
Rujak cingur merupakan salah satu kuliner tradisional Indonesia yang memiliki identitas sangat kuat dengan Kota Surabaya. Hidangan ini dikenal dengan cita rasanya yang unik karena memadukan sayuran segar, buah, lontong, serta irisan cingur atau moncong sapi, lalu disiram bumbu petis yang khas. Kombinasi bahan yang tidak biasa inilah yang membuat rujak cingur mudah dikenali dan sulit dilupakan.
Namun, rujak cingur bukan hanya soal rasa. Di balik sepiring rujak cingur, tersimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya. Melalui artikel ini, kamu akan diajak memahami sejarah rujak cingur, mulai dari asal usulnya, perkembangan sebagai makanan rakyat, hingga posisinya sebagai ikon kuliner dan daya tarik wisata budaya.
Sun, 1 Mar 2026

Lion Air
Jakarta (CGK) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 819.600
Sat, 21 Mar 2026

Super Air Jet
Bali / Denpasar (DPS) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 522.454
Fri, 27 Mar 2026

Pelita Air
Balikpapan (BPN) ke Surabaya (SUB)
Mulai dari Rp 1.070.200
Supaya memahami sejarah rujak cingur, kamu perlu mengenal terlebih dahulu konsep rujak dalam budaya Jawa. Sejak lama, rujak dikenal sebagai makanan yang terbuat dari buah atau sayuran yang dipadukan dengan bumbu khas berbasis gula dan rempah. Rujak tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan sehari hari, tetapi juga sering hadir dalam tradisi dan upacara adat.
Dalam masyarakat Jawa, rujak sering dikaitkan dengan simbol keseimbangan rasa, karena memadukan manis, asin, pedas, dan asam dalam satu sajian. Filosofi ini mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa yang menghargai harmoni.
Perbedaan utama antara rujak cingur dan jenis rujak lainnya terletak pada penggunaan cingur, yaitu bagian moncong sapi yang direbus hingga empuk. Penggunaan cingur diyakini berkembang di wilayah Surabaya dan sekitarnya, yang sejak dulu dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan.
Sebagai kota dengan aktivitas ekonomi yang tinggi, Surabaya memiliki tradisi memanfaatkan seluruh bagian hewan ternak sebagai bahan pangan. Cingur yang sebelumnya dianggap bagian kurang bernilai kemudian diolah dan dipadukan ke dalam rujak, menghasilkan cita rasa baru yang khas.
Sejarah rujak cingur tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat kelas menengah dan pekerja di Surabaya. Hidangan ini berkembang sebagai makanan yang mengenyangkan, terjangkau, dan mudah ditemukan. Penjual rujak cingur biasanya menjajakan dagangannya secara keliling atau membuka lapak sederhana di pasar dan sudut kota.
Rujak cingur menjadi makanan yang dekat dengan kehidupan sehari hari warga Surabaya. Sajian ini kerap disantap saat siang hari sebagai pengganjal lapar atau makan utama, terutama oleh pekerja pelabuhan, buruh, dan pedagang.
Salah satu elemen terpenting dalam sejarah rujak cingur adalah penggunaan petis udang sebagai bumbu utama. Petis merupakan hasil olahan rebusan udang atau ikan yang dimasak hingga kental dan berwarna gelap. Wilayah pesisir Jawa Timur, termasuk Surabaya, dikenal sebagai penghasil petis berkualitas sejak lama.
Penggunaan petis dalam rujak cingur mencerminkan karakter pesisir Surabaya yang kuat. Rasa gurih dan aroma khas petis menjadi identitas yang membedakan rujak cingur dari rujak daerah lain di Indonesia.
Tak hanya sebagai kuliner yang ikonik di Surabaya, rujak cingur juga punya makna budaya dan menjadi identitas kota ini. Berikut ini makna budaya dari rujak cingur yang jarang diketahui.
Rujak cingur sering dianggap sebagai simbol keberagaman budaya Surabaya. Perpaduan bahan darat seperti sayuran dan cingur dengan produk laut seperti petis mencerminkan posisi Surabaya sebagai kota yang mempertemukan berbagai latar belakang sosial dan budaya.
Hidangan ini juga menggambarkan keterbukaan masyarakat Surabaya dalam menerima dan mengolah pengaruh luar, lalu mengadaptasinya menjadi sesuatu yang khas dan berkarakter lokal.
Seiring waktu, rujak cingur tidak lagi sekadar makanan rakyat. Hidangan ini berkembang menjadi bagian penting dari identitas kota. Banyak orang mengenal Surabaya sebagai kota asal rujak cingur, sejajar dengan ikon ikon lain seperti Semanggi Surabaya dan lontong balap. Keberadaan rujak cingur dalam berbagai acara budaya dan festival kuliner semakin mengukuhkan posisinya sebagai warisan kuliner Jawa Timur.
Di era modern, rujak cingur mengalami transformasi dalam cara penyajian dan pemasarannya. Jika dahulu identik dengan penjual keliling dan warung sederhana, kini rujak cingur juga bisa ditemukan di restoran, pusat kuliner, hingga hotel.
Meskipun demikian, banyak penikmat rujak cingur tetap percaya bahwa cita rasa terbaik justru berasal dari penjual tradisional yang masih mempertahankan cara pengolahan manual, termasuk mengulek bumbu di cobek besar.
Beberapa pelaku kuliner bahkan melakukan inovasi dengan menyesuaikan tingkat kepedasan, kebersihan penyajian, dan tampilan visual rujak cingur. Namun, unsur utama seperti cingur, petis, dan sayuran segar tetap dipertahankan agar tidak menghilangkan identitas aslinya.
Inovasi ini membuat rujak cingur tetap relevan dan diminati oleh generasi muda serta wisatawan dari luar daerah.
Rujak cingur merupakan salah satu contoh kuliner tradisional yang berhasil bertahan di tengah gempuran makanan modern. Keberadaannya tidak hanya dijaga oleh pelaku usaha kuliner, tetapi juga oleh masyarakat yang terus mengonsumsinya sebagai bagian dari kehidupan sehari hari.
Tak hanya itu, rujak cingur kini juga jadi daya tarik wisata kuliner. Bagi wisatawan, mencicipi rujak cingur sering menjadi agenda wajib saat berkunjung ke Surabaya. Hidangan ini memberikan pengalaman kuliner yang berbeda dari makanan khas daerah lain di Indonesia.
Wisata kuliner rujak cingur biasanya dikombinasikan dengan kunjungan ke destinasi populer Surabaya, seperti kawasan Tugu Pahlawan, Kota Tua Surabaya, dan pusat perbelanjaan modern. Jika ingin makan rujak cingur langsung di Surabaya, kamu bisa memilih penginapan yang terletak di pusat kota. Booking hotel di Traveloka dan dapatkan penawaran terbaiknya!
Sejarah rujak cingur menunjukkan bahwa sebuah hidangan sederhana dapat memiliki makna budaya yang mendalam. Dari makanan rakyat Surabaya hingga ikon kuliner Jawa Timur, rujak cingur terus hidup dan berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Bagi kamu yang ingin menikmati rujak cingur langsung di kota asalnya, perjalanan ke Surabaya kini semakin mudah dengan Traveloka. Kamu bisa pesan tiket pesawat, tiket kereta api, shuttle bus, hingga booking hotel hanya dengan satu aplikasi. Kamu juga bisa memesan tiket atraksi wisata di Surabaya tanpa harus datang ke lokasi terlebih dulu. Yuk, rencanakan liburan seru dan praktis ke Surabaya pakai Traveloka sekarang!











