Jamu penangkal corona banyak dibicarakan sejak pandemi COVID-19. Jamu adalah minuman berupa ramuan herbal yang dipercaya oleh masyarakat Indonesia berkhasiat menjaga kesehatan sekaligus menyembuhkan penyakit.
Tradisi minum jamu telah ada sejak ratusan tahun lalu. Jenisnya pun bermacam-macam. Lalu, apakah benar virus corona dapat ditangkal dengan ramuan herbal ini? Simak faktanya di sini.
Ada berbagai jenis jamu yang umum dikonsumsi, di antaranya jamu beras kencur, jamu kunir asem, jamu uyup-uyup, jamu sinom, dan sebagainya. Tiap daerah biasanya memiliki jenis jamu yang berbeda tergantung pada bahan-bahan yang tersedia.
Salah satu fakta yang tak bisa dibantah adalah jamu tradisional terbuat dari bahan alami. Jamu beras kencur, misalnya, dibuat dari beras, kencur, jahe, asam jawa, kunyit, dan gula merah. Bahan-bahan ini dikombinasikan untuk mendapatkan manfaat terbaiknya.
Istilah “jamu” berasal dari kata djampi yang berarti penyembuhan dan oesodo yang berarti kesehatan. Jadi, jamu berarti minuman yang bermanfaat untuk penyembuhan kesehatan.
Pada umumnya, jamu dibuat oleh orang-orang yang dipercaya memiliki ilmu pengobatan secara tradisional. Namun, pengolahan jamu sebenarnya tidak terlalu rumit. Diajarkan secara turun-temurun, ramuan ini masih bertahan hingga kini.
Beredarnya informasi mengenai jamu penangkal corona bisa jadi dipicu oleh saran dari Kementerian Kesehatan agar masyarakat memanfaatkan jamu di masa pandemi. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah untuk memelihara kesehatan serta mencegah penyakit yang rentan terjadi.
Obat tradisional memang dipercaya memiliki khasiat mendukung daya tahan tubuh serta digunakan untuk pengobatan beberapa penyakit seperti darah tinggi dan diabetes. Namun, obat tradisional tidak boleh digunakan dalam situasi gawat darurat atau membahayakan jiwa.
Pada 2020, sebuah akun media sosial memposting informasi mengenai ramuan penangkal COVID-19. Dilansir dari covid19.go.id, informasi yang dilengkapi surat edaran tersebut disebut berasal dari Kementerian Kesehatan. Sejumlah orang menyukai postingan, bahkan membagikannya kembali.
Faktanya, di dalam surat edaran asli sama sekali tidak terdapat resep ramuan tradisional khusus untuk mencegah atau menyembuhkan virus corona. Isi dan judul dokumen yang beredar di media sosial itu telah diubah oleh oknum untuk mendapat perhatian masyarakat.
Pada era digital ini, tiap orang bisa membuat konten sendiri dan mengunggahnya di internet. Semua orang dapat membacanya tanpa terhalang waktu dan jarak. Karena tanpa batas, informasi dari konten juga dapat beredar dengan sangat cepat.
Fenomena repost di media sosial atau grup chat tanpa konfirmasi membuat kebiasaan ini berpotensi bahaya. Jika informasi di dalamnya tidak benar, masyarakat yang percaya dan melakukannya bisa jadi terdampak secara kesehatan.
Daripada mengalami efek samping yang tidak diinginkan, sebaiknya hindari membaca konten yang belum dipastikan kebenarannya. Selain itu, selalu merujuk pada website tepercaya saat ingin mendapatkan informasi kesehatan. Jika kamu memiliki keluhan kesehatan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Kini kamu bisa menggunakan fitur Chat dengan Dokter dari Traveloka, layanan telekonsultasi yang memungkinkan kamu untuk berbicara dengandokter secara online tentang gejala dan/atau kesehatan secara umum. Traveloka menerapkan proses penyaringan yang ketat untuk memastikan dokter di platform Traveloka merupakan praktisi medis terdaftar. Fitur ini hanya berlaku di aplikasi Traveloka (Android/iOS).
Begitu pula saat mencari lokasi tes swab, dapatkan informasi dari sumber yang kredibel. Dengan melakukan swab di tempat yang seharusnya, kamu akan dapat merasa lebih tenang. Bukan hanya karena hasilnya akurat, tetapi juga karena dapat mencegah orang lain tertular. Jadi, jangan mengandalkan jamu penangkal corona ya!
Covid19.go.id. 2020. [SALAH] Ramuan Penangkal Covid-19 oleh Kemenkes. https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-ramuan-penangkal-covid-19-oleh-kemenkes
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. “Kemenkes Sarankan Masyarakat Manfaatkan Obat Tradisional,” May 21, 2020. https://www.kemkes.go.id/article/view/20052100005/kemenkes-sarankan-masyarakat-manfaatkan-obat-tradisional.html
Tags:
covid 19