
8 jam, 55 menit
Ya, rute Bandung-Pontianak kini dilayani secara langsung tanpa transit setelah Super Air Jet membuka rute ini sebagai bagian dari delapan rute domestik baru dari Bandara Husein Sastranegara.
Penerbangan langsung Bandung-Pontianak memiliki estimasi waktu tempuh sekitar 8 jam 55 menit.
Harga tiket pesawat Bandung-Pontianak mulai dari Rp 3.454.100, dengan variasi tergantung waktu pemesanan dan tanggal keberangkatan.
Penerbangan ini berangkat dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung dan mendarat di Bandara Internasional Supadio (PNK) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Bandara Supadio berjarak sekitar 17 kilometer di sebelah selatan pusat Kota Pontianak, dengan waktu tempuh sekitar 30-45 menit berkendara.
Pontianak disebut Kota Khatulistiwa karena wilayahnya dilintasi langsung oleh garis lintang nol derajat, ditandai dengan monumen Tugu Khatulistiwa di sisi utara kota.
Fenomena kulminasi matahari, saat benda tegak tidak menampakkan bayangan, terjadi dua kali setahun yaitu sekitar tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.
Dua makanan khas yang wajib dicoba adalah chai kwe, dumpling sayuran berbahan tepung beras, dan bubur pedas yang kaya rempah dengan bahan dasar pucuk pakis dan daun kesum.
Wisatawan bisa menggunakan angkutan kota (oplet), ojek online seperti Gojek dan Grab, atau perahu tambang tradisional untuk menyeberangi Sungai Kapuas.
Bisa. Dari Pontianak, wisatawan dapat menempuh jalur darat ke Kuching, Malaysia melalui pos lintas batas Entikong dengan waktu tempuh sekitar 8-12 jam menggunakan bus lintas negara.
Musim kemarau sekitar Juni hingga September umumnya menjadi waktu yang paling nyaman untuk berkunjung karena kelembapan udara relatif lebih rendah dibanding bulan-bulan lain.
Beberapa oleh-oleh khas Pontianak antara lain amplang, kain tenun corak insang, kue bingka, dan lempok durian yang bisa ditemukan di toko oleh-oleh maupun pasar tradisional.
Rute penerbangan Bandung-Pontianak resmi kembali dilayani tanpa transit setelah Super Air Jet menambahkannya ke jaringan delapan rute domestik yang dibuka bersamaan dengan reaktivasi Bandara Husein Sastranegara untuk pesawat jet berbadan sedang. Bagi warga Jawa Barat dan sekitarnya yang ingin menjangkau Kalimantan Barat, kabar ini berarti perjalanan udara langsung dari Bandung ke Pontianak kini bisa ditempuh hanya dalam 8 jam 55 menit, tanpa perlu transit lebih dulu di Jakarta atau kota besar lain seperti sebelumnya. Pontianak sendiri bukan destinasi biasa. Kota ini adalah salah satu dari sedikit kota besar di dunia yang benar-benar dilintasi garis khatulistiwa, menjadikannya rumah bagi Tugu Khatulistiwa yang ikonik serta fenomena kulminasi matahari yang hanya terjadi dua kali setahun. Ditambah pesona Sungai Kapuas yang mengalir di jantung kota, kekayaan kuliner khas seperti chai kwe dan bubur pedas, hingga akses ke Singkawang dan perbatasan Kuching di Malaysia, Pontianak menawarkan pengalaman yang jauh berbeda dari destinasi wisata Kalimantan pada umumnya. Simak estimasi tiket pesawat Bandung-Pontianak mulai dari Rp 3.454.100 dan rencanakan perjalanan lengkap ke Kota Khatulistiwa lewat panduan berikut ini.
Selama ini, warga Bandung yang ingin bepergian ke Pontianak umumnya harus transit di Jakarta atau kota lain, membuat total waktu perjalanan jadi lebih panjang dan melelahkan. Situasi ini berubah setelah Super Air Jet mengumumkan rencana pembukaan delapan rute domestik baru dari Bandara Husein Sastranegara, dengan Pontianak sebagai salah satu tujuannya, berdampingan dengan rute ke Denpasar, Makassar, Balikpapan, Batam, Pekanbaru, Padang, dan Kualanamu. Pembukaan rute ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas udara Jawa Barat setelah Bandara Husein kembali aktif melayani pesawat jet. Dengan adanya penerbangan langsung, waktu tempuh Bandung-Pontianak bisa dipangkas signifikan menjadi 8 jam 55 menit saja, membuka peluang baru baik untuk wisata, kunjungan keluarga, maupun urusan bisnis antara kedua wilayah yang sebelumnya jarang terhubung secara langsung.
