
11 jam, 25 menit
Maskapai | Jadwal Berangkat | Jadwal Tiba | Bandara Asal | Bandara Tujuan | |
|---|---|---|---|---|---|
Garuda Indonesia | 01.55 | 11.15 | Jakarta (CGK) | Melbourne (MEL) | Pesan Sekarang |
Etihad | 01.55 | 11.15 | Jakarta (CGK) | Melbourne (MEL) | Pesan Sekarang |
Qantas | 21.00 | 06.20 (+1 days) | Jakarta (CGK) | Melbourne (MEL) | Pesan Sekarang |
Rute dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) di Tangerang, Banten, menuju Bandara Melbourne Tullamarine (MEL) di Victoria, Australia, adalah salah satu rute internasional tersibuk yang menghubungkan Indonesia langsung ke jantung budaya Australia. Jarak kedua bandara mencapai sekitar 5.208 km, dan penerbangan langsung tanpa berhenti menjadikan CGK–MEL sebagai rute ideal bagi wisatawan, pelajar, dan pelancong bisnis yang menginginkan koneksi cepat antara Jakarta dan Melbourne. Durasi penerbangannya sekitar 11 jam 25 menit. Saat ini, dua maskapai beroperasi pada rute nonstop ini: Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA716 dan Qantas dengan nomor penerbangan QF40, keduanya menggunakan armada Airbus A330. Total frekuensi gabungan mencapai sekitar lima penerbangan per minggu, dengan Garuda Indonesia terbang pada hari Minggu, Rabu, dan Kamis, sementara Qantas beroperasi pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Bandara keberangkatan, Soekarno-Hatta, adalah bandar udara tersibuk di Indonesia dan salah satu tersibuk di Asia Tenggara, dengan Terminal 3 yang modern sebagai gerbang utama untuk penerbangan internasional. Di sisi tujuan, Bandara Melbourne Tullamarine (MEL) adalah pintu masuk utama Negara Bagian Victoria dan bandara tersibuk kedua di Australia, melayani seluruh penerbangan internasional melalui Terminal 2 (T2).
Halaman ini khusus rute Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ke Bandara Melbourne (MEL). Untuk opsi dari seluruh bandara di kedua kota, lihat Tiket Pesawat Jakarta ke Melbourne.
Harga tiket pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Melbourne bergerak dinamis sepanjang tahun, dipengaruhi oleh musim liburan, kalender sekolah Australia, dan ketersediaan kursi di dua maskapai nonstop yang melayani rute ini. Pada periode low season — umumnya Maret hingga Mei dan Juni hingga Agustus — harga cenderung lebih kompetitif karena permintaan dari wisatawan rekreasi menurun. Sebaliknya, pada musim panas Australia (Desember–Februari) dan saat Australian Open berlangsung di bulan Januari, harga tiket dapat melonjak signifikan karena tingginya minat perjalanan. Untuk penerbangan nonstop Garuda Indonesia dan Qantas, tarif kelas ekonomi satu arah dimulai dari kisaran Rp 4.357.902–11 juta per orang, sementara kelas bisnis bisa jauh lebih tinggi. Jika Anda mempertimbangkan penerbangan transit via Singapura, Hong Kong, atau Kuala Lumpur, tarif bisa ditemukan mulai dari Rp 4.357.902–6 juta ke atas, namun dengan tambahan waktu perjalanan. Gunakan fitur Price Drop Protection dan Price Tracking di Traveloka untuk memantau fluktuasi harga dan mengunci tarif terbaik sebelum harga naik.
Memilih waktu yang tepat untuk memesan tiket adalah kunci utama menekan biaya perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Melbourne. Secara umum, pemesanan 6–8 minggu sebelum tanggal keberangkatan memberikan keseimbangan antara ketersediaan kursi dan harga yang wajar. Hindari memesan pada momen peak seperti libur Lebaran, Natal, Tahun Baru, dan periode Australian Open (Januari). Selain itu, penerbangan di hari tengah pekan seperti Rabu dan Kamis cenderung lebih terjangkau dibandingkan Jumat dan Minggu. Fleksibilitas tanggal ± dua hingga tiga hari dari rencana awal juga dapat membuka selisih harga yang cukup signifikan. Manfaatkan layanan Traveloka untuk membandingkan harga penerbangan nonstop GA716 dan QF40 sekaligus opsi transit satu kali melalui hub regional, sehingga Anda bisa menimbang pilihan antara kecepatan perjalanan dan penghematan biaya secara langsung dalam satu platform.
