Promo Jadi Partner TravelokaSimpanPesanan Saya
IDR
Pay
Payment

Login to your account

Belum punya akun?
Daftar
Atau masuk dengan:

Log In ke Akun Anda

Belum punya akun?
Daftar
Atau masuk dengan:
1
2
  1. Hotel>
  2. Indonesia (44734 Hotel)>
  3. Jawa Tengah (2264 Hotel)>
  4. Magelang (285 Hotel)>
  5. Muntilan (2 Hotel)

Hotel di Muntilan

Magelang, Indonesia · 2 hotel tersedia

Pergi untuk perjalanan bisnis
Jika Anda mencentang kotak ini, Anda dapat melihat akomodasi yang cocok untuk perjalanan bisnis.
Bayar saat Check-in
Traveloka Best Price Guarantee

Pertanyaan yang sering ditanyakan seputar Muntilan

Berapa banyak hotel yang ada di Muntilan?

Saat ini, ada sekitar 2 hotel yang dapat kamu pesan di Muntilan

Tentang

Di Indonesia, Anda tentu akan menemukan banyak tempat-tempat menarik karena Negara Kepulauan ini memiliki berbagai macam suku, budaya, bahasa, serta objek wisata yang tidak kalah dengan yang ada di luar negeri. Salah satu tempat menarik itu adalah Kecamatan Muntilan. Kecamatan ini berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan menghubungkan beberapa kota besar, seperti Yogyakarta, Semarang, dan Magelang. Kecamatan ini merupakan pusat jasa dan perdagangan di selatan Kabupaten Magelang. Untuk menuju ke Kecamatan Muntilan, Anda akan menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari Kota Magelang dan 25 kilometer dari Kota Yogyakarta.

Kecamatan Muntilan memiliki nilai sejarah yang sangat menarik. Objek wisata sejarah di kecamatan ini akan menjadi pengalaman yang menarik untuk Anda, sekaligus dapat menambah pengetahuan tentang sejarah daerah yang ada di Indonesia. Muntilan memiliki objek wisata sejarah, seperti makam para pendahulu dan candi-candi. Jika sedang musim libur, kecamatan ini juga menjadi incaran para wisatawan baik lokal maupun internasional. Aktivitas perdagangan di Muntilan dapat dilihat dari pasar dan ruko atau toko yang ada di sepanjang jalan. Pada bahu jalan di sepanjang jalan Muntilan, Anda akan melihat beberapa pedagang yang menjual beberapa patung yang dijual oleh masyarakat Muntilan.

Sejarah Muntilan

Pada awalnya, Kecamatan Muntilan merupakan tempat tinggal orang Tionghoa. Pada 1812, terjadilah peralihan kekuasaan Karesidenan Kedu dari Kesultanan Yogyakarta untuk pemerintahan Inggris. Menurut laporan pada saat perang Diponogoro, dibangunlah satu benteng di kecamatan ini, yaitu proyek Benteng Stelsel oleh Jendral De Kock. Muntilan baru menerima status sebagai kawedanan dan juga distrik sejak 1900.

Di Kecamatan Muntilan, terdapat peristiwa sejarah yang bisa dibilang sangat penting bagi Kecamatan Muntilan, salah satunya adalah penyebaran agama Katolik. Pada 1894, seorang pastor bernama F. Van Lith memulai penyebaran agama Katolik di Muntilan. Sementara itu, penyebaran agama Katolik di Borobudur dilakukan oleh teman dari Van Lith yang bernama Pastor Hoevenaar. Tidak hanya membangun komunitas bagi umat Katolik, Van Lith juga membangun sekolah, asrama, dan rumah sakit di Kecamatan Muntilan.

Peristiwa penting lainnya, yaitu dibangunnya sebuah jalur rel kereta api pada 1892 oleh Nederlands – Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Rel yang dibangun tersebut menghubungkan Yogyakarta – Magelang dan melewati Kecamatan Muntilan. Teknisi yang mengerjakan  jalur rel ini adalah The Tjien Ing.

Budaya di Muntilan

Kebudayaan daerah yang masih sering dilakukan di Muntilan adalah Padosan. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada bulan Sya’ban satu hari sebelum bulan puasa atau Ramadhan. Kegiatan ini merupakan makna dari membersihkan diri atau mandi, namun kegiatan Padosan ini sebenarnya tak hanya untuk membersihkan badan atau fisik saja, tetapi membersihkan hati dan pikiran.

Kegiatan lain yang sering di akukan di Muntilan adalah Nyadran. Kegiatan ini merupakan doa bersama sebelum melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dan diikuti dengan ceramah dari para ulama. Kegiatan ini biasanya dilakukan 5 hari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Pada kegiatan Nyadran, para warga akan membawa nasi bungkus yang akan diberikan untuk musafir dan orang kurang mampu. Kegiatan ini bertujuan agar kita selalu bisa berbagi untuk sekitar yang membutuhkan.

Selain acara atau kebiasaan masyarakat Muntilan, terdapat juga beberapa tari tradisional dari Muntilan, Magelang, dan sekitarnya, yaitu tari Topeng Ireng. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang telah diperbaharui dari kesenian Kubro Siswo. Tarian ini biasa dilakukan pada saat festival budaya, upacara bersih desa, kirap budaya, acara seni budaya, dan acara lainnya. Hal yang paling menarik dari seni ini terletak pada kostum sang penari. Selain itu, tarian dan irama juga sangat mendukung tari Topeng Ireng.