Bandara Husein Sastranegara resmi kembali melayani penerbangan pesawat jet berbadan sedang mulai 14 Agustus 2026, setelah pengelola memenuhi seluruh aspek kesiapan operasional yang disyaratkan Kementerian Perhubungan, mulai dari keamanan, keselamatan, hingga kepatuhan regulasi penerbangan. Penerbangan jet pertama yang mendarat setelah reaktivasi adalah rute Bandung-Denpasar dengan armada Boeing 737-800NG. Tak lama setelah itu, jaringan rute dari bandara ini terus diperluas, termasuk penerbangan langsung ke Pontianak. Ke depannya, Bandara Husein juga ditargetkan melayani penerbangan internasional mulai Oktober 2026, dengan Singapura dan Malaysia sebagai dua tujuan yang sudah dipastikan masuk rencana. Lokasinya yang berada tak jauh dari pusat Kota Bandung menjadikan bandara ini titik keberangkatan yang praktis bagi wisatawan maupun pelaku bisnis.
Setelah menempuh penerbangan langsung, pesawat akan mendarat di Bandar Udara Internasional Supadio berkode IATA PNK, yang terletak di Kabupaten Kubu Raya, sekitar 17 kilometer di sebelah selatan pusat Kota Pontianak. Bandara ini dikelola oleh jajaran InJourney Airports (sebelumnya Angkasa Pura II) dan memiliki luas area sekitar 528 hektare dengan landas pacu sepanjang 2.600 meter, cukup panjang untuk melayani pesawat berbadan sedang sekelas Boeing 737-800 dan Airbus A320. Sebagai bandara terbesar dan tersibuk di Kalimantan Barat, Supadio berfungsi sebagai gerbang utama bagi siapa pun yang ingin menjelajahi wilayah ini, baik untuk keperluan wisata ke Pontianak sendiri maupun sebagai titik transit menuju kota-kota lain di sekitarnya seperti Singkawang dan Ketapang.
Jarak sekitar 17 kilometer antara Bandara Supadio dan pusat Kota Pontianak biasanya dapat ditempuh dalam waktu 30 hingga 45 menit berkendara, tergantung kondisi lalu lintas dan cuaca. Pilihan transportasi dari bandara cukup beragam, mulai dari taksi resmi, layanan transportasi daring, hingga mobil sewaan yang bisa dipesan langsung di area kedatangan. Karena Pontianak belum memiliki jalur kereta atau transportasi massal cepat yang terhubung langsung ke bandara, disarankan untuk memesan transportasi lebih awal, terutama jika tiba pada malam hari atau di luar jam operasional angkutan umum. Total waktu perjalanan dari Bandung dengan penerbangan langsung 8 jam 55 menit, ditambah waktu transit ke pusat kota, membuat perjalanan ke Pontianak kini jauh lebih efisien dibanding rute dengan transit sebelumnya.
Harga tiket pesawat Bandung-Pontianak mulai dari Rp 3.454.100, dengan variasi tergantung waktu pemesanan, hari keberangkatan, dan musim liburan. Karena rute ini masih baru dibuka, frekuensi penerbangan pada tahap awal cenderung terbatas dan akan disesuaikan dengan permintaan pasar, sehingga harga tiket bisa lebih fluktuatif dibanding rute-rute yang sudah lama berjalan. Untuk mendapatkan harga terbaik, sebaiknya pesan tiket lebih awal begitu jadwal penerbangan dirilis, bandingkan harga di beberapa tanggal berdekatan lewat kalender harga, dan hindari memesan mendekati musim liburan sekolah atau libur panjang nasional. Memantau notifikasi harga tiket secara berkala di aplikasi Traveloka juga bisa membantu menemukan promo atau penurunan harga sebelum tanggal keberangkatan yang diinginkan.