Dua maskapai penerbangan saat ini mengoperasikan penerbangan nonstop dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ke Bandara Melbourne (MEL). Garuda Indonesia (kode penerbangan GA716) adalah maskapai flag carrier Indonesia yang terbang tiga kali seminggu — hari Minggu, Rabu, dan Kamis — dengan keberangkatan dini hari sekitar pukul 01:55 WIB dan tiba di Melbourne sekitar pukul 11:15 AEST. Maskapai ini mengoperasikan Airbus A330 dengan pilihan kelas Ekonomi dan Bisnis. Qantas (kode penerbangan QF40) adalah maskapai flag carrier Australia yang terbang tiga kali seminggu — hari Selasa, Kamis, dan Sabtu — dengan keberangkatan malam hari sekitar pukul 20:00–21:00 WIB dan tiba di Melbourne keesokan harinya. Qantas juga mengoperasikan Airbus A330-200 pada rute ini. Selain dua maskapai nonstop tersebut, sejumlah maskapai menawarkan penerbangan transit satu kali, termasuk Cathay Pacific via Hong Kong, Singapore Airlines via Singapura, dan Malaysia Airlines via Kuala Lumpur, dengan pilihan harga yang lebih beragam. Semua penerbangan internasional dari Soekarno-Hatta berangkat dari Terminal 3.
Seluruh penerbangan internasional dari Bandara Soekarno-Hatta, termasuk rute CGK–MEL yang dioperasikan Garuda Indonesia dan Qantas, berangkat dari Terminal 3 — terminal termodern di Soekarno-Hatta yang resmi beroperasi penuh sejak 2016 dan terus diperbarui fasilitasnya hingga kini. Counter check-in untuk penerbangan internasional dibuka tiga jam sebelum jadwal keberangkatan, sehingga sangat disarankan tiba di bandara minimal 2,5–3 jam sebelum boarding. Terminal 3 memiliki 38 gate, dengan gate 1–10 khusus melayani penerbangan internasional. Fasilitas di Terminal 3 sangat lengkap: terdapat area self check-in kiosk, lounge premium, ragam pilihan kuliner dan kafe, toko ritel duty-free, musala, area istirahat, serta hotel kapsul untuk penumpang transit malam. Sistem informasi penerbangan digital tersebar di seluruh titik strategis terminal untuk memudahkan navigasi. Untuk mengakses Terminal 3 dari Jakarta, tersedia Kereta Bandara yang beroperasi dari Stasiun Sudirman Baru (BNI City), Stasiun Manggarai, Stasiun Duri, dan Stasiun Batu Ceper, dengan waktu tempuh sekitar 50 menit dari pusat kota ke bandara.
Seluruh penerbangan internasional yang mendarat di Bandara Melbourne Tullamarine — termasuk GA716 dan QF40 dari Jakarta — menggunakan Terminal 2 (T2), yang merupakan satu-satunya terminal internasional di bandara ini. Proses kedatangan di T2 mencakup antrian pemeriksaan paspor, pengambilan bagasi, lalu pemeriksaan bea cukai dan biosecurity oleh Australian Border Force. Bandara Melbourne sedang dalam tahap pengembangan besar senilai Rp 4.357.902 miliar yang dijadwalkan berlanjut hingga 2026–2028, termasuk perluasan T2 dengan tambahan carousel bagasi dan area penjemputan yang lebih luas. Setelah melewati bea cukai, tersedia gerai penukaran mata uang, kartu SIM lokal, dan pusat informasi wisata di area kedatangan. Terminal Transfer Bus beroperasi 24 jam menghubungkan seluruh empat terminal di Melbourne Airport, dengan frekuensi setiap 10–15 menit — berguna jika Anda perlu pindah terminal untuk penerbangan domestik lanjutan.
Bandara Melbourne Tullamarine (MEL) berlokasi sekitar 23 km di utara pusat kota Melbourne, dan terdapat beberapa pilihan transportasi yang dapat dipilih sesuai kebutuhan. SkyBus Melbourne City Express adalah opsi paling populer dan ekonomis: bus ini beroperasi setiap hari mulai pukul 04.00 hingga 01.00, dengan frekuensi setiap 10 menit pada jam sibuk dan setiap 15 menit di luar jam sibuk, menghubungkan langsung bandara ke Southern Cross Station di pusat kota. Waktu tempuh berkisar 20–45 menit tergantung kondisi lalu lintas. SkyBus dilengkapi WiFi gratis dan tiket dapat dibeli secara online, via aplikasi, atau melalui e-kiosk di bandara. Alternatif lainnya adalah taksi dan rideshare (Uber, Didi) yang tersedia di area Ground Transport Hub Terminal 4 dan di luar T1 serta T2 — perjalanan ke pusat kota memakan waktu sekitar 30 menit dan dikenai tarif meter plus biaya bandara. Opsi sewa mobil juga tersedia melalui berbagai perusahaan seperti Avis, Budget, Europcar, Hertz, dan Sixt yang bisa ditemukan di lantai dasar gedung parkir bandara. Perlu dicatat bahwa hingga 2026, belum ada layanan kereta langsung ke pusat kota Melbourne dari bandara ini, meskipun proyek Airport Rail Link sedang dalam perencanaan.
