
Kalau kamu mengira candi-candi bercorak Buddha hanya ada di Jawa, coba tengok ke pedalaman Sumatra Utara. Di tepi Sungai Barumun, tersembunyi sebuah kompleks percandian yang oleh masyarakat setempat disebut Biaro Sipamutung, atau lebih dikenal luas dengan nama Candi Sipamutung. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Pannai, kerajaan bercorak Buddhis yang berjaya di pesisir timur Sumatra Utara sekitar abad ke-11 hingga ke-14.
Berbeda dari Candi Wringin Branjang atau Candi Sumberjati di Blitar yang berlatar Hindu-Majapahit, Candi Sipamutung membawa nuansa berbeda: arsitektur bata merah khas Sumatra dan jejak ajaran Buddha yang jarang dijumpai wisatawan Jawa. Perjalanan menuju candi ini pun jadi bagian dari petualangan tersendiri, lengkap dengan jembatan gantung yang harus dilewati sebelum sampai ke kompleks candinya.
Baca Juga: 10 Permainan Tradisional Sumatera Utara
Candi Sipamutung diperkirakan berdiri pada abad ke-11 sebagai bagian dari kompleks percandian Kerajaan Pannai, salah satu kerajaan Buddhis yang berpusat di wilayah Padang Lawas. Oleh masyarakat lokal, situs ini sering disebut Biaro, sebagaimana tercantum dalam Prasasti Sitopayan. Kompleks Candi Sipamutung sendiri menjadi salah satu peninggalan yang paling menonjol di antara gugusan percandian Padang Lawas.
Penelitian terhadap situs ini sudah berlangsung sejak masa kolonial. Pada tahun 1854, von Rosenberg menemukan beberapa fragmen arca di kawasan ini, salah satunya arca Buddha yang kini disimpan di Museum Nasional Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1930, arkeolog Bosch menulis tentang Padang Lawas dan mengajukan teori bahwa masyarakat pendukung candi-candi di kawasan ini pada masa Kerajaan Pannai menganut aliran Buddha Wajrayana. Penelitian lebih lanjut terus dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan hingga saat ini, khususnya terkait aspek lingkungan dan latar belakang pemilihan lokasi kompleks percandian.
Wed, 14 Oct 2026

Batik Air Malaysia
Jakarta (CGK) ke Medan (KNO)
Mulai dari Rp 1.191.029
Mon, 28 Sep 2026