Pontianak dikenal luas sebagai Kota Khatulistiwa karena wilayahnya terletak tepat di garis lintang nol derajat, garis imajiner yang membelah bumi menjadi belahan utara dan selatan. Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak menjadi salah satu dari sedikit kota besar di dunia yang benar-benar dilintasi garis khatulistiwa secara harfiah, bukan hanya berada di dekatnya. Julukan ini bukan sekadar simbol geografis, tetapi juga identitas yang melekat kuat pada kota ini, mulai dari nama monumen, ikon wisata, hingga berbagai fenomena alam unik yang hanya bisa disaksikan di titik-titik tertentu di sepanjang garis khatulistiwa. Bagi wisatawan yang baru pertama kali berkunjung, keunikan posisi geografis ini menjadi salah satu alasan utama untuk menjadikan Pontianak sebagai destinasi yang layak dijelajahi lebih dalam.
Tugu Khatulistiwa adalah monumen paling terkenal di Pontianak, terletak sekitar 3 kilometer di sebelah utara pusat kota, tepat di titik nol derajat lintang. Lokasi ini pertama kali ditandai oleh tim geografer Belanda pada 1928 dengan sebuah tugu kayu sederhana bertanda arah utara. Monumen ini kemudian dibangun ulang secara lebih permanen pada tahun-tahun berikutnya hingga menjadi bentuknya yang dikenal sekarang. Bagi wisatawan, Tugu Khatulistiwa menjadi spot foto wajib karena pengunjung bisa berdiri tepat di garis pembatas antara belahan bumi utara dan selatan sekaligus mendapatkan sertifikat sebagai bukti telah mengunjungi titik nol derajat. Area sekitar monumen juga dilengkapi taman kecil dan pusat informasi yang menjelaskan fenomena-fenomena unik terkait posisi geografis Pontianak.
Salah satu fenomena paling menarik yang berkaitan dengan posisi Pontianak di garis khatulistiwa adalah kulminasi matahari, yaitu momen ketika matahari berada tepat di atas kepala sehingga benda-benda yang berdiri tegak tidak menampakkan bayangan sama sekali. Fenomena ini hanya terjadi dua kali dalam setahun, sekitar tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September, bertepatan dengan titik balik matahari melintasi garis lintang nol derajat. Momen ini biasanya menjadi perhatian khusus warga lokal maupun wisatawan yang datang langsung ke Tugu Khatulistiwa untuk menyaksikan sekaligus mendokumentasikan keunikan tersebut. Jika waktu perjalanan bisa disesuaikan, mengunjungi Pontianak pada periode ini akan memberikan pengalaman tambahan yang sulit ditemukan di kota lain di Indonesia.
Sungai Kapuas membentang sepanjang sekitar 1.143 kilometer dari Pegunungan Muller di pedalaman Kalimantan Barat hingga bermuara di Selat Karimata dekat Kota Pontianak, menjadikannya sungai terpanjang di Indonesia. Sungai ini memiliki lebih dari 33 anak sungai dan menjadi habitat bagi lebih dari 250 spesies ikan air tawar, termasuk ikan arwana yang bernilai tinggi. Bagi Kota Pontianak, Sungai Kapuas bukan sekadar pemandangan, melainkan urat nadi kehidupan yang masih digunakan sebagai jalur transportasi air hingga kini. Wisatawan dapat menikmati keindahan sungai ini melalui berbagai cara, mulai dari menyusuri tepiannya dengan berjalan kaki, menyeberang menggunakan perahu tradisional, hingga mengikuti wisata susur sungai menggunakan kapal wisata pada sore atau malam hari.
Taman Alun-Alun Kapuas adalah salah satu ruang publik favorit di Pontianak, terletak persis di tepian Sungai Kapuas dengan luas sekitar 3 hektare. Taman ini dilengkapi air mancur, replika Tugu Khatulistiwa berskala kecil, area bermain anak, jalur jogging, dan berbagai warung kuliner di sekitarnya. Aktivitas paling populer di sini adalah naik kapal wisata yang beroperasi setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WIB dengan tarif yang cukup terjangkau, membawa penumpang menyusuri Sungai Kapuas sambil menikmati pemandangan lampu kota dan perahu nelayan yang melintas. Suasana malam di taman ini menjadi momen yang pas untuk bersantai setelah seharian menjelajahi tempat wisata lain di Pontianak.