Warga negara Indonesia (WNI) wajib memiliki visa yang sah sebelum terbang ke Australia. Jenis visa yang paling umum untuk kunjungan wisata, mengunjungi keluarga, atau perjalanan singkat adalah Visitor Visa Subclass 600. Indonesia tidak termasuk dalam program Electronic Travel Authority (ETA) Australia, sehingga tidak ada jalur visa on arrival atau visa elektronik instan. Proses pengajuan dilakukan sepenuhnya secara online melalui portal ImmiAccount milik pemerintah Australia — tidak perlu datang ke kedutaan. Biaya aplikasi adalah sekitar Rp 4.357.902 per orang (non-refundable). Dokumen utama yang dibutuhkan antara lain: paspor berlaku minimal 6 bulan dari tanggal keberangkatan, foto digital background putih, rekening koran 3–6 bulan terakhir dengan saldo konsisten minimal Rp 4.357.902–5.000, surat keterangan kerja, itinerary perjalanan lengkap, bukti akomodasi, dan bukti kepemilikan aset atau keluarga di Indonesia sebagai strong ties. Disarankan mengajukan visa minimal 6 minggu sebelum keberangkatan untuk memberikan waktu cukup bagi proses verifikasi imigrasi Australia.
Melbourne terletak di belahan bumi selatan, sehingga musimnya berlawanan dengan Indonesia. Musim panas Melbourne (Desember–Februari) adalah periode peak demand, terutama karena bertepatan dengan Australian Open (Januari) — salah satu turnamen tenis Grand Slam — serta libur panjang sekolah Australia. Pada periode ini, harga tiket CGK–MEL cenderung paling tinggi dan kursi lebih terbatas. Musim gugur Melbourne (Maret–Mei) adalah waktu yang sangat direkomendasikan: cuaca sejuk dengan suhu antara 20–28°C, warna daun berubah indah di taman kota, dan harga tiket serta akomodasi relatif lebih terjangkau. Musim semi (September–November) juga menjadi favorit wisatawan karena kebun raya Melbourne bermekaran dan kalender acara sangat padat, termasuk Melbourne Cup Carnival (November). Musim dingin (Juni–Agustus) adalah low season dengan harga hotel paling murah, namun suhu bisa turun ke kisaran 7–14°C — cocok untuk pelancong yang tidak masalah dengan cuaca lebih dingin dan ingin berhemat maksimal. Dari perspektif penerbangan, Maret dan periode April non-peak adalah bulan-bulan dengan tiket CGK–MEL paling kompetitif secara historis.
Melbourne dikenal sebagai ibu kota budaya Australia, menawarkan perpaduan arsitektur bersejarah, seni kontemporer, gastronomi, dan alam yang mengesankan. Beberapa destinasi wajib kunjung di Melbourne dan sekitarnya: Flinders Street Station — ikon kota yang dibangun tahun 1854 dengan arsitektur Victoria yang megah dan menjadi hub transportasi utama kota. Hosier Lane — gang seni jalanan paling terkenal di Australia, dipenuhi mural warna-warni yang terus berubah dari seniman lokal dan internasional. Eureka Skydeck — dek observasi 360 derajat di puncak Menara Eureka setinggi sekitar 297 meter, lengkap dengan "The Edge" — kotak kaca yang menggantung di luar gedung. Queen Victoria Market — pasar tertua di Melbourne yang menjual produk segar, oleh-oleh, dan kuliner jalanan khas Australia. Melbourne Zoo — kebun binatang tertua Australia (berdiri sejak 1862) dengan lebih dari 300 spesies, termasuk kangguru, koala, dan singa. Bagi penggemar olahraga, Melbourne Cricket Ground (MCG) — stadion terbesar di belahan bumi selatan — dan Rod Laver Arena adalah dua ikon olahraga kelas dunia. Untuk perjalanan sehari, jangan lewatkan Great Ocean Road dengan formasi batu Twelve Apostles yang memukau di tepi Samudra Hindia.
Lama Penerbangan {originAirportName} - {destinationAirportName} | 11 jam 25 menit |
Bandara di Jakarta | |
Bandara di Melbourne |



