Transportasi
Tempat Menginap
Aktivitas dan Hiburan
Tagihan & Isi Ulang
Produk Tambahan
traveloka
Explore
0
Selalu Tahu Kabar Terbaru
Dapatkan berbagai rekomendasi travel & gaya hidup serta info promo terkini dengan berlangganan newsletter kami.
Langganan

Xperience Team

15 Oct 2021 - 3 min read

Baru Sembuh dari COVID-19? Ini Tes Yang Perlu Dilakukan

Beberapa bulan lalu, Indonesia mengalami lonjakan kasus COVID-19 secara signifikan. Bahkan, jumlah penambahan kasus aktif sempat mencatat rekor terbanyak sepanjang pandemi COVID-19 yakni 56.757 kasus dalam satu hari di tanggal 15 Juli 2021.

Kasus aktif merupakan sebutan untuk pasien yang dinyatakan positif COVID-19 dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit maupun isolasi mandiri di rumah.

Atas kerja sama berbagai pihak untuk menekan angka penularan virus COVID-19, kini keadaan berangsur pulih. Pada pertengahan Agustus, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 pun menyatakan Indonesia telah melewati puncak COVID-19.

Kasus aktif tercatat mengalami tren penurunan yang signifikan di bulan September 2021. Total kasus aktif di bulan September adalah 125.303 kasus, lebih rendah 82% dibandingkan 680.143 kasus di bulan Agustus.

Tren ini masih berlanjut hingga bulan Oktober. Total jumlah kasus aktif terhitung mengalami penurunan sebanyak 1.889 kasus dari hari sebelumnya menjadi 22.541 kasus aktif di tanggal 11 Oktober 2021. Sementara, jumlah penyintas COVID-19 yang dinyatakan sembuh pada hari itu adalah 2.444 orang.

Meski penyebaran virus COVID-19 saat ini sedang mengalami tren penurunan, namun efek setelah sembuh dari infeksi virus ini perlu diwaspadai.

Efek setelah sembuh dari COVID-19

Gejala yang disebabkan oleh infeksi ringan dan sedang dari virus COVID-19 rata-rata dapat berlangsung selama 2 minggu. Namun, gejala tersebut dapat bertahan hingga lebih dari 4 minggu meski penderita sudah terbukti negatif dari virus tersebut. Keadaan ini disebut sebagai “Long COVID-19”.

Pasien lanjut usia atau memiliki kondisi medis yang serius memiliki potensi mengalami gejala COVID-19 berkepanjangan. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan gejala serupa dialami oleh pasien yang masih muda dan sehat. Adapun gejala umum yang dapat dialami setelah sembuh dari infeksi COVID-19 meliputi:

Kelelahan
Napas pendek atau kesulitan bernapas
Batuk
Nyeri sendi
Sakit di bagian dada
Gangguan ingatan, konsentrasi, atau tidur
Nyeri otot atau pusing
Jantung berdebar-debar
Kehilangan indra perasa atau pembau
Depresi atau kecemasan
Demam
Pusing saat berdiri
Gejala yang semakin parah setelah aktivitas fisik atau mental

Gejala-gejala tersebut muncul setelah pasien dinyatakan sembuh dari COVID-19 akibat serangan virus di berbagai organ vital. Infeksi virus COVID-19 dapat merusak paru-paru, jantung, sistem saraf, ginjal, hati, dan organ lainnya. Selain itu, gejala berkepanjangan atau perawatan intensif saat masa penyembuhan juga dapat mengganggu kesehatan mental.

Maka dari itu, pasien perlu melakukan tes kesehatan untuk memonitor dan mendeteksi gangguan kesehatan pasca sembuh dari infeksi COVID-19.

Tes setelah sembuh dari COVID-19

Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan hingga saat ini belum ada tes laboratorium yang dapat membedakan dampak setelah sembuh dari COVID-19 dengan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh penyakit lain.

