5 Permainan Tradisional Nias yang Sarat Keberanian dan Makna Budaya

Mas Bellboy
Waktu baca 3 menit

Di antara rumah-rumah adat Nias Selatan, ada satu permainan yang paling ditunggu wisatawan, hentakan kaki pemuda yang berlari lalu melompati susunan batu setinggi dua meter. Namun jauh sebelum momen itu terjadi, anak-anak Nias sudah lebih dulu ditempa lewat permainan-permainan sederhana yang menanamkan keberanian sejak usia dini.

Permainan tradisional Nias yang paling dikenal antara lain Fahombo (Hombo Batu), Famaikara, Zawo-zawo, Tari Baluse, dan Tari Moyo, sebagian murni permainan anak, sebagian lagi ritual dan pertunjukan penuh nilai budaya. Setelah tiba lewat Tiket Pesawat ke Nias/Gunung Sitoli, banyak wisatawan melanjutkan perjalanan ke Nias Selatan untuk menyaksikan langsung sebagian dari tradisi ini.

5 Permainan Tradisional Nias yang Wajib Kamu Tahu

Berikut lima permainan dan tradisi khas Nias yang paling terdokumentasi, lengkap dengan cara main dan maknanya.

1. Fahombo (Hombo Batu)

Fahombo atau Hombo Batu adalah tradisi lompat batu yang paling identik dengan Pulau Nias. Pemuda harus melompati susunan batu berbentuk piramida dengan permukaan atas datar, setinggi sekitar 2 meter dan tebal 40 sentimeter, dengan bantuan batu pijakan beberapa langkah sebelumnya.

Awalnya, Fahombo lahir dari kebiasaan berperang antardesa di Nias sebagai uji ketangkasan melompati benteng batu musuh. Kini, tradisi ini menjadi simbol transisi dari remaja ke dewasa dan biasanya diiringi tari perang Faluaya sebagai pelengkap suasana.

Sebelum hari pelaksanaan, pemuda yang akan melompat menjalani masa persiapan berupa latihan fisik intensif, puasa, dan ritual pembersihan diri, sambil menerima bimbingan dari para tetua adat tentang makna spiritual di balik ritual ini. Hanya mereka yang dianggap siap secara fisik dan mental yang diizinkan mencoba melompat di depan warga desa.

2. Famaikara

Famaikara adalah permainan lempar batu yang tumbuh di komunitas Idanogawo, Nias, dimainkan berpasangan oleh anak-anak berusia sekitar 10-13 tahun. Tiga garis sejajar digambar di tanah sebagai garis start, tengah, dan finis.

Pemain pertama melompat dengan satu kaki sambil menyeimbangkan batu di kaki yang terangkat, lalu melemparkannya ke arah batu milik lawan. Kena sasaran bernilai satu poin, sementara berhasil memecahkan batu lawan bernilai sepuluh poin — melatih ketepatan sekaligus keseimbangan tubuh.

Indonesia

Tiket Mikie Funland (Mikie Holiday)

9.3/10

Berastagi

Rp 105.470

3. Zawo-zawo

Zawo-zawo adalah metode latihan bertahap bagi anak laki-laki Nias yang ingin menguasai Fahombo, dimulai sejak usia tujuh tahun. Alih-alih langsung melompati batu asli, anak-anak berlatih melompati seutas tali yang direntangkan.

Ketinggian tali dinaikkan secara bertahap sesuai umur dan kemampuan anak, hingga akhirnya mereka dianggap siap menghadapi batu sungguhan. Latihan fisik ini sekaligus membentuk otot kaki dan mental pemuda Nias sejak dini sebelum benar-benar mengikuti ritual Fahombo di depan warga desa.

4. Tari Baluse (Tari Perang)

Tari Baluse adalah tarian perang yang menampilkan simulasi pertarungan dengan perisai kayu (baluse) dan tombak toho sepanjang sekitar dua meter. Sekelompok pria mengenakan pakaian perang merah-kuning lengkap dengan mahkota adat sambil menghentakkan kaki dan berteriak menyemangati diri.

Gerakan formasi melingkar dalam tarian ini menggambarkan pengepungan musuh, lengkap dengan gerakan pedang dan tombak yang terkoordinasi. Meski bentuknya tarian, Baluse lahir dari latihan ketangkasan bertarung sungguhan yang dulu jadi bekal wajib pemuda Nias sebelum berperang.

5. Tari Moyo (Tari Elang)

Tari Moyo adalah tarian yang meniru gerakan elang mengepakkan sayap, dimainkan berpasangan oleh kelompok penari berjumlah enam hingga delapan orang. Nama "moyo" sendiri berarti elang dalam bahasa Nias.

Gerakan tangan naik-turun meniru kepakan sayap dipadukan dengan putaran dan gerakan menukik cepat sambil berjinjit, mengikuti iringan gendang dan gong khas Nias. Setiap wilayah kepulauan Nias punya versi gerakan dan musik pengiring Tari Moyo yang sedikit berbeda satu sama lain.

