
1 jam, 10 menit
Maskapai | Jadwal Berangkat | Jadwal Tiba | Bandara Asal | Bandara Tujuan | |
|---|---|---|---|---|---|
Susi Air | 12.30 | 13.40 | Batam (BTH) | Rengat (RGT) | Pesan Sekarang |
Belum ada. Penumpang perlu transit di Pekanbaru (PKU) sebelum melanjutkan dengan Susi Air menuju Rengat.
Sekitar 1 jam 10 menit, dioperasikan oleh Susi Air menggunakan pesawat berbadan kecil.
Bandara Japura, berkode RGT, berlokasi di Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, telah beroperasi sejak 1952.
Kerajaan yang didirikan pada 1298 dan menjadikan Rengat sebagai pusat pemerintahannya sejak sekitar abad ke-18 hingga awal abad ke-19, berakhir pada 1945.
Pasukan khusus Belanda melakukan kekerasan dan eksekusi terhadap warga Rengat pada 5 Januari 1949 di tengah Agresi Militer Belanda II, peristiwa yang diperingati setiap tahun.
Danau Raja, danau bersejarah di pusat kota yang dahulu menjadi tempat pemandian keluarga Kesultanan Indragiri.
Kedondong, yang diabadikan lewat menara jam berbentuk buah kedondong di kawasan pasar pusat kota.
Cari rute Batam ke Rengat di aplikasi Traveloka untuk melihat kombinasi jadwal transit via Pekanbaru yang tersedia dalam satu pemesanan.
Belum ada penerbangan langsung dari Batam ke Rengat. Penumpang harus transit terlebih dahulu di Pekanbaru (PKU), sebelum melanjutkan penerbangan menuju Rengat dengan Susi Air yang menempuh waktu sekitar 1 jam 10 menit untuk segmen ini. Rengat, ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu di Provinsi Riau, dahulu adalah pusat pemerintahan Kesultanan Indragiri yang berusia ratusan tahun, dan kini dikenal sebagai kota kecil di tepi Sungai Indragiri dengan kedondong sebagai buah khasnya.
Karena melibatkan dua ruas penerbangan yang harus dijumlahkan -- Batam-Pekanbaru lalu Pekanbaru-Rengat -- total tarif ke kota kecil ini biasanya lebih tinggi dibanding rute Batam yang sudah dilayani penerbangan langsung, terutama mengingat segmen kedua dilayani pesawat berbadan kecil dengan kapasitas terbatas. Traveloka menggabungkan pencarian kedua ruas ini dalam satu tampilan, memudahkan calon penumpang membandingkan kombinasi jadwal tanpa harus mengecek dua sistem pemesanan terpisah.
Permintaan menuju Rengat relatif stabil sepanjang tahun dibanding destinasi wisata besar, mengingat sebagian besar penumpangnya adalah warga lokal, pekerja, atau kerabat yang mengunjungi keluarga di Indragiri Hulu. Meski demikian, kapasitas terbatas pada segmen Pekanbaru-Rengat membuat kursi cenderung lebih cepat terisi menjelang periode mudik Lebaran atau libur panjang, sehingga memesan tiket lebih awal pada periode tersebut tetap disarankan.
Penerbangan nonstop Batam-Pekanbaru tersedia beberapa kali sehari, memberi cukup banyak pilihan jam keberangkatan dari Bandara Hang Nadim. Setibanya di Pekanbaru, penumpang melanjutkan perjalanan dengan Susi Air menuju Bandara Japura di Rengat, segmen yang menempuh waktu sekitar 1 jam 10 menit. Karena frekuensi penerbangan pada segmen kedua ini tidak sepadat rute-rute utama, penting untuk memeriksa jadwal ketersediaan sebelum menentukan waktu transit yang wajar di Pekanbaru.
Susi Air mengoperasikan segmen Pekanbaru-Rengat menggunakan pesawat berbadan kecil yang umum digunakan untuk melayani rute-rute jarak pendek ke wilayah dengan landasan pacu terbatas seperti Bandara Japura. Jenis pesawat semacam ini memang menjadi andalan di banyak rute regional Sumatra yang belum ramai penumpang, termasuk beberapa rute yang secara historis pernah menjadi bagian dari program penerbangan perintis pemerintah untuk menjangkau daerah yang sulit dilayani maskapai bertubuh lebih besar. Kapasitas kursi yang terbatas pada pesawat jenis ini membuat jadwal keberangkatannya juga lebih jarang dibanding rute-rute utama Sumatra lainnya. Meski jadwalnya tidak sepadat penerbangan dengan pesawat jet, keberadaan layanan ini tetap menjadi penghubung udara yang penting bagi warga Rengat yang ingin bepergian tanpa harus menempuh perjalanan darat yang lebih panjang menuju Pekanbaru.
