
4 jam, 55 menit
Maskapai | Jadwal Berangkat | Jadwal Tiba | Bandara Asal | Bandara Tujuan | |
|---|---|---|---|---|---|
China Southern Airlines | 09.10 | 15.05 | Jakarta (CGK) | Shenzhen (SZX) | Pesan Sekarang |
Ya, China Southern dan Spring Airlines menerbangkan rute ini secara langsung tanpa transit, dengan total sekitar 16 penerbangan setiap minggu dari kedua maskapai.
Tarif pulang-pergi mulai dari Rp 1.985.078, dengan Spring Airlines menawarkan opsi termurah sebagai maskapai bertarif rendah dan China Southern mematok tarif lebih tinggi untuk layanan penuh.
China Southern (maskapai full-service) dan Spring Airlines (maskapai bertarif rendah terbesar China, baru masuk rute ini Juni 2026) sama-sama menerbangkan rute ini secara langsung.
Penerbangan langsung menempuh waktu sekitar 4 jam 55 menit untuk jarak sekitar 3.500 kilometer tanpa transit.
Sejak 17 Juni 2026, sebagai bagian dari ekspansi Spring Airlines ke Jakarta bersamaan dengan pembukaan rute Guangzhou-Jakarta.
Tidak untuk wisata reguler. Pemegang paspor Indonesia wajib mengajukan visa terlebih dahulu, kecuali memenuhi syarat kebijakan transit bebas visa 240 jam bagi yang melanjutkan perjalanan ke negara ketiga.
Shenzhen menjadi markas Huawei, Tencent, dan DJI serta dijuluki “Silicon Valley-nya China” karena memimpin dunia dalam teknologi 5G, kecerdasan buatan, dan drone, hasil transformasi dari desa nelayan kecil sejak ditetapkan Zona Ekonomi Khusus pertama China pada 1980.
Taman tema dengan replika landmark dunia dalam skala lebih kecil seperti Menara Eiffel dan Piramida Mesir, atraksi wisata paling populer di Shenzhen.
Ya pada China Southern, yang menawarkan ekonomi, premium economy, dan bisnis. Spring Airlines mengoperasikan model ultra-hemat tanpa kelas premium, mirip maskapai LCC lain.
Yuan/Renminbi (CNY), dengan Alipay dan WeChat Pay mendominasi transaksi harian — menyiapkan salah satu aplikasi ini sebelum berangkat lebih praktis dibanding uang tunai.
Sekitar 32 kilometer barat laut pusat kota, terhubung lewat jalur metro langsung dalam waktu sekitar 45 menit.
Jakarta ke Shenzhen dilayani langsung dua maskapai dengan model bisnis yang sangat berbeda: China Southern, maskapai full-service China, dan Spring Airlines, maskapai bertarif rendah terbesar China yang baru membuka rute ini pada 17 Juni 2026. Kombinasi keduanya menghasilkan total sekitar 16 penerbangan setiap minggu, ditempuh sekitar 5 jam 40 menit tanpa transit. Berbeda dari Chongqing yang dikenal sebagai kota pegunungan pedalaman, Shenzhen adalah kota pesisir yang empat dekade lalu masih berupa desa nelayan kecil sebelum ditetapkan sebagai Zona Ekonomi Khusus China pertama pada 1980 — kini dijuluki "Silicon Valley-nya China" karena menjadi markas Huawei, Tencent, dan DJI.
Karena dua maskapai dengan model bisnis berbeda melayani rute ini, rentang harganya juga lebih lebar dibanding rute China lain yang hanya dilayani satu maskapai: Spring Airlines, sebagai maskapai bertarif rendah, umumnya menawarkan opsi termurah untuk kelas ekonomi dasar, sementara China Southern mematok tarif lebih tinggi namun dengan fasilitas penuh layanan tradisional. Tarif pulang-pergi keseluruhan mulai dari Rp 1.985.078. Musim panas Juli-Agustus dan Tahun Baru Imlek tetap menjadi dua periode permintaan tertinggi ke seluruh China. Karena Spring Airlines hanya terbang dua kali seminggu, kursi promo pada jadwal tersebut cenderung lebih cepat terisi dibanding jadwal China Southern yang lebih sering.
Selain dua periode puncak nasional China, rute ini punya pola tambahan yang unik: sebagai kota teknologi, Shenzhen juga ramai dikunjungi pelaku bisnis sepanjang tahun untuk keperluan sourcing produk elektronik dan pameran dagang, sehingga permintaan pada rute ini tidak sepenuhnya bergantung pada musim liburan seperti rute-rute wisata murni. Di luar periode Imlek dan liburan musim panas, membandingkan tarif Spring Airlines dan China Southern di Traveloka membantu menemukan kombinasi harga dan fasilitas yang paling sesuai kebutuhan perjalanan, baik untuk wisata maupun bisnis.