Meskipun begitu, tes kesehatan perlu dilakukan sebagai tindakan pencegahan. Tes kesehatan yang akan diambil bisa disesuaikan dengan kondisi pasien dengan memperhatikan berbagai faktor seperti riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik, dan penemuan klinis lainnya. Berikut adalah beberapa jenis tes yang dapat dilakukan setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19:

Medical Check-Up

Medical check-up adalah rangkaian pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kondisi kesehatan dan mendeteksi gejala penyakit tertentu. Umumnya, Medical Check-Up terdiri dari pemeriksaan darah dan urin lengkap. Pasien juga akan diwajibkan untuk berpuasa dalam jangka waktu tertentu sebelum memulai prosedur.

Rontgen Thorax

Rontgen thorax atau rontgen dada adalah pemeriksaan X-ray untuk mendeteksi kelainan pada dada, organ internal, dan struktur-struktur di sekitarnya. Prosedur ini biasa dilakukan untuk memeriksa kondisi paru-paru setelah pulih dari infeksi virus COVID-19.

Tes D-Dimer

Pada beberapa kasus, infeksi virus COVID-19 dapat menyebabkan pembekuan atau penggumpalan darah akibat reaksi imun setelah antibodi berupaya melawan virus. Tes D-Dimer berguna untuk mendeteksi ada atau tidak adanya gumpalan darah. Tes ini dilakukan dengan cara memeriksa keberadaan D-dimer, fragmen protein yang diproduksi saat gumpalan darah larut di dalam tubuh. Penggumpalan darah dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen bahkan stroke.

Pemeriksaan fungsi organ

Jika diperlukan, pasien dapat melakukan pemeriksaan fungsi organ untuk mengetahui kondisi organ setelah terinfeksi virus COVID-19. Pasien dapat melakukan Pemeriksaan Fungsi Hati dengan mengukur kadar protein, enzim hati, dan bilirubin (senyawa berwarna kuning di dalam darah). Selain itu, pasien juga dapat melakukan Pemeriksaan Fungsi Ginjal dengan mengukur kadar ureum, kreatinin, dan asam urat.

Tes Serologi Kuantitatif COVID-19

Tes serologi kuantitatif dilakukan untuk mendeteksi atau mengukur antibodi secara kuantitatif sebagai respons terhadap virus COVID-19. Tes ini menggunakan sampel darah yang diambil menggunakan jarum suntik. Tes Serologi Kuantitatif disarankan bagi penyintas virus atau penerima vaksin COVID-19 untuk mengukur jumlah antibodi yang terbentuk setelah terinfeksi atau vaksinasi.

Referensi:

CDC. 2021. “Assessment and Testing”. Centers for Disease Control and Prevention. 14 Juni 2021. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-care/post-covid-assessment-testing.html
Javier, Faisal. 2021. “Jumlah Kasus COVID-19 September 2021 Menurun 82 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya”. Tempo. 4 Oktober 2021. https://data.tempo.co/data/1225/jumlah-kasus-covid-19-september-2021-menurun-82-persen-dibanding-bulan-sebelumnya
John Hopkins. 2021. “COVID ‘Long Haulers’: Long-Term Effects of COVID-19”. John Hopkins Medicine. 1 April 2021. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/covid-long-haulers-long-term-effects-of-covid19
Lidyana, Vadhia. 2021. “[UPDATE] Kasus Aktif COVID-19 Turun 1.889 Hari Ini”. IDN Times. 11 Oktober 2021. https://www.idntimes.com/news/indonesia/vadhia-lidyana-1/update-kasus-aktif-covid-19-turun-1889-hari-ini/2
Mayo Clinic. 2021. “COVID-19 (coronavirus): Long-term effects”. Mayo Clinic. 8 Oktober 2021. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronavirus/in-depth/coronavirus-long-term-effects/art-20490351
Santosa, Lia Wanadriani. 2021. “Memahami pembekuan darah akibat COVID-19”. Antara. 12 Februari 2021. https://www.antaranews.com/berita/1997040/memahami-pembekuan-darah-akibat-covid-19?page=all
Situmorang, Hendro D. 2021. “Indonesia Sudah Lewati Puncak COVID-19.” BeritaSatu.com. 12 Agustus 2021. https://www.beritasatu.com/kesehatan/813121/indonesia-sudah-lewati-puncak-covid19