Discover Flights With Traveloka

Mon, 21 Sep 2026

Wings Air

Medan (KNO) ke Nias/Gunung Sitoli (GNS)

Mulai dari Rp 1.663.900

Thu, 1 Oct 2026

Lion Air

Jakarta (CGK) ke Nias/Gunung Sitoli (GNS)

Mulai dari Rp 2.606.600

Fri, 2 Oct 2026

Lion Air

Batam (BTH) ke Nias/Gunung Sitoli (GNS)

Mulai dari Rp 2.324.900

Nilai Keberanian dalam Setiap Permainan Nias

Berbeda dari dolanan anak di banyak daerah lain, permainan dan tradisi Nias hampir selalu berporos pada nilai keberanian dan kesiapan menghadapi tantangan fisik. Zawo-zawo dan Fahombo secara eksplisit membentuk jenjang dari latihan ringan hingga ritual kedewasaan yang sesungguhnya.

Famaikara mengajarkan ketangkasan melempar yang dulu berguna untuk berburu, sementara Tari Baluse dan Tari Moyo mengabadikan semangat perang dan keteguhan lewat gerakan simbolis. 

Pola pewarisan permainan ini juga unik karena umumnya diturunkan langsung dari ayah kepada anak lelakinya secara lisan, bukan lewat pelajaran formal di sekolah. Itulah sebabnya sebagian permainan seperti Famaikara kini lebih sering dijumpai di desa-desa tertentu saja, seperti Idanogawo, dibanding menyebar merata ke seluruh Pulau Nias.

Indonesia

Sans Hotel Finest Medan

8.6/10

Medan Johor

Rp 150.431

Di Mana Bisa Menyaksikan Permainan Tradisional Nias?

Sebagian besar tradisi ini masih paling autentik disaksikan di desa-desa adat Nias Selatan, jauh dari keramaian kota Gunungsitoli.

1. Desa Bawomataluo

Desa megalitik ini paling terkenal sebagai lokasi pertunjukan Fahombo untuk wisatawan, lengkap dengan rumah adat omo hada dan jejeran batu megalit peninggalan leluhur. 

2. Desa Hilisimaetano

Sebagai salah satu desa adat terbesar di Nias Selatan, Hilisimaetano juga rutin menampilkan Tari Baluse dan Tari Moyo dalam acara adat maupun penyambutan tamu penting.

3. Gunungsitoli dan Museum Pusaka Nias

Di ibu kota Nias ini, Museum Pusaka Nias kerap menggelar pengenalan permainan tradisional untuk anak sekolah sebagai upaya menjaga warisan budaya tetap dikenal generasi muda. 

Permainan tradisional Nias menunjukkan bagaimana keberanian dan ketangkasan fisik ditanamkan sejak usia dini, dari latihan sederhana seperti Zawo-zawo hingga puncaknya di ritual Fahombo yang mendunia. Setiap gerakan, baik dalam permainan anak maupun tarian perang, membawa jejak sejarah panjang masyarakat Nias yang dulu hidup dalam kewaspadaan antardesa.

Bagi wisatawan, menyaksikan langsung Fahombo di Bawomataluo atau Tari Baluse di desa adat lain memberi pengalaman budaya yang jauh lebih mendalam dibanding sekadar menikmati ombak Pantai Sorake. Sesuaikan jadwal kunjungan dengan jadwal pertunjukan adat setempat agar tidak melewatkan momen terbaiknya.

Jelajahi Keberanian Budaya Nias Bersama Aplikasi Travel #1 di Asia Tenggara

Traveloka adalah aplikasi travel #1 di Asia Tenggara yang dipercaya jutaan pengguna untuk merencanakan perjalanan ke penjuru Indonesia, termasuk Pulau Nias. Pesan Tiket Pesawat ke Nias/Gunung Sitoli, lalu cari Hotel di Nias Selatan dengan pilihan mulai dari homestay sederhana hingga resor dekat pantai selancar.

Lengkapi perjalanan dengan Aktivitas di Nias seperti tur budaya ke desa megalitik atau menikmati keindahan Pantai Sorake, semua bisa direncanakan dalam satu aplikasi. Nikmati kemudahan pembayaran lewat Traveloka PayLater atau metode lokal seperti transfer bank, GoPay, dan dompet digital lain, kapan saja lewat aplikasi yang tersedia di Google Play Store dan App Store.

Dalam Artikel Ini

• 5 Permainan Tradisional Nias yang Wajib Kamu Tahu
• 1. Fahombo (Hombo Batu)
• 2. Famaikara
• 3. Zawo-zawo
• 4. Tari Baluse (Tari Perang)
• 5. Tari Moyo (Tari Elang)
• Nilai Keberanian dalam Setiap Permainan Nias
• Di Mana Bisa Menyaksikan Permainan Tradisional Nias?
• 1. Desa Bawomataluo
• 2. Desa Hilisimaetano
• 3. Gunungsitoli dan Museum Pusaka Nias
• Jelajahi Keberanian Budaya Nias Bersama Aplikasi Travel #1 di Asia Tenggara
Hotel
Tiket Pesawat
Atraksi dan Aktivitas
Selalu Tahu Kabar Terbaru
Dapatkan berbagai rekomendasi travel & gaya hidup serta info promo terkini dengan berlangganan newsletter kami.
Langganan