning menjadi bagian dari perpaduan berbagai budaya di Indonesia.
Mon, 2 Mar 2026

NAM Air
Jakarta (CGK) ke Bali / Denpasar (DPS)
Mulai dari Rp 792.200
Fri, 27 Mar 2026

Super Air Jet
Surabaya (SUB) ke Bali / Denpasar (DPS)
Mulai dari Rp 549.600
Sun, 1 Mar 2026

Citilink
Jakarta (HLP) ke Bali / Denpasar (DPS)
Mulai dari Rp 871.300
Nasi kuning bukan sekadar hidangan berwarna cerah yang menggugah selera. Di balik tampilannya, terdapat makna budaya dan sejarah yang panjang.
1. Kunyit sebagai pewarna alami: Kunyit sudah digunakan sejak lama untuk memberi warna kuning pada nasi. Selain memberi warna dan aroma khas, kunyit juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan.
2. Ada di banyak daerah: Nasi kuning tidak hanya populer di Jawa, tetapi juga di Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Di Manado misalnya, nasi kuning disajikan dengan cakalang dan sambal pedas khas daerah tersebut.
3. Tradisi potong tumpeng: Dalam adat Jawa, puncak tumpeng dipotong oleh orang yang dihormati. Potongan pertama biasanya diberikan kepada orang yang dituakan atau berjasa sebagai simbol hormat.
4. Simbol perayaan dan syukur: Nasi kuning sering hadir saat acara penting seperti buka usaha, pindah rumah, atau kenaikan jabatan sebagai tanda rasa syukur.
5. Makna warna kuning: Di Asia Tenggara, warna kuning sering melambangkan kebesaran dan kemuliaan, sehingga nasi kuning juga memiliki makna simbolis yang kuat.
Melalui berbagai makna tersebut, nasi kuning menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia hadir sebagai simbol doa, harapan, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.
Menikmati nasi kuning bukan hanya soal rasa, tetapi juga memahami makna di baliknya. Jika ingin pengalaman yang lebih autentik, cobalah menikmatinya saat acara selamatan atau perayaan adat. Suasana tradisional akan membuat kamu lebih merasakan nilai budaya yang menyertainya.
Perhatikan juga lauk pelengkapnya seperti ayam goreng, telur, kering tempe, urap, dan sambal. Setiap lauk memiliki simbol tersendiri, misalnya telur melambangkan kehidupan dan ayam melambangkan ketulusan. Kamu juga bisa mencoba membuat nasi kuning sendiri untuk memahami proses dan teknik di balik hidangan ini.
Jika ingin mendalami sejarahnya, berkunjung ke daerah yang kaya tradisi Jawa seperti Yogyakarta bisa menjadi pilihan. Di sana, kamu dapat melihat langsung bagaimana kuliner dan budaya berjalan berdampingan dalam kehidupan sehari-hari.
Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan tradisi tumpeng dan nasi kuning. Jika kamu tertarik menelusuri jejak sejarah sekaligus menikmati wisata budaya, ada beberapa destinasi yang patut masuk daftar perjalanan.
1. Candi Borobudur
Sebagai salah satu situs warisan dunia, tempat ini menyimpan jejak kejayaan masa lalu yang sejalan dengan perkembangan budaya Hindu-Buddha di Nusantara.

Borobudur

Tiket Candi Borobudur

9.3/10
Borobudur
Rp 50.000
Rp 48.000
2. Tumurun Museum
Salah satu museum di Solo yang menghadirkan koleksi seni modern dan kontemporer. Kunjungan ke museum ini bisa memperkaya perspektif tentang bagaimana budaya terus berkembang dari masa ke masa.

Timuran

Tiket Museum Tumurun

9.5/10
Timuran
Rp 35.000
3. Lawang Sewu
Tempat ini terkenal dengan arsitektur bersejarahnya. Bangunan ini menjadi saksi perjalanan panjang Indonesia, sekaligus destinasi menarik untuk memahami konteks sejarah daerah.

Semarang Tengah

Tiket Lawang Sewu

8.7/10
Semarang Tengah
Rp 20.000
4. De Tjolomadoe Museum
Museum ini menawarkan pengalaman wisata sejarah industri dengan sentuhan modern. Tempat ini cocok untuk kamu yang ingin melihat transformasi budaya dan ekonomi dalam satu lokasi.

Colomadu

Museum De Tjolomadoe

9.1/10
Colomadu
Rp 50.000
Mengunjungi destinasi-destinasi tersebut tidak hanya memperluas wawasan sejarah, tetapi juga memberi konteks lebih dalam tentang bagaimana tradisi seperti nasi kuning tumbuh di tengah dinamika budaya Jawa.
Sejarah nasi kuning adalah cerita tentang perjalanan panjang budaya, kepercayaan, dan kebersamaan masyarakat Indonesia. Dari ritual sakral di masa kerajaan hingga perayaan sederhana di rumah, nasi kuning tetap menjadi simbol rasa syukur dan harapan.
Ketika kamu menikmati sepiring nasi kuning, sebenarnya kamu sedang mencicipi lapisan sejarah yang kaya makna. Tradisi ini mengajarkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga identitas dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.
Jika ingin merasakan pengalaman yang lebih lengkap, menggabungkan wisata budaya dengan eksplorasi kuliner adalah pilihan yang tepat. Bersama Traveloka, perencanaan perjalanan menjadi lebih praktis sehingga kamu bisa fokus menikmati setiap momen, termasuk menyelami sejarah nasi kuning langsung dari daerah yang melahirkannya.











