
Berikan Cara Baru dalam Memberikan Kado Imlek
Sejak dijadikan hari libur nasional pada tahun 2002 tahun baru imlek dirayakan secara semarak di berbagai kota di Indonesia. Di hari ini, kawasan-kawasan Pecinan kerap menggelar pawai yang meriah disertai dengan pertunjukkan tarian barongsai yang menarik. Jalan-jalan, pusat perbelanjaan serta toko-toko juga dihiasi dengan warna merah, serta lampion serta bunga-bunga bermekaran yang ra untuk menyemarakkan suasana.
Meskipun tahun baru Imlek sudah familiar di telinga, tapi masih banyak yang belum tahu tentang sejarah Imlek itu sendiri. Imlek adalah tahun baru Cina yang ditentukan oleh Kaisar Wu Yong Ming di tahun 104 SM dari Dinasti Han yang menetapkan bulan 1 menurut kalender Bulan sebagai patokan awal tahun. Karena perbedaan perhitungan antara penanggalan menurut Bulan dengan kalender Gregorian yang digunakan secara umum, Imlek jatuh di tanggal yang berbeda setiap tahun.
Perayaan Imlek yang lekat dengan tradisi Tionghoa memunculkan berbagai cerita, mitos hingga kebiasaan yang menjadi kepercayaan bagi masyarakat Tionghoa. Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan-kebiasaan ini menjadi tradisi Imlek yang tidak terpisahkan menjelang datangnya tahun baru Cina. Jika Anda belum mengetahui tradisi-tradisi maupun mitos Imlek, yuk simak beberapa hal berikut:
Masyarakat Tionghoa percaya bahwa hidup merupakan siklus perputaran antara energi buruk dan energi baik yang dikenal sebagai Yin dan Yang. Menjelang Imlek, salah satu tradisi bagi yang merayakan untuk melakukan bersih-bersih rumah sehari sebelum perayaan. Tradisi bersih-bersih rumah dilakukan untuk membuang keburukan yang menghalangi datangnya keberuntungan. Pantang untuk membersihkan rumah tepat di hari raya Imlek karena dipercaya bisa membuang keberuntungan di tahun yang akan datang.
Selain melakukan bersih-bersih rumah, salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa adalah dengan mendekorasi rumah dengan pernak-pernik Imlek. Selain memeriahkan suasana, dekorasi Imlek juga biasanya memiliki makna-makna baik yang diharapkan bisa menyertai hidup sepanjang tahun. Dekorasi tersebut antara lain ukiran kertas yang digunting dengan motif-motif yang melambangkan kebaikan, seperti buah delima yang melambangkan kesuburan, bunga buah persik yang melambangkan umur panjang, pohon pinus sebagai lambing awet muda hingga bunga peony yang melambangkan kehormatan dan kekayaan. Ada pula ornament berupa lampion merah yang bisa dianggap untuk mencegah ketidak beruntungan, bunga hias yang bermekaran perlambang tahun baru yang lebih sejahtera, Chun Lian – kaligrafi huruf Mandarin yang berbentuk dua kertas merah panjang yang berisi keinginan maupun kata-kata bermakna baik, atau pohon jeruk mandarin yang melambangkan kekayaan.
Warna merah yang tak pernah lepas dari tradisi Imlek bukanlah tanpa arti. Terdapat mitos bahwa warna merah dapat mengusir Nian, makhluk buas yang suka mengganggu anak-anak. Selain itu, warna merah pun dianggap melambangkan kesejahteraan, kekuatan serta membawa keberuntungan.
Hidangan yang disajikan saat Imlek pun tak lepas dari tradisi yang sudah turun temurun pada masyarakat keturunan Tionghoa. Salah satu tradisi yang berkaitan dengan hidangan ini adalah dengan menyiapkan 12 hidangan yang sesuai dengan jumlah shio selama satu tahun. Masing-masing hidangan memiliki makna tersendiri. Mie goreng, misalnya, melambangkan umur panjang, kebahagiaan serta rezeki yang melimpah. Selain itu ada pula hidangan ayam atau bebek yang memiliki arti kesetiaan dan ketaatan, kue mangkok yang berarti mekarnya rejeki sepanjang tahun atau kue keranjang yang melambangkan kehidupan yang manis.
Pada hari Imlek, salah satu makanan yang pantang untuk dimakan adalah bubur. Bubur dianggap sebagai makanan yang melambangkan kemiskinan karena penyajiannya yang sangat sederhana.