Istana Kadriah dan Masjid Jami berdiri sebagai dua penanda awal berdirinya Kota Pontianak, terletak di kawasan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Istana Kadriah dibangun sejak 1771 sebagai istana Kesultanan Pontianak dan masih berdiri kokoh hingga sekarang dengan arsitektur kayu khas yang banyak menggunakan warna kuning keemasan. Tak jauh dari istana, Masjid Jami berdiri sebagai salah satu masjid tertua di kota ini, dibangun pada masa kepemimpinan sultan ketiga Kesultanan Pontianak. Kedua bangunan ini masih aktif digunakan hingga kini dan menjadi destinasi wisata sejarah yang populer bagi pengunjung yang ingin memahami akar berdirinya Kota Pontianak, sekaligus menikmati arsitektur tradisional yang masih terjaga di tepian sungai.
Rumah Radakng adalah rumah panjang berukuran raksasa dengan panjang sekitar 138 meter dan lebar 5 meter, tercatat sebagai rumah adat terpanjang di Indonesia. Terletak di Jalan Sutan Syahrir, kawasan ini kerap menjadi lokasi pertunjukan seni tradisional dan festival budaya, serta dilengkapi kios-kios yang menjual replika miniatur rumah adat sebagai cendera mata. Tidak jauh dari sana, Museum Negeri Pontianak menyimpan koleksi keramik kuno dari berbagai era, termasuk artefak yang ditemukan dari kapal-kapal karam di perairan Laut Cina Selatan, lengkap dengan replika rumah panjang dan miniatur istana di area luar gedung utamanya. Kedua tempat ini menjadi pilihan tepat bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam kekayaan budaya dan sejarah Kalimantan Barat dalam satu kunjungan singkat.
Pontianak memiliki kekayaan kuliner khas yang sulit ditemukan di kota lain. Chai kwe adalah dumpling berkulit tipis dari tepung beras dengan isian sayuran seperti bengkuang, kucai, atau talas, biasa disantap hangat dengan cocolan saus cabai encer yang sedikit asam dan pedas. Hidangan lain yang wajib dicoba adalah bubur pedas, yaitu bubur berbahan dasar pucuk pakis, kangkung, daun kesum, dan lengkuas yang dimasak kaya rempah, kemudian disajikan bersama kacang tanah, ikan teri, dan taburan bawang goreng. Meski namanya bubur pedas, rasa yang dominan justru gurih dan kaya rempah, bukan pedas menyengat. Kedua hidangan ini bisa ditemukan dengan mudah di warung-warung kaki lima maupun pasar tradisional di berbagai penjuru Kota Pontianak.
Sebelum meninggalkan Pontianak, ada beberapa oleh-oleh khas yang sayang untuk dilewatkan, seperti amplang (kerupuk ikan renyah), kain tenun corak insang (kain tradisional bermotif sisik ikan), kue bingka (kue manis bertekstur lembut), lempok durian (dodol durian pekat), dan miniatur Rumah Radakng sebagai cendera mata unik. Sebagian besar oleh-oleh ini bisa didapatkan di toko pusat oleh-oleh maupun pasar tradisional di pusat kota, sehingga mudah dijangkau sebelum jadwal penerbangan pulang.
Untuk berkeliling Kota Pontianak, wisatawan memiliki beberapa pilihan transportasi. Angkutan kota atau yang biasa disebut oplet tersedia di hampir seluruh penjuru kota dengan tarif berkisar Rp3.000 hingga Rp7.000 tergantung jarak tempuh. Selain itu, layanan ojek online seperti Gojek dan Grab sudah tersedia di Pontianak sejak pertengahan 2017 dan menjadi pilihan praktis untuk jarak dekat maupun menengah. Untuk menyeberangi Sungai Kapuas, wisatawan bisa menggunakan perahu tambang tradisional dengan tarif sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per orang, atau kapal roro dari dermaga penyeberangan Siantan yang menempuh waktu sekitar 10 menit. Kombinasi berbagai moda transportasi ini membuat eksplorasi Kota Pontianak, termasuk menyeberang ke kawasan seberang sungai, tetap mudah dilakukan tanpa kendaraan pribadi.