Rengat adalah kota kecil dengan volume penumpang yang jauh lebih terbatas dibanding kota-kota besar Sumatra, sehingga permintaan langsung dari Batam belum cukup besar untuk membuka rute nonstop. Landasan pacu Bandara Japura yang berukuran sekitar 1.400 meter juga membatasi jenis pesawat yang bisa mendarat, sehingga transit lewat Pekanbaru dengan pesawat kecil seperti yang dioperasikan Susi Air tetap menjadi cara paling praktis untuk mencapai kota ini lewat jalur udara. Pola ini serupa dengan sejumlah kota kecil lain di Sumatra yang mengandalkan Pekanbaru sebagai simpul transit utama sebelum melanjutkan ke bandara-bandara berlandasan pacu pendek. Karakteristik ini juga umum ditemui pada kota-kota kabupaten kecil lain di Pulau Sumatra, yang lebih mengandalkan penerbangan perintis berkapasitas kecil dibanding rute komersial reguler berbadan besar.
Perjalanan menuju Rengat dimulai dari Bandara Hang Nadim, sekitar 22 kilometer dari pusat Kota Batam, dengan waktu tempuh sekitar 20 hingga 35 menit dari kawasan seperti Nagoya atau Batam Center. Karena rute ini melanjutkan penerbangan dengan transit di Pekanbaru, memberi jeda waktu ekstra sebelum jadwal keberangkatan tetap disarankan. Akses ke bandara tersedia lewat taksi, aplikasi transportasi daring, maupun bus Damri yang melayani beberapa titik penjemputan di kota.
Bandara Japura, yang berkode RGT, berlokasi di Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, dan telah beroperasi sejak 1952. Landasan pacunya sepanjang sekitar 1.400 meter dengan permukaan aspal, ukuran yang cukup untuk pesawat kecil seperti yang dioperasikan Susi Air namun membatasi jenis pesawat berbadan lebih besar yang bisa mendarat di sini. Bandara ini menjadi satu-satunya pintu masuk udara menuju Rengat dan sekitarnya, melayani penumpang yang datang untuk urusan pemerintahan, bisnis, maupun mengunjungi keluarga.
Baik ruas Batam-Pekanbaru maupun Pekanbaru-Rengat pada rute ini hanya tersedia dalam kelas ekonomi. Pesawat kecil yang dioperasikan Susi Air pada segmen kedua umumnya tidak menawarkan pembagian kelas kabin sama sekali, mengikuti karakteristik pesawat regional berkapasitas terbatas yang memang dirancang untuk penerbangan jarak pendek ke wilayah dengan infrastruktur bandara yang lebih sederhana.
Kesultanan Indragiri didirikan pada 1298 oleh Raja Merlang I, seorang pangeran dari Kerajaan Malaka, dengan nama yang berasal dari gabungan kata Sanskerta "Indera" (raja) dan "Giri" (bukit). Pada awalnya kerajaan ini bercorak Hindu-Buddha, sebelum berangsur memeluk Islam pada abad ke-14 di bawah pengaruh Malaka, Samudera Pasai, dan Aceh. Istana pertamanya berada di Pekan Tua, yang kini dikenal sebagai Kota Lama, sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Rengat pada masa Sultan Ibrahim, sultan ke-18, sekitar abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Kesultanan ini berakhir pada 1945 setelah 647 tahun berdiri, dengan sultan terakhir, Sultan Mahmud yang hidup antara 1912 hingga 1963, kelak menyandang pangkat kehormatan Mayor TNI. Karena banyaknya keturunan bangsawan yang masih menetap di kota ini, Rengat dijuluki "Kota Raja" oleh penduduk setempat. Wilayah kekuasaan kesultanan ini pada masa kejayaannya mencakup wilayah yang kini terbagi menjadi dua kabupaten berbeda, yaitu Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir, mencerminkan luasnya pengaruh kerajaan ini di sepanjang aliran Sungai Indragiri.
Pada 5 Januari 1949, di tengah Agresi Militer Belanda II, pasukan khusus Belanda dari Korps Speciale Troepen yang berjumlah sekitar 180 orang di bawah pimpinan Letnan Rudy de Mey melakukan penjarahan, kekerasan, dan eksekusi terhadap anggota TNI, pegawai pemerintahan, dan warga sipil di Rengat, dengan sejumlah jenazah dibuang ke Sungai Indragiri. Jumlah korban masih menjadi perdebatan -- catatan resmi Belanda menyebut 80 orang tewas, sementara catatan sejarah lisan Indonesia menyebut angka antara 1.500 hingga 2.600 orang. Salah satu korban adalah Toeloes, bupati Indragiri saat itu, yang juga merupakan ayah dari penyair terkenal Indonesia, Chairil Anwar. Peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Rengat atau "Rengat Berdarah" ini diperingati setiap tahun oleh masyarakat dan pemerintah kabupaten pada tanggal 5 Januari.