Lion Air
Batam (BTH) ke Medan (KNO)
Mulai dari Rp 1.040.300
Tue, 29 Sep 2026

AirAsia Indonesia
Penang (PEN) ke Medan (KNO)
Mulai dari Rp 440.100
Di antara candi-candi lain yang tersebar di Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara, yang umumnya bercorak Hindu, Candi Sipamutung dianggap sebagai satu-satunya kompleks yang didirikan oleh umat Buddha dan paling megah di antaranya. Selain nilai arkeologisnya, situs ini juga memiliki makna kultural bagi masyarakat Batak Angkola di Desa Siparau, di mana keberadaannya turut menjadi simbol harmonisasi sosial-keagamaan antara komunitas Buddha dan Islam yang tinggal berdampingan di kawasan ini hingga sekarang.
Secara administratif, Candi Sipamutung terletak di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatra Utara. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Sibuhuan, ibu kota Kabupaten Padang Lawas, sekitar 70 kilometer dari Kota Padangsidimpuan, dan kurang lebih 400 kilometer dari Medan, ibu kota Provinsi Sumatra Utara.
Perjalanan menuju lokasi candi ini membutuhkan sedikit usaha ekstra. Jalan aspal hanya tersedia sampai Desa Binanga, setelah itu kamu perlu melanjutkan perjalanan melewati jalan desa sepanjang sekitar tiga kilometer, kemudian meniti jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Barumun. Kompleks candi berjarak sekitar 250 meter dari pinggir aliran sungai tersebut. Karena rute yang cukup menantang ini, disarankan untuk menggunakan kendaraan double gardan atau ojek lokal, serta menyiapkan waktu perjalanan lebih panjang dari Padangsidimpuan maupun Sibuhuan.
Sebagai situs cagar budaya yang berada di pedalaman Padang Lawas, Candi Sipamutung umumnya terbuka untuk dikunjungi setiap hari pada jam-jam terang tanpa tiket masuk resmi. Karena kondisi ini bisa berubah tergantung kebijakan pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan setempat, ada baiknya kamu menghubungi kantor desa atau dinas pariwisata Kabupaten Padang Lawas untuk informasi terbaru sebelum berangkat.
Fasilitas di sekitar candi masih sangat minim mengingat lokasinya yang cukup terpencil, belum ada warung permanen, toilet umum, maupun area parkir resmi di dekat kompleks candi. Siapkan bekal makanan, air minum, dan perlengkapan pribadi lain secukupnya sebelum menuju lokasi, terutama karena kamu perlu berjalan kaki melewati jembatan gantung untuk mencapainya.
Bangunan utama kompleks ini berupa biaro induk yang menghadap ke timur dengan denah bujur sangkar berukuran sekitar 11 x 11 meter dan tinggi mencapai 13 meter. Bangunan ini terdiri atas bagian kaki, badan, dan atap, menampilkan skala yang jauh lebih besar dibanding candi-candi lain di kawasan Padang Lawas.
Di kedua sisi biaro induk, terdapat beberapa biaro perwara atau candi pendamping berukuran lebih kecil. Salah satu biaro perwara di sisi timur berbentuk mandapa dengan denah segi empat berukuran sekitar 10,25 x 9,9 meter dan tinggi 1,15 meter, menambah kesan kompleks percandian yang terencana dengan matang.
Kompleks candi seluas sekitar 6.000 meter persegi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter dengan pintu masuk sejenis gapura. Beberapa kalangan menduga area yang lebih luas di sekitarnya, diperkirakan mencapai 100 hektare, dulunya merupakan bekas benteng yang sekaligus berfungsi sebagai tempat pemujaan, ditandai dengan sisa dinding tanah dan parit pembatas yang mengelilingi kompleks.
Selain mengagumi arsitektur bata merah khas Kerajaan Pannai, perjalanan menuju candi ini sendiri sudah jadi petualangan tersendiri, mulai dari menyusuri jalan desa hingga meniti jembatan gantung di atas Sungai Barumun. Momen ini sangat sayang dilewatkan begitu saja tanpa kamera, apalagi pemandangan perbukitan rendah yang mengelilingi kompleks candi menambah suasana syahdu khas pedalaman Sumatra. Kamu juga bisa berinteraksi dengan masyarakat Batak Angkola di Desa Siparau untuk belajar lebih jauh tentang bagaimana situs ini menjadi bagian dari identitas budaya mereka hingga kini.
● Gunakan kendaraan yang sesuai dengan medan pedesaan, terutama saat musim hujan karena akses jalan desa bisa cukup menantang.
● Ajak pemandu atau warga lokal yang paham medan, terutama saat menyeberangi jembatan gantung.
● Bawa bekal makanan dan air minum yang cukup karena fasilitas di sekitar candi masih terbatas.
● Rencanakan waktu tempuh yang cukup panjang dari Padangsidimpuan atau Sibuhuan, sebaiknya berangkat pagi hari.
● Hormati nilai spiritual situs ini bagi masyarakat sekitar, termasuk saat berfoto atau menjelajahi area candi.
Karena fasilitas penginapan di Sibuhuan maupun sekitar Padang Lawas masih sangat terbatas, Kota Padangsidimpuan yang berjarak sekitar 70 kilometer menjadi basecamp paling nyaman untuk menginap sebelum atau sesudah mengunjungi Candi Sipamutung. Berikut rekomendasi hotelnya yang bisa kamu pesan di area perkotaan.
Hotel Mutiara Padangsidimpuan murupakan hotel populer di Padang Sidempuan Selatan. Hotel ini memiliki fasilitas lengkap, mulai dari restoran, lift, dan resepsionis 24 jam, cocok sebagai basecamp menuju Padang Lawas.
Mega Permata Hotel menjadi salah satu hotel dengan rating tinggi di Padang Sidempuan. Lokasinya strategis, dekat dengan landmark kota seperti Taman Kota Salak dan Bukit Teletubies.
Pilihan ramah keluarga dengan konsep syariah, Hotel Natama Syariah dilengkapi restoran dan resepsionis 24 jam di kawasan Padang Sidempuan Selatan.
Pia Hotel Padangsidimpuan merupakan penginapan dengan tarif bersahabat. Hotel ini cocok untuk kamu yang ingin menghemat budget penginapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Padang Lawas.
Collection O 91373 M Hotel bisa menjadi alternatif akomodasi ekonomis lainnya di Padang Sidempuan. Lokasinya yang cukup strategis membuatnya menjadi tempat penginapan dengan akses terbaik ke berbagai penjuru kota.
*Perlu diketahui bahwa seluruh harga yang tertera di atas dapat berubah sewaktu-waktu tergantung musim, ketersediaan kamar, dan kebijakan masing-masing hotel.
Berkunjung ke Candi Sipamutung bukan sekadar wisata sejarah biasa, tapi juga petualangan menembus pedalaman Sumatra Utara yang jarang dijamah wisatawan. Supaya perjalananmu ke Padang Lawas lebih matang, urus dulu tiket dan penginapan dari jauh-jauh hari.
Manfaatkan Traveloka untuk mencari tiket pesawat menuju Bandara Sibisa atau Kualanamu sebagai pintu masuk ke Sumatra Utara, pesan hotel di Padangsidimpuan sebagai basecamp, atau cek tiket bus & shuttle untuk perjalanan darat lintas kota. Cek juga Promo BCA biar ekspedisi sejarahmu ke Padang Lawas makin hemat.