Salah satu hidangan yang kerap disajikan saat Imlek adalah ikan Bandeng yang diyakini dapat memberikan rezeki yang terus menerus. Namun, terdapat mitos lain pada tradisi perayaan Imlek adalah pantang untuk membalikkan ikan saat dimakan, sehingga ikan dimakan di satu sisi saja. Selain itu, sisanya dapat dimakan pada keesokan harinya. Membalikkan ikan dianggap sebagai usaha yang terbalik dan mengundang kebangkrutan.
Menyalakan petasan dan kembang api saat Imlek melambangkan harapan yang dapat mengusir nasib buruk yang terjadi di tahun sebelumnya. Menyalakan petasan dan kembang api yang identik dengan perayaan besar diharapkan tahun baru yang lebih bahagia dan sejahtera.
Liong dan Barongsai merupakan bagian dari tahun baru Cina yang tak bisa terpisahkan. Pawai serta tariannya kerap meramaikan suasana perayaan imlek. Selain menghibur, bagi masyarakat Tionghoa, Liong dan Barongsai merupakan sesuatu yang dipercaya dapat mengusir keberadaan roh-roh jahat. Liong dan Barongsai sendiri merupakan lambing kesejahteraan serta kesenangan yang tariannya dapat membawa keberuntungan.
Masyarakat Tionghoa dikenal akan tali persaudaraannya yang erat. Oleh karena itu, momen Imlek dijadikan waktu yang spesial untuk berkumpul bersama sanak saudara. Seperti hari raya Natal maupun Idul Fitri, masyarakat Tionghoa melakukan perjalanan untuk mudik dan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman untuk merayakan Imlek bersama-sama.
Yu Sheng merupakan hidangan khas Imlek yang terdiri dari makanan-makanan dingin seperti irisan salmon mentah yang ditaburi air jeruk dan bubuk jahe, wortel, salad, buah plum dengan saus wijen. Yu Sheng wajib disantap dengan iringan doa atas rasa syukur dan rezeki yang telah diberikan. Doa-doa yang dipanjatkan saat menyantap Yu Sheng bertujuan agar seluruh anggota keluarga mendapatkan rejeki yang lebih baik di tahun yang akan datang. Saat menyantapnya, seluruh anggota keluarga duduk bersama sambil mengaduk Yu Sheng tersebut, lalu mengangkat sumpit setinggi-tingginya sambil mengucapkan Lao Qi atau Lao Hei.
Yu Sheng yang diaduk bersama-sama melambangkan kesuksesan yang akan diperoleh secara bersama-sama, serta sumpit yang diangkat tinggi-tinggi melambangkan semakin tinggi sumpit diangkat,semakin tinggi pula keberuntungan yang akan menyertai.
Tradisi lain yang tak bisa terpisahkan dari hari raya Imlek adalah membagi-bagikan Angpao kepada anak maupun orang tua. Biasanya, yang membagikan angpao adalah sanak saudara yang sudah berkeluarga. Bagi-bagi angpao dianggap dapat memperlancar rejeki di masa yang akan datang.
Untuk memberikan angpao, sebaiknya tidak memberikan nilai yang mengandung unsur angka 4. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, angka 4 dilafalkan sebagai ‘Shi’ yang mirip dengan pelafalan ‘Shi’ yang berarti kematian.
Jika dulu angpao identik dengan sejumlah uang yang diberikan melalui amplop berwarna merah, kini angpao Imlek dapat diberikan dengan cara lain. Salah satunya adalah memberikan Gift Voucher dari Traveloka. Di Traveloka, anda bisa mengirimkan kartu ucapan Imlek sekaligus angpao melalui fitur Gift Voucher. Selanjutnya, penerima angpao dapat menggunakan voucher tersebut untuk mendapatkan potongan harga maupun menikmati produk-produk Traveloka maupun merchant yang bekerja sama.
Cara yang Unik dalam Memberikan Kado Imlek
Cara mendapatkan Gift Voucher ini pun cukup mudah. Berikut caranya:
Gift Voucher dari Traveloka memiliki waktu berlaku selama satu tahun untuk satu kali pemakaian yang dapat digunakan untuk seluruh produk Traveloka, mulai dari tiket pesawat, pemesanan hotel, Traveloka Experience (kecuali Bioskop), Traveloka Eats dan produk-produk Traveloka lainnya. Jika terdapat lebih dari satu kode voucher, maka sang penerima bisa menggunakannya secara terpisah maupun bersamaan. Anda juga bisa mengirimkan lebih dari satu voucher. Gift Voucher juga bisa digabungkan dengan promo lainnya.

Angpao Imlek | Gift Voucher
Alternatif sebagai kad...
Lihat Harga
Oleh karena itu, tunggu apa lagi? Segera lengkapi persiapan imlek anda dengan angpao menarik dari Traveloka!