Danau Raja, danau di pusat Kota Rengat, dahulu menjadi tempat pemandian keluarga Kesultanan Indragiri dan kini menjadi kawasan wisata utama kota ini, berdekatan dengan replika kompleks istana kesultanan yang dibangun untuk mengenang sejarah tersebut. Danau ini juga dikenal lewat cerita rakyat setempat tentang seorang putri bernama Bunga Harum, meski kisah tersebut lebih dikenal sebagai legenda turun-temurun ketimbang catatan sejarah yang terverifikasi. Di sekitar pusat kota, dua jembatan yang melintasi Sungai Indragiri menghubungkan kedua sisi Rengat, sementara moda transportasi becak dengan desain roda samping yang khas masih menjadi pemandangan umum di jalanan kota. Kawasan ini juga kerap menjadi lokasi kegiatan warga setempat, mulai dari bersantai di sore hari hingga acara-acara komunitas yang diadakan di sekitar tepian danau.
Rengat terletak di tepi Sungai Indragiri, yang sejak masa kesultanan menjadi jalur transportasi utama penghubung wilayah pedalaman dengan kawasan pesisir. Kecamatan Rengat sendiri memiliki luas sekitar 836 kilometer persegi dengan populasi sekitar 50 ribu jiwa, sementara Kabupaten Indragiri Hulu secara keseluruhan mencakup lebih dari 8.100 kilometer persegi dengan populasi sekitar 482 ribu jiwa. Perkebunan karet dan kelapa sawit menjadi tulang punggung ekonomi kabupaten ini, didukung pula oleh hasil buah tropis musiman seperti manggis, rambutan, durian, duku, dan lengkeng. Kedondong menjadi buah yang paling identik dengan Rengat, ditandai dengan sebuah menara jam berukir bentuk buah kedondong yang berdiri di kawasan pasar pusat kota, dan kerap diolah menjadi rujak maupun manisan oleh penduduk setempat. Di sejumlah kecamatan bagian selatan kabupaten, komunitas adat Talang Mamak masih menjaga tradisi dan kearifan lokal mereka di tengah perubahan zaman. Penduduk Rengat didominasi etnis Melayu, berpadu dengan warga pendatang dari suku Minang, Jawa, Batak, Banjar, dan Bugis yang turut menetap di kota ini selama beberapa generasi. Islam dianut oleh mayoritas besar penduduk, tercatat lebih dari 96 persen di Kecamatan Rengat dan sekitar 90 persen di seluruh Kabupaten Indragiri Hulu.
KTP atau identitas resmi lain sudah cukup untuk penerbangan domestik ini, tanpa memerlukan paspor maupun visa. Karena segmen Pekanbaru-Rengat dilayani pesawat kecil dengan kapasitas terbatas, memesan tiket lebih awal terutama pada musim ramai akan mengurangi risiko kehabisan kursi, dan sebaiknya membawa bagasi seringkas mungkin mengingat keterbatasan kapasitas kargo pada pesawat jenis ini. Bagi yang mengunjungi kerabat atau berkeperluan dinas di Rengat, menyiapkan transportasi lanjutan dari Bandara Japura juga perlu diperhitungkan karena pilihan transportasi umum di kota kecil ini tidak seramai kota besar. Karena fasilitas publik di kota kecil ini masih terbatas dibanding kota besar, menyiapkan rencana penginapan dan transportasi lokal sejak sebelum keberangkatan akan membuat perjalanan lebih lancar.
Rengat hanyalah satu dari banyak kota kecil di Sumatra yang bisa dijangkau lewat transit dari Batam. Berbagai pilihan kota tujuan lain dari Bandara Hang Nadim dapat dijelajahi lebih lanjut di halaman Indonesia milik Traveloka.
Memesan rute bertransit seperti Batam-Rengat lebih praktis lewat Traveloka karena kedua ruas penerbangan, termasuk segmen kecil yang dioperasikan Susi Air, bisa dicari dan dipesan dalam satu transaksi. Fitur Price Alert membantu memantau perubahan harga sebelum tanggal pemesanan diputuskan, sementara Easy Reschedule memberi keleluasaan jika salah satu jadwal penerbangan berubah. Setelah tiket pesawat didapat, penginapan di Pekanbaru maupun Rengat juga bisa langsung dipesan dari aplikasi yang sama untuk melengkapi rencana perjalanan.
Lama Penerbangan | 1 jam 10 menit |
Bandara di Batam | |
Bandara di Rengat |



