
1 jam, 5 menit
Takengon adalah ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, kota dataran tinggi di jantung Tanah Gayo, Provinsi Aceh. Kota ini memeluk tepi barat Danau Laut Tawar dan dikelilingi bukit-bukit yang ditanami kopi arabika Gayo, salah satu kopi Indonesia yang paling dikenal di pasar dunia. Udara sejuk, kabut pagi di atas danau, dan kedai kopi di setiap sudut membuat Takengon menjadi tujuan liburan yang berbeda dari pesisir Aceh. Banyak pengunjung datang dari Medan dan Banda Aceh, baik untuk berwisata, berbisnis kopi, maupun pulang kampung.
Bandara Rembele adalah bandara yang melayani Takengon dan wilayah Aceh Tengah. Letaknya tidak di dalam kota Takengon, melainkan di Kabupaten Bener Meriah yang bertetangga di sebelah utara. Karena itu, orang sering menyebutnya bandara Takengon atau bandara Aceh Tengah, meski secara administratif berada di kabupaten lain.
Rembele adalah bandara domestik berskala kecil dengan satu terminal penumpang. Fasilitasnya mencakup ruang tunggu, area check-in, dan pengambilan bagasi yang ringkas. Suasananya tenang, jadi proses kedatangan dan keberangkatan umumnya lancar, tetapi pilihan kios makanan terbatas.
Dari Rembele, perjalanan darat ke Takengon melintasi perbukitan dan kebun kopi Bener Meriah. Taksi bandara, mobil sewaan, dan jemputan dari penginapan adalah pilihan yang paling umum. Bila tiba sore, pesan jemputan lebih dulu karena jumlah kendaraan di bandara kecil ini bisa terbatas.
Rute yang paling banyak dicari menuju Takengon adalah dari Medan, yang menjadi penghubung bagi penumpang dari Jakarta dan kota besar lain. Di Traveloka, masukkan Takengon atau kode TXE sebagai tujuan, lalu aktifkan filter penerbangan langsung untuk melihat jadwal nonstop dari Medan. Karena penerbangan ke bandara kecil jumlahnya terbatas, bandingkan beberapa tanggal sekaligus.
Bila jadwal ke Rembele tidak cocok, sebagian pelancong terbang ke Medan atau Banda Aceh lalu melanjutkan dengan jalan darat melewati jalur pegunungan. Opsi ini lebih panjang tetapi memberi pemandangan hutan dan kebun kopi. Pastikan juga Anda memilih jeda transit yang aman di Medan bila menyambung dari kota lain.
Berada di dataran tinggi, Takengon sejuk sepanjang tahun dan cukup dingin di malam hari. Hujan paling sering turun pada akhir tahun, sementara pertengahan tahun biasanya lebih kering, cocok untuk berkeliling danau dan mendaki bukit pandang. Musim panen kopi menjadi saat menarik untuk melihat petani memetik buah merah di kebun.
Permintaan tiket naik tajam menjelang Lebaran ketika perantau Gayo pulang kampung, juga saat libur sekolah dan akhir tahun. Sekitar Agustus, pacuan kuda tradisional Gayo di tepi kota menarik banyak penonton. Kursi ke bandara sekecil Rembele cepat habis pada periode ini, jadi amankan tiket lebih awal.
Danau luas ini adalah ikon Takengon. Anda bisa berkeliling dengan kendaraan menyusuri jalan tepi danau, naik perahu nelayan, atau duduk di kedai kopi sambil melihat kabut naik dari permukaan air.
Bukit pandang di ketinggian ini menawarkan panorama kota Takengon, Danau Laut Tawar, dan pegunungan sekitarnya. Datang pagi hari untuk melihat lautan awan menyelimuti lembah.
Gua alam di tepi danau ini dikaitkan dengan cerita rakyat Gayo. Lorongnya yang sejuk dan lokasinya dekat jalan utama membuatnya mudah disinggahi saat berkeliling danau.
Bukit ini populer untuk menikmati matahari terbenam dan pemandangan kota dari atas. Jalurnya tidak terlalu berat, cocok bagi keluarga.
Berkunjung ke kebun kopi warga memberi kesempatan melihat proses kopi dari buah hingga biji sangrai. Banyak kedai di Takengon juga menyajikan kopi Gayo dengan beragam metode seduh.
Pusat kota di Kecamatan Lut Tawar dan Bebesen praktis karena dekat pasar, masjid agung, dan kedai kopi. Bagi yang ingin bangun dengan pemandangan air, cari penginapan di sepanjang jalan tepi Danau Laut Tawar. Kebayakan di sisi utara danau menawarkan suasana yang lebih tenang dengan akses mudah ke bukit pandang. Lihat pilihan penginapan di halaman hotel di Aceh Tengah.
Ikan kecil yang hidup di Danau Laut Tawar ini adalah kebanggaan Takengon. Biasanya digoreng kering atau dimasak bumbu, dan juga dijual dalam bentuk kering sebagai oleh-oleh.
Masakan berkuah asam pedas khas Gayo ini biasanya berisi ikan danau yang dimasak dengan bumbu asam dan rempah setempat. Rasanya segar dan pas disantap dengan nasi hangat di udara dingin.
Penganan tradisional dari tepung beras, kelapa parut, dan gula ini dibentuk dengan kepalan tangan. Gutel sering menjadi bekal petani kopi dan teman minum kopi sore.
Tidak lengkap ke Takengon tanpa secangkir kopi arabika Gayo yang harum dengan keasaman lembut. Coba seduhan manual di kedai lokal sebelum membeli biji untuk dibawa pulang.
Tanah Gayo menanti Anda dengan danau berkabut dan aroma kopi pegunungan. Cek jadwal ke Takengon di Traveloka, pantau informasi Bandara Rembele, dan gunakan Easy Reschedule bila rencana perjalanan Anda berubah.