Spring Airlines menjadwalkan penerbangannya dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu, berangkat dari Shenzhen pukul 14.10 dan tiba di Jakarta pukul 18.20 waktu setempat untuk penerbangan pulang, menggunakan armada Airbus A320. China Southern melengkapi jadwal dengan frekuensi lebih sering, menjadikan total kombinasi keduanya sekitar 16 penerbangan setiap minggu — jauh lebih padat dibanding kebanyakan rute China sekunder lain dari Jakarta yang hanya dilayani satu maskapai.
China Southern, yang sejarahnya bisa ditelusuri hingga Kantor Penerbangan Sipil Guangzhou 1950 dan mulai terbang dengan mereknya sendiri sejak 1991 sebelum tercatat di bursa saham New York, Hong Kong, dan Shanghai pada 1997, telah lama melayani rute ini dengan layanan tradisional penuh termasuk bagasi terdaftar dan makanan dalam tarif dasarnya. Spring Airlines, maskapai bertarif rendah terbesar China, baru masuk ke rute ini pada Juni 2026 sebagai bagian dari ekspansi jaringannya ke Jakarta bersamaan dengan pembukaan rute Guangzhou-Jakarta — kehadiran maskapai LCC ini menjadi alasan utama mengapa tarif termurah rute Shenzhen kini jauh lebih kompetitif dibanding sebelum Juni 2026.
Dua maskapai, dua model bisnis, tapi satu jarak tempuh yang sama: baik China Southern maupun Spring Airlines menerbangkan rute ini tanpa transit sejauh sekitar 3.500 kilometer dalam 4 jam 55 menit. Karena kombinasi kedua maskapai menghasilkan jadwal yang lebih padat dibanding rute China bermaskapai tunggal, penumpang punya lebih banyak opsi memilih hari keberangkatan sesuai anggaran dan preferensi layanan.
Karena dua maskapai berbeda model bisnis melayani rute ini, memeriksa maskapai mana yang dipilih sebelum berangkat ke bandara penting dilakukan — meski keduanya sama-sama menggunakan Terminal 3 internasional Soekarno-Hatta, konter check-in Spring Airlines yang jadwalnya lebih jarang cenderung lebih mudah ditemukan dibanding konter China Southern yang lebih sering beroperasi. Terminal 3 tetap menjadi satu-satunya titik keberangkatan internasional jarak jauh dari Jakarta, sehingga waktu tambahan untuk proses check-in dan imigrasi tetap perlu diperhitungkan.
Penerbangan ini mendarat di bandara utama Shenzhen.
Shenzhen Bao'an International Airport berjarak sekitar 32 kilometer barat laut pusat kota, terhubung lewat jalur metro langsung ke pusat Shenzhen dalam waktu sekitar 45 menit. Bandara ini juga menjadi salah satu hub domestik tersibuk China, sehingga penumpang yang berencana melanjutkan perjalanan ke kota China lain punya banyak pilihan koneksi lanjutan dari sini.
Rute ini punya spektrum kelas kabin paling lebar dari seluruh rute China yang dilayani dari Jakarta: China Southern menawarkan ekonomi, premium economy, dan bisnis dengan layanan penuh, sementara Spring Airlines mengoperasikan model ultra-hemat ala LCC tanpa makanan atau bagasi gratis dalam tarif dasarnya, mirip Scoot atau AirAsia. Kombinasi ini memberi penumpang pilihan yang jarang ditemukan pada satu rute yang sama: benar-benar hemat di satu sisi, atau layanan penuh tradisional di sisi lain, tanpa harus mengorbankan pilihan jadwal.
Shenzhen ditetapkan sebagai Zona Ekonomi Khusus pertama China pada 1980 atas gagasan Deng Xiaoping, arsitek Reformasi dan Kebijakan Pintu Terbuka China, yang secara sengaja memilih desa nelayan kecil ini karena letaknya yang bersebelahan langsung dengan Hong Kong — mengubahnya menjadi salah satu metropolis paling modern China dalam kurang dari 40 tahun. Antara 1981 dan 1984, ekonomi Shenzhen tumbuh sekitar 75 persen setiap tahun, kecepatan pertumbuhan yang melahirkan istilah "Kecepatan Shenzhen" sebagai simbol keberhasilan eksperimen ekonomi pasar pertama China ini — sebuah kecepatan transformasi urban yang jarang tertandingi di dunia. Kota ini kini menjadi markas Huawei, Tencent, dan DJI, serta dijuluki "Silicon Valley-nya China" karena memimpin dunia dalam teknologi 5G, kecerdasan buatan, drone, dan kendaraan otonom. Window of the World, taman tema dengan replika landmark dunia seperti Menara Eiffel dan Piramida Mesir dalam skala lebih kecil, tetap menjadi atraksi wisata paling populer bagi pengunjung yang datang di luar keperluan bisnis. OCT Loft, bekas kompleks pabrik yang diubah menjadi pusat seni kontemporer dengan galeri dan studio desain, menawarkan sisi kreatif Shenzhen yang berbeda dari citra kota teknologinya. Huaqiangbei, pasar elektronik terbesar di dunia yang membentang beberapa blok di distrik Futian, menjadi tujuan wajib bagi pelaku bisnis maupun penggemar gadget yang ingin melihat langsung dari mana rantai pasok elektronik dunia berasal — mulai dari komponen kecil hingga produk jadi dijual dalam jumlah grosir maupun eceran di sini. Ping An Finance Centre, menjulang 599 meter di Futian dan menjadi salah satu gedung tertinggi dunia, berdiri tak jauh dari Futian Checkpoint, salah satu titik penyeberangan darat tersibuk ke Hong Kong yang terhubung langsung dengan jalur MTR Lok Ma Chau — mengingatkan bahwa Shenzhen dan Hong Kong, meski secara politik dan sistem berbeda, secara fisik hanya dipisahkan oleh sungai kecil dan bisa ditempuh jalan kaki lintas perbatasan dalam hitungan menit. Skala pertumbuhan penduduk Shenzhen juga mencolok: populasi tetapnya melewati 18 juta jiwa pada akhir 2024, terus bertambah meski China secara nasional menghadapi perlambatan demografis, dan kota ini merupakan bagian dari kawasan metropolitan Delta Sungai Mutiara yang mencakup Guangzhou, Hong Kong, dan Macau — kawasan urban terbesar dunia menurut Bank Dunia dengan populasi gabungan sekitar 78 juta jiwa.
