
Kota-kota besar biasanya mulai kembali sibuk seminggu setelah Idulfitri. Namun, di banyak daerah, suasana justru kembali meriah karena adanya tradisi lebaran ketupat. Momen ini sering disebut sebagai "Lebaran Kedua" yang suasananya terasa lebih santai namun tetap penuh makna.
Warga menyebutnya Bakda Kupat. Di momen ini, aroma janur kelapa yang direbus tercium dari dapur-dapur rumah warga. Banyak yang percaya bahwa perayaan kemenangan Ramadan belum lengkap tanpa kehadiran ketupat, karena hidangan ini adalah simbol kerendahan hati untuk saling memaafkan.
Jauh sebelum menjadi menu wajib di meja makan, tradisi lebaran ketupat adalah cara cerdas untuk menyatukan masyarakat. Sejarah mencatat bahwa tradisi ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15. Beliau menggunakan ketupat sebagai sarana berdakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa saat itu.
Sunan Kalijaga menetapkan perayaan ini pada hari ke-8 Syawal, yaitu setelah umat Muslim selesai menjalankan puasa sunah enam hari. Hasilnya, terciptalah sebuah perpaduan budaya yang indah antara ibadah agama dan tradisi syukuran yang masih terjaga hingga generasi milenial dan Gen Z sekarang.
Mon, 4 May 2026

NAM Air
Jakarta (CGK) ke Yogyakarta (YIA)
Mulai dari Rp 750.500
Mon, 6 Apr 2026

Super Air Jet
Balikpapan (BPN) ke Yogyakarta (YIA)
Mulai dari Rp 1.391.900
Tue, 21 Apr 2026

Super Air Jet
Bali / Denpasar (DPS) ke Yogyakarta (YIA)
Mulai dari Rp 1.280.600
Anyaman ketupat yang rumit ternyata menyimpan banyak pesan kehidupan. Berikut adalah 5 makna mendalam di baliknya:
Kata "Kupat" berasal dari bahasa Jawa Ngaku Lepat yang artinya mengakui kesalahan. Tradisi ini mengajarkan kita bahwa meminta maaf adalah tindakan yang mulia. Saat ketupat dibelah dan terlihat isinya yang putih bersih, itu melambangkan hati kita yang sudah bersih dari benci dan dendam.
Ada ajaran bernama Laku Papat (empat tindakan) dalam seikat ketupat. Pertama adalah Lebaran (pintu maaf terbuka), kedua Luberan (berbagi sedekah), ketiga Leburan (dosa yang dihapus), dan keempat Laburan (menjaga kebersihan hati). Semuanya menjadi panduan hidup agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Tradisi ini menunjukkan betapa santunnya dakwah para wali zaman dahulu. Sunan Kalijaga tidak menghapus tradisi lama, tapi mengisinya dengan nilai-nilai baru. Inilah yang membuat tradisi lebaran ketupat bisa bertahan ratusan tahun karena sudah menyatu dengan jiwa masyarakat.
Anyaman ketupat yang silang-menyilang menggambarkan perjalanan hidup manusia yang terkadang rumit dan penuh masalah. Namun, jika jalinan itu diikat dengan kuat, ia akan menjadi bentuk yang kokoh. Artinya, seberat apa pun masalah hidup, akan terasa lebih ringan jika kita tetap menjaga tali silaturahmi.
Di Jawa Timur, warga biasanya berkumpul di musala untuk berdoa bersama dan bertukar ketupat. Sedangkan di daerah pesisir seperti Lamongan, ada festival perahu hias yang cantik. Momen ini selalu menjadi incaran para fotografer karena visualnya yang sangat estetik dan penuh warna.
Ingin merasakan langsung keseruan tradisi ini? Berikut rekomendasi tempat menginap yang strategis:
Kawasan ini adalah pusat budaya Jawa di mana tradisi lebaran ketupat dirayakan dengan sangat sakral. Di sini, Anda bisa menyaksikan kirab gunungan ketupat atau "Grebeg Syawal" yang sering diadakan di sekitar area keraton atau desa-desa wisata. Suasana gotong royong warga saat memasak ketupat secara massal menjadi pemandangan yang menghangatkan hati.
Jika Anda mencari perayaan yang lebih meriah dan terbuka, datanglah ke pesisir utara Jawa Timur. Di Lamongan, terdapat tradisi "Kenduri Ketupat" yang sangat besar, di mana ribuan orang berkumpul untuk makan ketupat bersama di pinggir pantai. Selain itu, ada festival perahu hias yang mewarnai laut, menjadikannya spot foto yang sangat estetik bagi para pelancong.
Di Kudus, tepatnya di wilayah Colo, terdapat tradisi "Sewu Kupat" (Seribu Ketupat) yang diarak menuju makam Sunan Muria. Sementara di Jepara, Anda bisa melihat "Lomban", yaitu perayaan Lebaran Ketupat yang diisi dengan kegiatan melarung sesaji ke laut sebagai bentuk syukur. Kedua kota ini menawarkan pengalaman wisata religi dan budaya yang tidak akan Anda temukan di tempat lain.
Di Gorontalo, khususnya Kampung Jawa, Lebaran Ketupat dirayakan secara meriah sejak tahun 1900-an. Anda akan disambut tenda-tenda di depan rumah warga yang menyajikan ketupat gratis bagi siapa saja. Kemeriahan semakin lengkap dengan adanya balapan kuda dan karapan sapi yang menjadi magnet bagi ribuan wisatawan setiap tahunnya.
Melihat langsung tradisi lebaran ketupat akan membuat Anda lebih mencintai kekayaan budaya Indonesia. Jangan tunda rencana perjalanan Anda hanya karena bingung mengatur transportasi atau penginapan.
Segera pesan tiket pesawat, tiket hotel, dan tiket wisata di Traveloka. Perjalanan jadi lebih tenang dengan fitur Easy Reschedule jika ada perubahan jadwal. Anda juga bisa menggunakan TPayLater dan menikmati promo pengguna baru agar liburan lebih hemat.