Sebagai kota yang berada tepat di garis khatulistiwa, Pontianak memiliki iklim tropis yang panas dan lembap sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata berkisar 25 hingga 33 derajat Celsius dan curah hujan yang cukup tinggi di berbagai bulan. Musim kemarau yang jatuh sekitar Juni hingga September umumnya dianggap sebagai waktu paling nyaman untuk berkunjung, terutama untuk aktivitas luar ruangan seperti menjelajahi pasar tradisional atau menyusuri Sungai Kapuas dengan perahu. Sebagian sumber lokal juga menyebut periode Februari-April dan Juli-September sebagai waktu yang relatif lebih kering. Karena kelembapan udara di Pontianak cenderung tinggi, disiapkan pakaian yang nyaman dan ringan, serta membawa payung atau jas hujan tetap disarankan kapan pun waktu kunjungan dipilih.
Bagi yang punya waktu lebih, Pontianak bisa menjadi titik awal untuk menjelajahi Singkawang, kota yang dijuluki Kota Seribu Kelenteng dan terkenal dengan perayaan Cap Go Meh yang meriah. Festival ini digelar pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, ditandai dengan parade budaya di jalan-jalan utama kota yang memadukan unsur budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu dalam satu rangkaian perayaan. Dari Bandara Supadio atau pusat Kota Pontianak, Singkawang dapat dijangkau melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam menggunakan taksi, bus wisata, atau mobil sewaan. Bagi wisatawan yang jadwal kunjungannya bertepatan dengan musim Cap Go Meh, menambahkan Singkawang ke dalam itinerary bisa menjadi pengalaman budaya tambahan yang sangat berkesan.
Keunikan lain dari Pontianak adalah posisinya yang relatif dekat dengan perbatasan negara, menjadikannya titik awal populer untuk perjalanan darat ke Kuching, Sarawak, Malaysia. Perjalanan ini biasanya ditempuh melalui pos lintas batas di Entikong, Kabupaten Sanggau, dengan waktu tempuh total sekitar 8 hingga 12 jam menggunakan bus lintas negara yang berangkat dari Terminal Internasional Ambawang di Kabupaten Kubu Raya. Selama perjalanan, penumpang akan melalui dua tahap pemeriksaan, yaitu pemeriksaan keimigrasian Indonesia dan Malaysia di titik perbatasan. Bagi wisatawan yang ingin menggabungkan kunjungan ke Pontianak dengan perjalanan lintas negara, rute darat via Entikong ini menjadi alternatif menarik dibanding harus mencari penerbangan internasional terpisah.
Bagi pencinta alam dan satwa liar, Kalimantan Barat juga menyimpan Taman Nasional Gunung Palung yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kawasan konservasi ini menjadi rumah bagi sekitar 2.000 hingga 3.000 individu orangutan liar, selain berbagai satwa langka lain seperti bekantan dan burung rangkong. Untuk menjangkau kawasan ini dari Pontianak, wisatawan umumnya perlu melanjutkan perjalanan udara singkat ke Ketapang, kemudian dilanjutkan dengan moda transportasi darat dan perahu menuju area taman nasional. Perjalanan ini memang membutuhkan waktu dan perencanaan ekstra, sehingga lebih cocok bagi wisatawan yang memiliki waktu luang lebih panjang dan tertarik pada wisata konservasi serta pengamatan satwa liar di habitat aslinya.
Beberapa tips praktis sebelum berangkat ke Pontianak dari Bandung: pesan tiket pesawat dan transportasi dari bandara sekaligus melalui aplikasi Traveloka agar perjalanan lebih praktis; pantau kalender harga tiket secara berkala karena frekuensi penerbangan rute baru ini masih dapat berubah menyesuaikan permintaan; siapkan pakaian ringan dan perlengkapan anti hujan mengingat iklim tropis lembap Pontianak sepanjang tahun; konfirmasi metode transportasi dari Bandara Supadio ke pusat kota sebelum tiba, mengingat belum ada transportasi massal cepat yang terhubung langsung; dan pertimbangkan menambah hari kunjungan jika ingin memperluas perjalanan ke Singkawang, Kuching, atau Taman Nasional Gunung Palung. Dengan perencanaan yang matang, penerbangan langsung Bandung-Pontianak yang baru dibuka ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menjelajahi Kota Khatulistiwa dan sekitarnya.
Lama Penerbangan | 8 jam 55 menit |
Bandara di Bandung | |
Bandara di Pontianak |