Futian, distrik bisnis pusat Shenzhen, menjadi basis paling praktis bagi pelaku bisnis dengan akses mudah ke pusat perbelanjaan dan gedung-gedung perkantoran teknologi. Nanshan, dekat kampus-kampus universitas dan taman teknologi, cocok bagi yang tertarik sisi inovasi kota ini. OCT Loft dan sekitarnya menawarkan suasana lebih artistik bagi yang mencari penginapan dengan karakter berbeda dari distrik bisnis konvensional. Luohu, distrik tertua Shenzhen yang berbatasan langsung dengan Hong Kong lewat perlintasan Luohu/Lo Wu, menjadi pilihan bagi yang memprioritaskan kemudahan akses lintas batas dibanding kedekatan dengan kawasan teknologi modern — kawasan ini juga dikenal dengan pusat perbelanjaan grosir pakaian dan aksesorisnya yang ramai sejak era awal pembukaan Shenzhen sebagai zona ekonomi khusus.
Karena visa tetap menjadi syarat wajib bagi pemegang paspor Indonesia ke China — kecuali memenuhi kebijakan transit bebas visa 240 jam bagi yang melanjutkan perjalanan ke negara ketiga — mengurus dokumen ini jauh sebelum tanggal keberangkatan tetap langkah pertama yang tidak bisa dilewatkan, terutama bagi pelaku bisnis yang agendanya terikat tanggal pameran dagang tertentu. Begitu di Shenzhen, praktik pembayaran sehari-hari terasa sangat berbeda dari Indonesia: Alipay dan WeChat Pay mendominasi hampir seluruh transaksi, dari makanan pinggir jalan hingga taksi, sehingga menyiapkan salah satu aplikasi ini lebih penting dibanding membawa banyak uang tunai Yuan. Perbedaan waktu dengan Shenzhen hanya satu jam lebih cepat dari WIB, penyesuaian yang relatif ringan dibanding rute-rute jauh lain. Restoran halal masih tergolong terbatas di Shenzhen dibanding kota-kota China dengan populasi Muslim lebih besar seperti Xi'an atau Guangzhou, sehingga wisatawan Muslim Indonesia disarankan mencari informasi lokasi restoran halal terverifikasi sebelum berangkat, atau membawa bekal camilan halal secukupnya untuk mengantisipasi keterbatasan pilihan di sekitar kawasan bisnis dan teknologi kota ini.
Karena Spring Airlines hanya terbang dua kali seminggu, penumpang yang jadwalnya tidak cocok dengan hari operasional tersebut bisa beralih ke jadwal China Southern yang lebih sering, meski dengan tarif dasar yang biasanya lebih tinggi — pertukaran antara harga dan fleksibilitas jadwal inilah yang paling relevan dipertimbangkan pada rute ini, bukan sekadar memilih kota tujuan China lain. Halaman China di Traveloka tetap merangkum seluruh rute internasional lain ke negara ini bagi yang ingin membandingkan kota tujuan sekalian.
Karena dua maskapai dengan struktur tarif berbeda melayani rute ini, membandingkan langsung di Traveloka sebelum memesan membantu menentukan mana yang lebih sesuai — Spring Airlines untuk anggaran hemat, atau China Southern untuk fasilitas penuh dan fleksibilitas jadwal. Easy Reschedule berguna bagi pelaku bisnis yang agendanya sering berubah mendadak, sementara Price Alert membantu memantau tarif menjelang musim Imlek. Traveloka menerima pembayaran lewat kartu, transfer bank, dan dompet digital untuk tiket internasional ini.
Lama Penerbangan | 4 jam 55 menit |
Bandara di Jakarta | |
Bandara di Shenzhen |