Bahasa Daerah di Muntilan

Bahasa daerah yang sering digunakan di Muntilan adalah bahasa Jawa Kedu. Bahasa ini merupakan bahasa terdahulu dari bahasa daerah Jawa yang ada di Suriname. Bahasa Jawa Kedu memiliki dialek tersendiri yang sangat khas karena bahasa Kedu adalah percampuran dari dialek Banyumasan dan dialek Mataram/bandek (Solo-Yogya). Bahasa Jawa Kedu biasanya sering digunakan di daerah Kebumen, Temanggung, Magelang, Purworejo, Prembun, Kutoarjo, Karanganyar, dan Kutowinangun.

Iklim di Muntilan

Muntilan memiliki iklim tropis karena memang keseluruhan daerah yang ada di Indonesia beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Di Muntilan sendiri lebih banyak mengalami musim hujan, sedangkan musim kemarau yang ada di daerah ini sangat singkat. Suhu rata-rata yang ada di Muntilan sekitar 24 hingga 31 derajat celsus. Untuk musim kemarau jatuh pada bulan Agustus, sedangkan musim hujan berlangsung pada bulan Maret. 

Wilayah Utama Muntilan

Sungai Blongkeng, sungai Pabelan, dan sungai Lamat merupakan hulu sungai dari Gunung Merapi. Sungai-sungai tersebut akan melewati Kecamatan Muntilan. Tiga sungai tersebut memiliki material seperti batu dan pasir karena merupakan adalah jalur banjir lahar dari Gunung Merapi. Muntilan berbatasan dengan Kecamatan Sawangan di sebelah utara, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Mungkid, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Salam, dan sebelah selatan dari Kecamatan Muntilan berbatasan dengan Kecamatan Borobudur dan Ngluwar.

Cara ke Muntilan

Untuk Anda yang ingin menuju ke Muntilan, Anda dapat menggunakan bus pariwisata dengan tujuan Muntilan. Di sini, terdapat sebuah terminal bus kecil yang digunakan sebagai transit dari bus AKAP dengan tujuan ke dan dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Magelang, dan Semarang. Terminal Drs. Prajitno Muntilan terletak di Jl. Pemuda Barat, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Jika Anda menggunakan mobil pribadi, Anda dapat menggunakan jalur tol melewati Tol Pantura. Jika naik mobil pribadi, tentu akan lebih nyaman karena Anda tidak perlu turun naik angkutan umum. Selain itu, jika ingin menuju objek wisata tentu akan lebih fleksibel karena Anda bisa mampir ke beberapa tempat sewaktu pulang atau pergi dari Muntilan, Magelang.

Objek Wisata di Muntilan

Daerah Muntilan lebih dominan dengan objek wisata sejarah. Berikut beberapa objek wisata sejarah yang ada di Muntilan:

Makam Raden Santri

Objek wisata ini berada di lereng Gunung Pring. Jika dari pusat Kecamatan Muntilan membutuhkan jarak sekitar 1 kilometer ke arah selatan. Makam Raden Santri atau terkenal juga dengan sebutan Pangeran Singasari sering dikunjungi hingga ratusan penziarah setiap harinya. Makan ini merupakan makam keluarga dari Pangeran Singasari dan masih keturunan dari Raja Majapahit, generasi keenam Prabu Brawijaya dan Putra Ki Ageng Pemanahan.

Candi Ngawen

Candi ini memiliki 5 buah candi yang berukuran kecil dan 2 candi yang berbeda bentuk dari candi lainnya, yaitu hiasan patung singa pada ke empat sudutnya. Relief yang terdapat di Candi Ngawen adalah relief Kinnari, Kinnara, dan Kala-makara. Candi Ngawen terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, dan berjarak sekitar 5 kilometer dari Yogyakarta, tepat sebelum Candi Mendut. Candi ini dibangun sekitar abad ke-8 pada masa Kerajaan Mataram Kuno dan didirikan oleh Wangsa Syailendra. Candi Ngawen diperkirakan merupakan bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti Karang Tengah pada tahun 824 masehi.

Klenteng Hok An Kiong Muntilan

Klenteng ini merupakan objek wisata sejarah yang sangat menarik. Klenteng Hok An Kiong Muntilan adalah tempat beribadah bagi umat Khonghucu yang berada di Kecamatan Mutilan, Magelang. Objek wisata ini terletak di Jl. Pemuda No. 100 Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Bangunan ini diketahui telah dibangun sejak masa penjajahan Belanda.

Makam Romo Sandjaja

Nama asli Romo Sandjaja adalah Richardus Kardis Sanjaja. Beliau merupakan seorang pastor dari agama Katolik yang wafat pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau wafat pada 20 Desember 1948 dalam usia 34 tahun di Dusun Kembaran, Muntilan. Bisa dikatakan bahwa beliau merupakan martir pertama di Pulau Jawa dan sangat terkenal karena ketabahan, kesucian, kesetiaan, dan kesederhanaannya. Makam beliau akan selalu ramai oleh para wisatawan yang ingin berziarah. Makam Romo Sandjaja merupakan objek wisata rohani yang terkenal di Muntilan.

Tips Berwisata di Muntilan

  • Untuk Anda yang ingin berwisata ke Muntilan, disarankan agar datang pada musim kemarau sekitar bulan Agustus karena musim hujan di Muntilan cukup panjang.
  • Untuk Anda yang ingin berkunjung ke Muntilan, disarankan agar selalu menyiapkan payung karena memang di Muntilan lebih sering mengalami musim hujan.
  • Karena di daerah ini terdapat lebih banyak objek wisata sejarah, akan lebih baik jika Anda membuat catatan penting tentang sejarah atau mengabadikannya dengan menggunakan kamera.
  • Jika Anda sudah menjajaki semua objek wisata yang ada di Muntilan, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke tempat-tempat menarik lainnya yang ada di Jawa Tengah, seperti Semarang, Yogyakarta, dan khususnya  daerah Kabupaten Magelang.
Perlu Bantuan?